Muslim Produktif [Review Buku]
Selama KKN teman-teman banyak yang bawa buku-buku bagus. Salah satunya adalah “Muslim Produktif”. Alhamdulillaah (special thanks to A.F. Suyadi teknik bioenergi kemurgi itb 2015 udah ngerelain bukunya kutilep tiap eval). Tulisan ini diambil dari beberapa poin yang menurut saya cukup ngena (ke saya), tapi sayangnya belum tamat baca. oke. here we go
1. Tiga Unsur Produktivitas
Menjadi seorang yang produktif, itu berarti harus memiliki 3 unsur yaitu: Fokus, Energi, dan Waktu. Namun unsur-unsur tersebut tidak akan berguna jika tidak memiliki tujuan yang bermanfaat. Sehingga rumus produktif adalah: Fokus x Energi x Waktu (untuk Tujuan yang Bermanfaat). Bagaimana jika tidak memenuhi salah satu unsur tersebut?
a. (+) Fokus ; (+) Waktu ; (-) Energi
dengan energi yang minim, kita akan merasa kelelahan meski kita merasa telah fokus dan waktunya banyak. Untuk itu, jangan skip makan dan istirahat yang cukup, serta recharge semangat dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang disukai secukupnya.
b. (-) Fokus ; (+) Waktu ; (+) Energi
dalam keadaan seperti ini, konsentrasi kita akan terus-menerus terganggu. Mengerjakan tugas tidak bisa fokus dalam satu hal saja, tetapi akan lompat dari satu tugas ke tugas lain sehingga tidak bisa untuk menyelesaikan tugas yang sedang dihadapi. Tetapi sepengamatan saya, ada sebagian orang yang memang kurang bisa untuk terus fokus pada satu hal, jadi jika keadaannya seperti itu, meski lompat-lompat ngerjain tugas, kita harus memiliki target yang jelas untuk tiap tugas tersebut.
c. (+) Fokus ; (-) Waktu ; (+) Energi
Tidak akan bisa produktif.
Melihat kondisi diatas, merasa sedang tidak produktif, makan yang harus dipertanyakan adalah: lagi lesu? tidak fokus? atau sedang terburu-buru?
2. Produktif Tidak Sama dengan Sibuk
Menjadi produktif berarti dapat mengetahui kapan harus bersenang-senang, kapan harus bekerja keras. Kapan harus rileks, kapan harus bersikap serius. Dan yang paling penting adalah kita tidak bisa selalu menjadi produktif.
3. Tentang Puasa dan Hubungannya dengan Produktivitas
Riset terbaru tentang manfaat puasa yang dilakukan berdasarkan diet (pola makan) dengan puasa selama dua hari dikemukakan oleh Michael Mosley, “Pola makan tersebut menggambarkan bahwa para responden makan sebagaimana biasa makanan yang mereka konsumsi selama lima hari setiap pekan dan kemudian mengonsumsi seperempat dari jumlah kalori normal mereka — sekitar 500 bagi wanita dan 600 bagi pria”. Hasilnya? Mereka berhasil menurunkan berat badan dan mengurangi risiko diabetes, penyakit jantung, dan demensia (menurunnya kemampuan intelektual dan memori karena rusaknya neuron dalam otak).
4. Pandangan Islam terhadap Produktivitas
Sayangnya, kita hidup di mana umat muslimin, bahkan mempraktikkan konsep “memandang rendah dunia” sebagai alasan untuk tidak menjadi penduduk dunia yang produktif. Setiap kali kita memberi tahu seseorang muslim betapa umat lain terus melangkah maju dan mempertanyakan mengapa kita tidak memimpin dalam berbagai bidang kehidupan, mereka menjawab, “oh, biarkan saja mereka mendapat dunia, kita yang akan mendapatkan akhirat”, seolah-olah keduanya tidak berkaitan.
Dunia ini adalah ladang untuk mendapatkan akhirat. Disinilah tempat kita menanam amal kebaikan kita dan memajukan masyarakat dengan harapan mendapatkan balasan di dunia ini dan di hari kemudian. Dua dunia ini sangat berkaitan.
Jujur setelah baca buku ini, bikin kita jadi berpikir panjang. Apakah umur yang telah diberi, telah dimanfaatkan sebaik-sebaiknya? Apakah dengan raga ini, banyak jiwa yang turut merasakan kebermanfaatannya?
Salam,
Jatinangor, 8 Agustus 2017
Ditulis karena sedang berusaha agar kehadirannya tidak sama dengan ketidakhadirannya.
