sumber: whytoread.com

Buku Buku yang Tersesat

Setiap dini hari, aku mendengar suara berbisik di kamarku. Awalnya kukira aku bermimpi, ternyata bukan. Suara itu berasal dari buku-buku di meja, rak, dan tas di kamarku. “Aku tersesat,” kata mereka pelan, menyakitkan.

Minggu lalu saat aku mengunjungi seorang temanku yang kerjanya setiap hari jualan buku online di daerah Jalan Kaliurang, aku mendengar sebuah cerita. Ia baru saja membeli 4 kardus buku seharga lima ratus ribu. Bagaimana bisa? Kataku tak percaya. Jelas aku tak percaya, 4 kardus buku itu isinya buku bagus semua dan buku-buku lawas. Ada buku Kuda Terbang Maria Pinto milik Linda Christanty, ada beberapa tulisan Agus Noor, karya terjemahan, kalau tidak salah Norwegian Wood juga ada, dan beberapa tentang filsafat. Sialan betul, kenapa bukan aku yang dapat keberuntungan semacam ini.

“Ini buku ibu kos yang jual, Nafil. Ada anak UGM yang kos di tempat dia, beberapa bulan nggak muncul, nggak bayar kos, terus dijuallah buku-buku ini sama ibu kos itu,” cerita dia dengan logat Bone yang kental.

Sialan betul!

Begitulah nasib-nasib buku yang tersesat, mereka harus menunggu di kamar yang tak terurus, berbulan-bulan, sebelum kemudian memutuskan untuk dijual oleh si ibu kos. Mencoba peruntungan baru, siapa tahu dibeli orang yang tepat.

Waktu jualan buku di daerah Pakem, Kaliurang, beberapa bulan yang lalu di sebuah acara (aku lupa, seperti acara pergerakan anak muda tapi yang datang banyak bapak-bapak juga), aku juga mendengar cerita. Seorang bapak mendekatiku, menanyakan buku-buku yang aku jual. Ia membeli sebuah buku, kemudian bercerita.

“Dulu aku juga punya buku-buku sejarah, banyak sekali, bahkan aku punya yang masih dalam bahasa Belanda. Mungkin ada dua lemari yang cukup besar. Waktu aku pindah ke Yogyakarta, buku-buku itu aku simpan di lemari kayu. Istriku sudah sering mengingatkan untuk memindah buku-buku itu, tapi aku terus menunda. Sampai suatu hari dua tahun setelah aku pindah, ketika mau aku rapikan, aku kaget sekali, ternyata mereka dimakan rayap. Rusak semua bukuku, hampir sebulan rasanya makan tak enak, sedih sekali, itu buku mendapatkannya dengan perjuangan. Butuh puluhan tahun untuk mengoleksi buku sebanyak itu, padahal tadinya aku berharap anak-anakku bisa tahu jejak buku yang dipelajari bapaknya, eh malah rusah semua, ra kalap,” cerita dia panjang lebar.

Lagi, sialan betul!

Buku-buku tersesat itu memutuskan bersatu dengan rayap. Kasihan betul buku-buku itu. Mereka harus berdiam di dalam lemari selama dua tahun, tidak menikmati fungsi mereka sebetulnya untuk dibaca. Kemudian mereka berubah pikiran, bukan dibaca manusia tugasku, tapi mengenyangkan rayap. Siapa yang salah? Coba tanya saja pada rumput yang bergoyang!

Aku jadi ingat ribuan buku milik Muhammad Yamin yang terpaksa dijual oleh Siti Sundari, istrinya, karena urusan ekonomi pada Pertamina. Di mana ribuan buku itu sekarang? Mungkinkah mereka tersesat? Atau menemukan jalan menuju kebenaran hidup sebagai buku?

Buku-buku tersesat harus menentukan nasib mereka sendiri. Buku-buku di perpustakaan yang tak terawat, di kamar-kamar kos yang berantakan, atau di rumah-rumah mewah yang dijadikan pajangan, mungkin juga di kardus-kardus di sampingmu berada sekarang. Mereka bisa memutuskan apa saja, entah menjadi kertas pembungkus tempe, bersatu dengan api, mengenyangkan rayap, atau bersabar dan menemukan pemilik baru.

Nah, kembali pada buku tersesat di kamarku. Buku-buku yang aku beli dan belum juga aku baca. Mereka mulai berpikir untuk menentukan nasib mereka sendiri. Duh, aku harus segera membujuk mereka dulu sebelum mereka memutuskan untuk dicolong temanku.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nafilah’s story.