Reza Artamevia dari sepasang telinga

foto: Youtube

Reza Artamevia mungkin tak pernah seterkenal Krisdayanti atau Titi DJ. Reza hadir dari pintu lain, dia ada di antara semilir angin. Bukan sebagai pintu utama yang dituju banyak orang. Tapi, bagi sebagian orang Reza Artamevia itu luar biasa, bagiku salah satunya.

Seperti Reza atau banyak musisi lainnya, ia dikenal lewat karya. Reza suka menyanyi sejak kecil. Pernah jadi penyanyi latar Dewa 19 sebelum berkarya solo. Bagiku Reza itu luar biasa karena membuatku tak peduli dengan kehidup pribadinya. Sama sekali. Reza adalah Reza, bukan Krisdayanti apalagi Awkarin.

Kemudian, Reza kini lebih dikenal lantaran polemiknya daripada lagu-lagunya. Produktivitas Reza memang tak sesubur penyanyi hits lainnya. Hingga kini ia hanya menelurkan lima album. Seret sekali rasanya. Album terakhirnya dirilis tahun 2009, berarti sudah tujuh tahun Reza puasa menelurkan album.

Di tengah puasa melahirkan album tersebut, Reza justru diterpa gosip panas. Aa Gatot, yang sejak munculnya dulu memang sudah nggak jelas motivasinya sepertinya menjadi badai untuk kehidupan Reza. Tapi, Reza, bukanlah Krisdayanti atau Awkarin. Maka kehidupannya tidaklah begitu penting bagiku.

Di antara berita-berita seputar Reza yang terus berkembang, pesta seks, pesta sabu, dan lain-lainnya, saya teringat dengan seorang teman yang sangat menggilai Reza. Dia gemar mendengarkan lagu-lagu Reza, semua lagu Reza dia suka. Reza itu suaranya khas, Raisa nggak tandingannya lah. Selalu begitu menurutnya. Ketika aku tanya, apakah dia tetap suka Reza dengan semua prahara hidup Reza, dia menjawab dengan enteng.

“Nggak penting amat sih,” jawabnya singkat.

Reza bukanlah Krisdayanti atau Awkarin. Kenal Awkarin? Selebgram milenial. Dia lahir dari kesibukan membagikan aktivitas keseharian yang penuh drama. Dulu waktu kecil aku juga seperti Awkarin, membayangkan kehidupanku seperti dalam sinetron lalu drama luar biasa. Dunia berkembang cepat, maka imajinasi ala sinetron itu pun kini bisa divisualkan.

Seperti kata Fyodor Dostoyevski dalam “Catatan Bawah Tanah” bahwa perkembangan peradaban kerap kali membuat sesuatu menjadi semakin mengerikan. Berpikir demi keuntungan diri sendiri membuat seseorang merasa berbudi baik.

Like what you read? Give Nafilah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.