Di Suatu Pagi

foto: Favim

Saya sangat jauh. Di sini. Di jarak yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Denganmu. Saya benar-benar jauh. Sesekali saya menoleh ke belakang dengan perasaan yang entah. Ibu bilang, apapun yang terjadi waktu tak mau mengerti.

Saya terlalu jauh. Di dunia yang sangat berbeda. Denganmu. Ibu bilang, kadang kita bisa lupa pada mimpi pertama setelah mimpi kedua datang. Tapi, ibu lupa tak bilang kalau ada mimpi yang terus melekat.

Saya berjalan terlalu jauh. Tanpa terasa. Tanpamu. Suatu pagi saya bangun dengan sangat kaget. Rasanya sangat merasa asing dengan wajah di kaca yang setiap hari saya lihat. Hari ini wajah itu berbeda, berubah.

Mata siapa di wajah itu yang menatapku marah?

Ibu bilang, saya terlalu banyak bicara. Ibu tak tahu, bagaimana kepalaku tak mampu menanggung kegelisahanku. Tapi, ibu bilang saya harus diam maka saya belajar menulis. Tapi aku tetap gelisah.

Ah, saya sudah terlalu jauh entah di mana. Tanpamu. Dunia ini terasa asing. Angin yang kuhirup lain. Mata-mata yang saya tatap berbeda.

Saya tak tahu di mana dan ke mana saya harus pergi?

Like what you read? Give Nafilah a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.