Benarkah Energi Manusia Menyerap Satu Sama Lain?

Ayo move on!

Sabtu lalu saya bertemu dengan teman yang pernah menjadi asisten market research di Boston Consulting Group. Kami bertemu untuk membuat proposal program yang diajukan untuk acara di Brussels. Terakhir bertemu dengannya mungkin sekitar setengah tahun yang lalu saat dia datang ke sidang tugas akhir.

Pertemuan ini menjadi penting selain karena ingin menyelesaikan proposal, “menghilangnya” dia selama itu ternyata membawa cerita pengalamannya yang bisa membuat saya lebih bersyukur sekaligus memotivasi.

Bahwa selama jangka waktu itu dia mencari apa arti tujuan hidup — dengan mencoba lebih sering berolahraga pagi dan mencari solusi masalah yang mungkin sudah terbilang berat bagi seumuran kami. Ia bercerita dengan tulus bagaimana ia mau bangkit kembali dari kegagalannya yang lalu, sehingga terlihat dari bahasa tubuhnya mencerminkan aura optimis.

Setelah ia bercerita, saya mencoba merefleksikan apa yang baru saja dia sampaikan. Seketika mendapat benang merahnya, seakan semangat ceritanya menginspirasi saya untuk berkarya lebih baik lagi.

“Mungkin mulai dari sinilah energi positif itu menular.
Mungkin dari itulah silaturahim menjadi penting, entah dimulai dari keluarga, pengajian, seminar, konferensi, ataupun workshop — dengan memiliki tujuan yang saling membangun.”

Setelah sebelumnya saya mengalami ketidakpercayaan pada diri sendiri pasca restrukturisasi teknis manajemen proyek yang menghabiskan “energi” tidak sedikit.

Energi optimis itu bisa dibentuk

Ketika melihat ketidakpastian di depan, cobalah refleksikan kembali ke dalam diri, apakah lingkungan kita selama ini sudah sehat? Energi yang baik terbentuk pada lingungan yang baik pula. Lingkungan ini lebih kepada behaviour kita sehari-hari.

Tim peneliti bidang biologi dari Bielefeld University menemukan penemuan yang luar biasa memperlihatkan bahwa tumbuhan yang berfotosintesis bisa mengambil sumber energi alternatif dari tumbuhan lainnya. Dan kabar baiknya, penelitian ini tampaknya berlaku bagi manusia.

Mari cek timeline Facebook, LINE, dan portal berita yang sering kita konsumsi, apakah kita bisa merasakan perbedaan ketika mengkonsumsi antara informasi yang provokatif dan inspiratif yang ada di layar gadget?

Mana informasi yang lebih membuat kita menjadi lebih rileks dalam berinteraksi dan merespon akan sesuatu? Kita bisa menentukannya sendiri. Garbage in, garbage out.

Kemudian, perhatikan lingkungan pertemanan.

“Perhatikan lima sahabat dekatmu, seakan kamu bisa melihat masa depanmu. Pahitnya, pepatah ini bukanlah basa-basi.”

Ketika sahabat kita melaukan kebaikan, energi itu akan menular. Paling tidak ada perasaan ingin melakukan hal yang sama. Pernyataan ini pun berlaku sebaliknya.

Dan terakhir, sesekali cobalah untuk membuat proyek sosial atau tergabung dalam volunteerism (sukarelawan). Banyak sekali platform yang sekarang bisa dijadikan acuan untuk berbuat kebaikan, diantaranya kitabisa.com dan indorelawan.org. Sayang sekali jika energi kita dihabiskan untuk aksi-aksi yang belum tentu jelas tujuannya bukan?

Para leadership dunia kini sedang menghadapi VUCA World, yaitu Volatile, Uncertain, Complex and Ambiguous. Harvard Business Review sudah membahas ini sejak tahun 2014 (bahkan ada yang menulisnya sejak tahun 2012). Hingga kini VUCA masih terjadi dalam skala global.

Ketidakpastian ekonomi dan sosial global saat ini, yang bisa saja naik dan turun dalam waktu sekejap, juga mempengaruhi dunia bisnis, membutuhkan lebih banyak doers daripda commentator.

Semakin banyak keterlibatan pemuda dalam kegiatan positif, maka proyeksi World Economic Forum untuk Indonesia sebagai negara dengan ekonomi kelima terbesar di dunia pada 2030 bisa menjadi kenyataan.

“Tetaplah menjadi baik. Jika beruntung, kamu akan menemukan orang baik. Jika tidak, kamu akan ditemukan orang baik.”
Like what you read? Give Nafi Putrawan a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.