Infinite pool Marina Bay Sands, Singapore

Cara Kolaborasi Singapura

Hari Minggu biasanya saya mengisi waktu dengan membaca artikel atau buku yang di bookmark saat tidak bisa membacanya di hari biasa karena kesibukan. Namun pada hari Minggu kemarin ada indirect-partner datang dari Singapura untuk meeting sehingga saya harus meluncur ke Hotel Grand Sahid.

Ia adalah salah satu investor properti di Marina Bay Sands yang sedang membawa partnernya ke Jakarta untuk melihat ekspansi bisnis disini. Ia sudah sering datang berkali-kali ke Indonesia, bukan untuk properti melainkan mencari peluang bisnis teknologi informasi dan alat kebutuhan rumah tangga. Indonesia memang sangat seksi untuk Singapura, dibandingkan satu dekade lalu. Diantaranya karena program infrastruktur pemerintah berjalan dengan baik, termasuk ekspansi pelabuhan dan bandara sebagai jantung utama logistik perdagangan internasional.

Ketika informasi keterbukaan rekening di running pada 2018, maka dana WNI yang terparkir di Singapura akan bisa dilacak siapa yang laporan tax amnestynya tidak sesuai atau bahkan belum melapor sama sekali. Pemerintah akan menindak tegas. Disini Singapura tidak bisa berbuat banyak, karena itulah salah satu sumber dana yang bisa diputar untuk kemajuan negara mereka. Tax Haven. Masih ingat dengan peristiwa tahun 2016 ketika bank-bank di Singapura mencoba menghalangi nasabah Indonesia untuk menarik dananya dari sana, saat Sri Mulyani memulai program tax amnesty?

Hal ini yang membuat Singapura terus mencari alternatif lain untuk kemajuan negaranya, salah satunya membuat bisnis dengan ceruk pasar di negara dengan populasi terbesar di ASEAN. Pada hari itu saya bersama tim menyepakati untuk menjadi supplier dari produk-produk kebutuhan rumah tangga. Mungkin nilai investasinya tidak seberapa, namun cukup untuk membuka lapangan pekerjaan dan peluang karir bagi individu-individu unggul nasional.

Di tengah meeting, salah satu timnya bercerita bagaimana ia mendidik anaknya yang kini mengambil Manajemen Aset. Namun setelah lulus putrinya sangat ingin menjadi arsitek. Kemudian ia menasehati putrinya agar tidak secara langsung kompetisi di ranah arsitektur, dengan menasehati bagaimana para arsitek berjuang dengan tidak tidur, deadline, dsb. Seakan setelah lulus pasarnya diambil oleh orang yang bukan dibidangnya. Opsi yang dia ceritakan ke putrinya saya rasa sangat bijak, sebagai manajer aset ia tetap menjalankan ilmu manajemen aset, namun harus menjembatani para arsitek untuk membuat aset sehingga ia akan berjalan di dua industri yang berbeda sekaligus membangun cita-citanya— manajer aset dan arsitek.

Era kini adalah kolaborasi.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.