
Membidik Indonesia 2030
Sejak menemani delegasi di acara World Islamic Economic Forum (WIEF) 2016 beberapa hari yang lalu, saya rasa ada banyak ide yang perlu disampaikan dalam sebuah tulisan yang diperoleh dari konteks acara dan tokoh-tokoh yang saya temui. Walaupun di sela-sela kesibukan rutinitas kantor, saya mencoba untuk terus melatih menulis supaya logika dan pemikiran bisa terus terasah. Baru di weekend ini saya bisa menyempatkan untuk menulis pengalaman di WIEF 2016.
Bagaimana saya bisa sampai menemani delegasi di WIEF adalah sebuah kejutan. Sore hari tanggal 3 Agustus saya diberitahu oleh teman dari Malaysia sebagai ketua pengurus Majelis Belia Malaysia bahwa ia sedang berada di JCC untuk acara ini. Tanpa berpikir panjang, sepulang kantor saya memutuskan untuk menemuinya untuk sekedar silaturahim. Kapan lagi waktu untuk bertemu dia dengan jarak sedekat Sudirman-Senayan? Setiba di lokasi, beruntungnya saya mendapatkan akses khusus untuk memasuki acara setelah bertemu dengannya dan langusng diperkenalkan oleh kolega dari ASEAN Secretariat, pembicara forum, dan komunitas Internasional di ruangan hall.
WIEF merupakan forum internasional yang dihadiri oleh ratusan delegasi dari berbagai negara maupun bahasan target pasar dan ekonomi muslim dunia. Kurang lebih euphoria dan atmosfir acara sama halnya seperti Konferensi Asia-Afrika tahun lalu, namun bedanya forum ini boleh dihadiri untuk umum.
Dalam tulisan ini saya tidak membahas dari segi bagaimana acara berlangusng dari hari pertama hingga terakhir atau apa saja konten di dalamnya, karena saya rasa itu sudah banyak tersebar di berbagai media. Tulisan ini lebih mengacu kepada diskusi dan ide-ide yang saya dapatkan bersama para delegasi yang berasal dari berbagai negara tentang potensi apa yang bisa Indonesia hasilkan selepas acara WIEF 2016.
Pustakawan Penulis di WIEF 2016
Selesai salah satu rangkaian acara MocaFest, saya bertemu dengan Edrida Pulungan, seorang blogger inspiratif dan penulis yang dapat penghargaan 100 Indonesia Youth Changemakers dari presiden RI, Ir. Joko Widodo.
Beliau mengasuh Yayasannya dalam Lentera Pustaka Indonesia, yang fokus pada pembangunan literasi. Rencana terdekatnya dalam tahun ini adalah membangun perpustakaan dan pusat edukasi di seluruh nusantara. Bagi saya ini akan menjadi sebuah kegiatan yang menarik jika diikuti teman-teman dalam bidang informasi dan edukasi yang dapat berperan sebagai volunteer.
Makan Malam Bersama Pengusaha Furnitur Singapura: Seni Berbisnis dengan Global-Mindset
Kami memutuskan untuk makan malam di Hotel Sultan dengan ditraktir oleh AnnaMaria, salah satu pembicara WIEF yang sedang mengelola Italia Halal Centre. She is very kind. Di sela-sela makan malam, kami bertemu dengan pengusaha furniture asal Singapura yang telah akrab dengan presiden Joko Widodo, Dato’ Haji Zainal Abidin. Ia menjadi pngusaha dan eksportir furniture yang bahkan bahan bakunya berasal dari Surabaya, Jawa Timur. Ia berkata pengusaha harus dapat memanfaatkan peluang produksi dan distribusi, yang juga bisa bermanfaat bagi orang disekitar tempat produksi tersebut.
Bagi beliau, saat ini kompetisi usaha ketika masuk di media sosial dan internet, maka harus bersiap untuk memenuhi permintaan global. Dari manapun orang bisa lihat, pesan, dan bayar barang tanpa harus beranjak. Baginya, ini adalah momen yang tepat yang tidak pernah ada di dekade sebelumnya.
Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan artinya saya sudah tidak memungkinkan untuk ke Stasiun Sudirman mengejar kereta ke arah Depok. Alhasil kami (saya dan teman delegasi dari Malaysia) memutuskan berdiam di lobby hotel Sultan hingga pukul 01.00 sembari menunggu hp kami terisi. Pada akhirnya kami memutuskan untuk tidur di hotel ini. Bukan di kamar, namun di bagian musola hingga subuh (terus checkin di Path “at Hotel Sultan”).
Kejelian untuk Melihat Peluang Indonesia 2030
Pagi hari kami awali dengan “kegiatan subuh” seperti biasa. Hingga menunggu pukul 6.30 dan kemudian kami bersiap menuju lobi hotel untuk menemui seseorang perwakilan dari secretariat ASEAN yang akan membimbing kami dalam acara sekaligus “wejangan” yang beliau berikan pada kami pagi itu. Perbincangan pagi itu bagi saya merupakan golden momen, karena beiau menceritakan berbagai pengalaman yang didapatkannya sebagai penghubung relasi di sekretariat ASEAN.
Keahlian beliau untuk bargaining dengan berbagai macam relasi membuatya terlatih untuk memilah dan memilih siapa saja orang yang memiliki kredibilitas.
Perbincangan selanjutnya tidak jauh membahas bagaimana kredibilitas itu dibangun, diantaranya melalui bantuan kita terhadap orang lain dengan sungguh-sungguh dan ikhlas. Karena beliau ada di penghubung relasi diplomasi, maka jalan yang paling memungkinkan adalah membantu relasinya mendapatkan apa yang mereka membutuhkan dengan jalan konektifitas yang diharapakan dapat bersinergi bersama seperti menghubungkan seller dan buyer, investor, maupun koneksi ke pemerintahan. Diskusi ini mengingatkan kepada saya seorang kolega bisnis yang omsetnya naik hingga 500% dalam tiga tahun terakhir akibat ia melakukan hal yang sama seperti di atas.
Perbincangan selanjutnya dalam bidang perikanan, beliau mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi target utama pasar ikan dunia karena kelangkaan ikan di Samudera Hindia, Laut Australia, dan Laut Pasifik akibat perubahan iklim. Indonesia yang dikelilingi pulau akan lebih disukai ekosistem laut untuk bertahan hidup. Sehingga berbagai negara akan berusaha mencari ikan di wilayah RI, termasuk Natuna dan Indonesia Timur. Dengan kata lain, SDA perikanan akan membuat permintaan meningkat tajam. Jika kapasitas infrastruktur dan SDM nasional tidak terpenuhi, maka bersiaplah mengambil ahli-ahli dari luar negeri (lagi).
Promosi Pariwisata Indonesia untuk Delegasi yang Hadir Masih Mengecewakan
Saat berada di lobi hotel, salah satu council member dari Wakaf Internasional (ICWR), Datuk Dr. Mohammed Ghazali berpamitan untuk penerbangan pagi hari ke Malaysia.
Sebelum pulang ia sempat memberikan saran kepada pengelola event bahwasannya banyak delegasi yang kebingungan untuk mengunjungi tempat-tempat yang potensial di sekitaran Jakarta karena tidak disediakannya peta dan daftar ekshibisi setempat, yang mungkin bisa dihadri oleh para delegasi saat mengisi waktu luangnya dan tentunya bisa jadi sepulang mereka kembali ke negara asalnya akan berkontribusi untuk meingkatkan devisa negara melalui jalan pariwisata.
“Setiap saya ke bandara-bandara dan hotel di dunia, saya melihat berbagai brosur pariwisata, namun disini tidak”, ujarnya.
Terkadang hal sekecil ini kita melupakannya, padahal sebuah “local travel gudelines” bisa berdampak besar.
Dengan adanya peta dan deskripsi tempat-tempat menarik di sekitaran lokasi acara, ia menyampaikan nantinya para delegasi berbagi rezeki kepada para pedagang dan ingin mengetahui seluk-beluk masyarakat Indonesia lebih jauh. Saya merasa tertegun dengan ucapannya kapasitas sebagai pejabat, karena memikirkan bagaimana masyarakat kelas bawah bisa mendapatkan rezeki dan mungkin pekerjaan dari kita menyapanya, dari hal yang sederhana.