Aan Mansyur, Puisi, dan Seorang Perempuan di Dalam Diri Saya

M. Aan Mansyur baru saja mengeluarkan buku kumpulan puisinya berjudul Melihat Api Bekerja. Buku kumpulan puisi ini terdiri atas 54 puisi karya Aan Mansyur. Penulis yang berasal dari Makasar ini menuliskan puisi-puisi bertema sosial, budaya, isu-isu kontemporer, cinta, keluarga, dan yang paling penting Aan menyampaikan keresahan hatinya akan apapun yang ia lihat, dengar dan rasakan.

Melihat api bekerja. Entah mengapa Aan memberikan judul pada kumpulan puisinya Melihat Api Bekerja. Bukankah hal tersebut merupakan hal yang cukup tidak biasa? Jika kebanyakan orang-orang akan berusaha memadamkam api ketika ia tengah melahap apa yang ada di depannya, maka Aan akan duduk manis saja sambil melihat api bekerja. Itu yang saya pikirkan ketika pertama kali mendengar serta membaca judul puisi tersebut. Aan pun membuatnya menjadi judul buku kumpulan puisinya. Saya tidak pernah meragukan puisi. Melalui kumpulan puisi inilah pertama kalinya saya mengenal Aan Mansyur. Dan saya pun tidak meragukan puisi Aan serta Aan.
Saya pikir puisi-puisi di dalam Melihat Api Bekerja akan menguraikan berbagai hal dengan kepadatan kata-kata yang indah seperti yang biasa saya temukan di kebanyakan puisi. Mungkin bisa saya bilang seperti yang pernah saya baca, puisi dari Goenawan Muhammad, Taufiq Ismail, serta Sapardi Djoko Damono, siapa pula yang tidak mengenal penulis puisi Hujan Bulan Juni itu? Namun, apa yang saya temukan pada puisi-puisi Aan adalah tidak sama seperti puisi-puisi dari pengarang yang saya sebutkan tadi. Pada awalnya saya sama sekali tidak memahami maksud dari puisi-puisi Aan. Akan tetapi lama-kelaman saya menjadi paham. Terlebih pada saat saya membaca puisi berjudul Tentang Kebohongan. Agak sedikit terlewat jauh memang.

Aan bukanlah pengarang yang romantis, saya pikir. Jika perempuan seperti saya ini pasti ingin membaca puisi yang romantis dan membuat bibir tersenyum-senyum sendiri. Tapi justru saya tersenyum lebih lebar saat membaca puisi-puisi Aan daripada puisi romantis. Ada suatu kepiluan, sesuatu yang sangat membuat jiwa terpukul, lalu hal tersebut menjadi bahan canda oleh rangkaian kata-kata di dalam puisi Aan. Demikian, bukannya ikut sedih, jadi diam, dan merenung, saya malahan makin tertawa. Bukan karena tidak paham, ya! Melainkan itulah yang saya rasakan, tertuang pada puisi-puisi aneh milik Aan, ada satu taman bermain yang hanya saya dan mungkin Aan sedang bermain di sana. Tidak, saya tidak bisa menggambarkannya secara gamblang. Ini bukan soal saya kehabisan kata, tapi memang seolah tidak ada kata yang pas.

Aan ingin mengajak kita sadar bahwa kita sedang berada dalam penjara perasaan, kungkungan keterikatan zaman yang makin moderen, membuat kita melihat ada tembok Berlin yang terbangun diantara perasaan dan akal kita. Gerusan individualisme, teknologi, dan lainnya yang bersifat dunia adalah tantangan bagi kita. Aan pun ingin kita paham ada sebuah rindu yang tidak akan pernah dipahami oleh seorang anak: rindu yang disulam oleh ibunya di rumah menjadi sapu tangan. Aan ingin kita merasakan sebuah sepi yang dirasakan seorang ayah mengahadapi rutinitasnya. Aan ingin kita bermain, mengurus pekarangan rumah, menyapa tetangga, menyapa ibu, mengobrol dengan ayah, dan hal-hal lainnya yang seolah menjadi remah-remah roti saja belakangan ini. Memang tampak sangat konvensional dan sederhana. Tapi adakah kita setiap hari melakukannya?

Aan juga ingin perempuan menjadi lebih berani, bukan hanya sekadar ingin dimanja dan diperhatikan.
Saya ingin mengajak orang-orang juga membaca buku kumpulan puisi ini. Buku ini ibarat sebuah kota. Kota yang terdapat lintasan rel kereta api yang berputar, memutar, diputar. Meski tidak ada taman bermain, tapi gedung tinggi, jalan yang penuh mobil-bus-angkot-motor-gojek-taksi adalah tempat bermain kita. Melihat dari sisi lain, berekspektasi yang lain.

Seorang perempuan di dalam diri saya yang merupakan perempuan jadi ingin naik biang lala sambil melihat api bekerja.


Kudus, Januari 2016
Nailus Salsabila

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.