Seri Meretas Realitas #1: Tanjung Priok

Seri Meretas Realitas merupakan sebuah rekaman berbentuk tulisan berisi pengalaman penulis berinteraksi dengan beragam lapisan masyarakat terutama masyarakat menengah kebawah. Seri tulisan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan empati penulis serta rekan-rekan di lingkungan penulis berada.

Pada episode pertama, penulis merekam perjalanannya saat berada di Tanjung Priok pada tanggal 18–19 Juni 2017.


Dokumen Pribadi Penulis

Pada malam hari tanggal 17 Juni 2017, saya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta setelah satu minggu sebelumnya mengikuti sebuah simposium dan lomba mengenai digital business di NUS Business School, Singapura.

Malam itu saya telah membuat janji sejak jauh hari dengan salah seorang rekan dari Universitas Indonesia (UI) untuk dapat menginap di asramanya. Nama rekan saya ini adalah Thufa, mahasiswa Ilmu Politik UI angkatan 2014. Dan asramanya berlokasi di Depok yaitu Asrama Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta. Saya pertama kali mengenalnya saat menjadi panitia di The 11th Management’s Event.

Sesampainya di asrama, Thufa mengajak saya makan malam kemudian i’tikaf di Masjid Ukhuwah Islamiyah UI. Di saat menunggu makanan diantarkan hingga dalam perjalanan menuju masjid dengan jalan kaki, kita bercerita banyak hal mengenai kondisi kampus masing-masing hingga kondisi terkini Indonesia. Saya juga menyampaikan padanya bahwa keesokan harinya saya akan pergi ke Tanjung Priok untuk menginap di rumah rekan saya yang lain.

Pada pagi hari tanggal 18 Juni 2017, saya dan Thufa berangkat dari stasiun Universitas Pancasila menuju Tebet dan Jakarta Kota. Thufa memiliki agenda buka bersama alumni rohis SMAN 8 Jakarta sedangkan saya memiliki agenda di Tanjung Priok. Yang melatarbelakangi keinginan saya menginap di Tanjung Priok adalah karena pada keesokan harinya saya harus berada di Kantor Astra International yang mana lokasi keduanya berdekatan.

Di Tanjung Priok saya menginap di rumah Alfath, mahasiswa Ilmu Pemerintahan UGM angkatan 2013. Jam menunjukkan pukul 17.00 saat saya pertama kali sampai di rumahnya. Kebetulan hari itu dia memiliki agenda buka bersama dengan teman-teman sekolah dasar nya. Cukup unik memang sebuah buka bersama dengan teman-teman se-ko-lah-da-sar.

Tanjung Priok adalah daerah dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Beragam kejahatan pernah terjadi disana. Sampah menumpuk. Macet. Lebih kurang seperti itulah persepsi awal saya terhadap Priok. Dan saat saya melihat dan berinteraksi dengan lingkungan disana, ternyata hal ini benar adanya.

Nama acara itu adalah buka bersama, tetapi sudah beberapa teman Alfath makan, minum, bahkan merokok sebelum adzan maghrib. Cukup unik memang. Tidak banyak orang yang datang pada acara buka bersama tersebut. Jumlahnya kurang dari sepuluh apabila saya tidak salah menghitung. Dari sekian orang yang hadir hanya tiga orang yang mengenyam pendidikan tinggi termasuk rekan saya, Alfath.

Mengapa tiba-tiba saya menulis tentang pendidikan? Karena kondisi pendidikan disini kacau, kawan. Apabila ada segmen masyarakat yang memiliki keinginan kuat untuk berpendidikan di tempat lain. Disini, di Priok, keinginan itu bahkan menjadi barang yang langka ditemui. Saya jadi teringat klasifikasi orang berdasarkan self-consciousness nya. Ada orang yang tahu bahwa dia tahu. Ada orang yang tahu bahwa dia tidak tahu. Ada orang yang tidak tahu bahwa dia tahu. Dan ada orang yang tidak tahu bahwa dia tidak tahu! Klasifikasi nomor empat sangat mengerikan!

Obrolan dimulai dari salah seorang rekan bernama Didi yang terlihat (maaf) tidak tertata hidupnya daripada rekan-rekan yang lain. Dia menceritakan pengalamannya saat menjadi anak buah kapal hingga di deportasi karena beberapa hal. Bagaimana dia yang merasa sangat jauh dari Tuhannya merasa sangat dekat ketika hujan badai menghantam kapal dirinya berada. Dia berkata, pada saat-saat seperti itu bukan lagi harta yang ada di kepala manusia melainkan amal perbuatan yang dilakukannya selama di dunia. Dan dia merasa belum cukup. Takut. Dingin. Terombang-ambing. Meja terlempar. Kemudi tak dapat dikemudikan. Suasana hujan badai di tengah samudra begitu menegangkan.

Setelah dideportasi menuju Indonesia karena permasalahan imigrasi, dia kemudian memilih untuk belajar memperbaiki air conditioner (AC). Setelah berbulan-bulan dia belajar, dia di rekrut oleh sebuah perusahaan swasta untuk menjadi tukang yang memperbaiki AC sehari-harinya. Tidak berlangsung dalam waktu yang lama, Didi memutuskan untuk keluar dari perusahaan tersebut. Dia berpikir bahwa dia dapat mendapatkan uang yang lebih banyak apabila membuka jasa reparasi AC sendiri. Tetiba dia mengajukan sebuah pertanyaan, “Tau kalian kenapa perusahaan mau ngerekrut orang kecil ga punya ijazah kayak gua? Karena harga gua dan orang-orang kayak gua lebih murah bro. Punya satu keahlian khusus tanpa sertifikat pendidikan.” Pada detik ini saya mengaguminya. Inilah yang dinamakan universitas kehidupan. Dan sebagai mahasiswa manajemen bisnis, saya membenarkannya. Begitulah memang perusahaan membuat keputusan.

Obrolan berlanjut hingga Didi menanyakan pada Alfath, “Pat, sebetulnya lebih penting mana sih ilmu lapangan sama ilmu yang teori kayak di sekolah-sekolah?” Jawaban dari pertanyaan ini cukup susah. Tentu keduanya dibutuhkan oleh sebuah masyarakat. Tetapi satu hal yang menarik, Didi sempat mengatakan bahwa seseorang yang memahami ilmu teori tidak akan bekerja lebih berat daripada orang yang hanya tahu ilmu lapangan.

Kemudian ada rekan lain yang menyela, “Tetapi ada juga bro ijazah yang sehari jadi. Jadi lo kaga perlu kuliah sarjana empat tahun buat dapet ijazah. Kalo lo mau, bisa ngurus ke gua. Banyak kok PNS yang pake ginian.” Pada titik ini saya terdiam. Menyelam kepada pikiran-pikiran terdalam. Mengaitkan beragam variabel pengalaman-pengalaman sebelum ini. Tentang ujian masuk perguruan tinggi, tentang menuntut ilmu, tentang tingginya biaya pendidikan, segala hal tentang pendidikan. Ada pertanyaan besar dalam benak: bagaimana kondisi pendidikan di negeriku?

Pendidikan. Telah berlembar-lembar mungkin tulisan yang saya baca mengenai pendidikan. Tidak pula saya temui ujung dari permasalahan ini. Politik? Ya, mereka sempat membahas hal ini pula. Apalagi dalam beberapa waktu yang lalu Jakarta menentukan siapa Gubernur yang akan memimpinnya dalam beberapa waktu kedepan. Sekali lagi, Didi memberikan pernyataan yang menarik, “Kalo gua di setiap pemilu selalu golput. Gimana yak, gua ngerasa siapapun orangnya yang jadi kaga ngaruh ke hidup gua. Kerja gua tetep gini. Kaga ada untung ataupun rugi nya kalo gua milih!”

Tiba-tiba saya teringat pelajaran ilmu sosial saat belajar untuk SBMPTN beberapa tahun yang lalu. Tentang teori kontrak sosial yang dikemukakan oleh Rousseau. Bagaimana konsep pemerintah-rakyat menjadi sebuah kebutuhan agar sebuah masyarakat dapat berjalan lebih efektif. Di sisi lain, tentu setiap individu adalah penentu nasib masing-masing. Tetapi, bagaimanapun manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berlepas diri dari pengaruh lingkungan sosial dimana dia berada.

Segala teori bertarung dengan realitas malam itu. Terima kasih Priok karena telah memberi warna dalam lembar pengalaman hidup saya. Saya tidak tahu bagaimana kondisimu sepuluh hingga dua puluh tahun yang akan datang, tetapi satu yang dapat saya pastikan dan akan saya ucapkan untukmu. Sekolah memberikan pelajaran, tetapi jalanan memberikan lebih banyak daripada itu! Sampai jumpa di fase berikutnya, Priok!

Penerbangan Jakarta-Yogyakarta, 19 Juni 2017

A Najmi R