Captain Fantastic : Mengajarkan Kejujuran Sedari Dini

Captain Fantastic

Ada yang sudah pernah nonton film “Captain Fantastic”? Kalau yang belum, jangan bayangkan film ini sebagai film superhero yang bisa terbang atau bikin pingsan monster pakai sekali pukulan. Tapi kalau seorang single parent dengan 6 orang anak bisa dianggap sebagai seorang superhero, maka film ini bisa kita sebut sebagai film superhero juga.

Film ini dijamin bisa bikin kaum orang tua konservatif megap-megap jantungan. Pasalnya, si bapak dalam film ini mendidik anak-anaknya dengan cara yang luar biasa nggak biasa. Mereka tinggal di tengah hutan, literally tengah hutan dan mengandalkan segalanya dari alam. Cara didiknya bisa dibilang cukup ekstrim karena dari usia muda pun sudah ditempa fisik secara keras.

Namanya tinggal di hutan, ya tidak ada pendidikan formal, tidak ada media elektronik sama sekali. Tapi bukan berarti anak-anak ini tidak memiliki pengetahuan yang luas. Akses informasi didapatkan dari buku-buku berat milik bapaknya. Setiap hari masing-masing anak akan membaca beberapa halaman atau beberapa bab buku, dan akan langsung “ujian” dengan menjelaskan lagi apa yang mereka baca menurut pemahaman mereka sendiri.

Sampai disini, saya sudah mulai terkagum-kagum. Sudah mulai berfikir, anak-anak ini butuh ibu baru nggak ya? Ups, jadi lupa kalau ini cuma film.

Tapi, bagian yang paling bikin saya nggumun adalah, si bapak selalu terbuka dan jujur pada anak-anaknya dan tidak membatasi. Jujur dalam hal apapun dan tidak ada hal tabu sama sekali. Contohnya, waktu salah satu anak yang berumur kalau nggak salah 5 tahun nanya soal pemerkosaan, inilah percakapan yang terjadi (diterjemahin ke Bahasa Indonesia aja ya, bahasa Inggrisnya nggak hafal soalnya):

Anak : apa itu pemerkosaan?
Bapak : pemerkosaan adalah ketika orang, biasanya laki-laki memaksa orang lain yang biasanya perempuan untuk melakukan hubungan seksual
Anak : apa itu hubungan seksual?
Bapak : proses ketika laki-laki melakukan penetrasi penisnya ke dalam vagina perempuan
Anak : ewww, kenapa laki-laki memasukkan penisnya ke vagina perempuan?
Bapak : untuk mendapatkan kenikmatan dan melakukan proses reproduksi untuk menghasilkan bayi

Oke, mari kita singkirkan pikiran bahwa penis, vagina dan aktivitas seksual adalah hal yang jorok karena semua hal tersebut cuma jadi jorok kalau ceboknya nggak bersih.

Jawaban si bapak terhadap anak usia 5 tahun mungkin terlalu ekstrim, tapi hal ini membuat saya beropini. Mungkin sebetulnya, orang tua bisa menjawab semua pertanyaan anak secara jujur. Yang jadi masalah hanya bagaimana cara menyampaikannya supaya nggak bikin bingung.

Sehabis nonton film Captain Fantastic, saya yang belum punya anak ini jadi sotoy. Kenapa orang tua lebih suka menjawab pertanyaan anaknya dengan kebohongan hanya karena menganggap “belum waktunya” untuk diberi tahu. Saya pikir kok nggak adil kalau orang tua yang menentukan kapan anak berhak mengetahui kenyataan. Karena penentuan tersebut sebetulnya di-standardisasi atas dasar apa sih?

Di Captain Fantastic, si bapak juga tidak menganggap apapun tabu untuk anak seusia berapa pun. Oke, mungkin ini tidak sepenuhnya bisa dibenarkan, tapi saya kira tetap ada juga sisi positifnya. Si anak bisa jadi lebih terbuka pada orang tuanya dan nggak nggumunan karena segala sesuatu dianggap sebagai hal yang biasa saja.

Satu lagi poin yang menurut saya terbaik dari film Captain Fantastic yaitu cara mereka “merayakan kematian”. Yup, me-ra-ya-kan bukan me-ra-ta-pi. Kematian dirayakan dengan suka cita karena hal tersebut hanya dipandang sebagai matinya tubuh fisik sedangkan jiwa menuju keabadian. Yang ini saya sepakat banget.

Well, setelah nonton film ini jelas saya mupeng, pengen dapet suami yang bisa diajak mendidik anak secara jujur dan santai biar anak-anak kami nanti nggak jadi anak yang nggumunan. Plus biar anak-anak kami nanti cantik dan ganteng kayak Viggo Mortensen. Eits, salah fokus!

Don’t judge a movie by people’s opinions. Coba nonton langsung deh ya film ini biar punya penilaian sendiri. Pastinya ambil yang bagus, buang yang jelek macam prinsip ambil sendal di mesjid.