Lena Cup vs Lily Cup Compact

Tiga bulan terakhir ini, saya mencoba menstrual cup baru saya yang merknya Lena. Berbeda dengan Lily Compact yang saya pakai sebelumnya, Lena berbentuk lonceng dan silikonnya sedikit lebih tebal daripada Lily Compact.

Oke, cerita dari awal ya. Saya membeli Lena Cup ini langsung melalui situs onlinenya yaitu lenacup.com . Pengiriman langsung dari USA, sampai di Jakarta sekitar 3 minggu dan bebas bea cukai jadi langsung diantarkan pak pos di depan pintu rumah. Ongkirnya lumayan mahal, seharga Lena Cup-nya sendiri yaitu US$25, jadi kalau mau hemat mending ajakin temen buat beli bareng-bareng supaya ongkirnya bisa dibagi rame-rame. Oh iya, bentuk Lena juga sama seperti Diva, jadi kalau tidak mau kena ongkir mahal, mungkin kamu bisa coba dulu beli Diva Cup karena di Indonesia sudah ada yang jual. Googling & cari di Instagram sendiri ya kalau minat.

Lena Cup ini ada yang jenisnya reguler dan sensitif. Masing-masing hanya ada 2 ukuran yaitu besar & kecil. Warna yang reguler macam-macam sedangkan yang sensitif warnanya hanya putih. Yang saya beli adalah Lena Cup reguler ukuran kecil warna tosca.

Untuk yang belum baca tulisan saya yang sebelumnya tentang menstrual cup, saya jelaskan lagi sedikit ya. Mengenai ukuran, standarnya memang hanya ada 2 ukuran yaitu besar & kecil. Ukuran besar untuk yang pernah melahirkan secara normal, ukuran kecil untuk yang belum pernah melahirkan secara normal.

Back to main topic, setelah 3 periode menstruasi memakai Lena Cup, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Lily Compact. Bukan berarti karena Lena tidak bagus ya, setiap orang mungkin punya preference masing-masing.

Lena Cup Small vs Lily Cup Compact Size A (Small). Sumber Gambar : Google

Jika dibandingkan dengan Lily Compact, Lena Cup sebetulnya nyaman digunakan saat hari pertama dan kedua saat darah sedang banyak-banyaknya. FYI, baik Lena Cup maupun Lili Cup Compact yang saya pakai ukurannya kecil.

Daya tampung Lena maksimalnya bisa sampai 25ml, sedangkan Lily Compact hanya 16ml. Jadi saat hari-hari awal menstruasi, enaknya pakai Lena karena tidak perlu terlalu sering mengosongkan isi cup. Nah, seperti yang saya sebutkan di awal, karena Lena silikonnya sedikit lebih tebal dan tidak dibuat dalam bentuk compact, maka rasanya memang sedikit lebih keras.

Silikon yang agak keras ini ada baiknya juga lho, dipakainya jadi lebih mudah karena nggak gampang mleyot-mleyot (nggak tau apa padanan kata bahasa Indonesia untuk mleyot ini…hehehe). Kekurangannya, yang saya rasakan sendiri adalah rasanya seperti menekan saluran uterus, jadi agak susah saat ingin buang air kecil.

Bentuknya yang seperti lonceng juga membuat saya kurang nyaman saat memakainya. Saya pribadi lebih suka bentuk Lily Compact karena berbentuk seperti terompet dan terasa lebih nyaman saat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Oh iya, untuk proses mengeluarkan yang cukup dramatis itu, Lena lebih unggul. Saat ditarik keluar terasa lebih mudah dan juga tidak terasa sakit. Hal ini merupakan kelebihan dari cup berbentuk lonceng. Karena ujungnya memiliki diameter yang sama dengan bagian atasnya, jadi proses pengeluarannya tidak begitu menimbulkan sensasi “shock” saat sampai di bagian atas.

Pada akhirnya, saya kembali ke Lily Compact dan berharap bisa mencoba Lily reguler untuk selanjutnya. Yang mau tahu lebih detail tentang apa itu menstrual cup, bagaimana cara penggunaannya, berapa harganya di Indonesia, dan lain-lain bisa baca di link ini . Jika ada pertanyaan lain, jangan sungkan-sungkan mengisi kolom komentar ;)