Selamat Tinggal Pembalut!

Akhirnya hari ini saya “mewujudkan mimpi” untuk pakai alat lain selain pembalut ketika lagi dapet. Bukan beralih ke tampon tapi saya beralih ke alat lain yang lebih tidak populer lagi di Indonesia. Namanya “Menstrual Cup”.

Oke, saya akan cerita dari paling awal banget. Pertama kali saya tahu tentang menstrual cup ini adalah dari salah satu selebtube bule yang cukup terkenal di Indonesia, Sacha Stevenson. Dalam salah satu videonya, Sacha menjelaskan soal menstrual cup ini. Masih bisa ditemukan videonya kalau mau nonton langsung di channel youtube Sacha, judul videonya “Jangan pakai softex!”.

Awal nonton itu, sebagai orang Indonesia pada umumnya, saya pun terbengong-bengong nggumun. Memikirkan konsep tampon saja sudah ngeri, apalagi menstrual cup yang bentuknya jauh lebih mengintimidasi.

Tapi, saya tergoda dengan iming-iming, dengan menstrual cup kita nggak perlu nyampah lagi karena nggak perlu buang-buang pembalut atau tampon. Praktis juga dipakainya, gampang bersih-bersihnya dan pastinya bisa tetap berenang selama menstruasi…Wow!

Maka, setelah menonton videonya si Sacha, saya segera mencari lebih banyak informasi tentang menstrual cup (pada waktu itu taunya namanya “Diva Cup” karena memang Sacha menyebutnya “Diva Cup”). Pas cari-cari informasi, cukup kaget karena ternyata si menstrual cup ini punya banyak banget merk, bentuk dan warna. Kalau soal ukuran, standarnya hanya dibuat 2 ukuran, 1 untuk yang pernah melahirkan secara normal, 1 lagi untuk yang belum pernah melahirkan secara normal.

Berbagai bentuk dan merk menstrual cup. Sumber : Google

Konon katanya, menggunakan menstrual cup itu lebih sehat dibanding menggunakan pembalut ataupun tampon karena menstrual cup yang baik dan sudah lolos uji klinis terbuat dari bahan silikon yang ramah bagi tubuh, tanpa tambahan bahan kimia berbahaya. Lebih ramah lingkungan juga karena 1 menstrual cup bisa digunakan berulang-ulang sampai maksimal 10 tahun. Kalau dalam jangka waktu 10 tahun nggak hilang atau nggak pengen ganti, berarti selama 10 tahun nggak perlu keluar uang untuk beli pembalut, tampon ataupun menstrual cup lagi, jadi hemat banget!

Harganya memang tidak bisa dibilang murah. Penjual di Indonesia yang bisa saya temukan menjual merk Lunette Rp475.000, merk Diva Cup seharga Rp550.000, sedangkan merk Ruby Cup harganya Rp548.000 dan merk Me Luna PO seharga Rp355.000/Rp375.000. Mahal ya? Memang terlihat mahal, tapi coba bandingkan dengan harga berbungkus-bungkus pembalut atau tampon yang digunakan selama 10 tahun, mahalan mana coba?

Menurut saya, menstrual cup ini adalah produk yang revolusioner banget! Karena kalau pembalut dan tampon itu konsepnya menyerap cairan, si menstrual cup ini cara kerjanya dengan menampung cairan lalu kita buang saat sudah cukup banyak cairan yang tertampung, menstrual cup dibilas dengan air bersih lalu digunakan untuk menampung lagi.

Jangan takut bau. Penyebab pembalut bau itu karena darah bercampur dengan bahan kimia, keringat, udara lembap dan bakteri. Kalau pakai menstrual cup nggak ada tuh bau nggak sedap karena darah nggak bercampur dengan semua biang bau itu.

Singkat cerita, setelah baca puluhan artikel, nonton puluhan video youtube, baca ratusan komen dan cerita di group FB “menstrual cup worlwide”, akhirnya saya memutuskan untuk beralih menggunakan menstrual cup dan memilih merk Lily Cup, ukuran A, model compact.

Lily Cup Compact Ukuran A. Sumber : Google

Keputusan itu mungkin sudah sekitar setahun yang lalu. Tapi kok baru sekarang terwujud? Ya karena sulitnya mencari si Lily Cup Compact itu tadi. Saya cari di situs online Amazon, tapi tidak ada yang kirim ke Indonesia. Pesan langsung lewat situs resmi Intimina (produsen Lily Cup) juga akhirnya gagal karena nggak bisa kirim ke Indonesia. Cari di Singapore nggak nemu, minta tolong teman yang di Jerman tapi sepertinya dia terlalu sibuk, jadilah patah harapan saya.

Di tengah ke-hampir putus asa-an itu, secara tak terduga saya akhirnya bisa mendapatkan menstrual cup yang saya inginkan. Darimana? Nitip pacarnya teman saya yang lagi mudik ke Swiss. Bukan main senangnya saya ketika kemarin akhirnya bisa pegang si menstrual cup idaman itu di tangan saya. Harga yang saya dapatkan US$55. Dan langsung saya coba walaupun belum menstruasi, dengan harapan pas udah menstruasi saya udah lancar pakainya…hehehe.

Daaaannn tadi pagi, untuk pertama kalinya, saya sangat senang ketika tahu saya menstruasi!

Nggak pakai basa-basi lah, langsung saja saya pakai si menstrual cup impian yang sudah saya nantikan selama hampir setahun itu. Rasanya gimana? Percaya nggak percaya, pas udah di dalam nggak berasa. Pemakaiannya pun ternyata nggak sesulit yang saya bayangkan. Setelah kemarin 2x mencoba, tadi pagi saya sudah lancar memakainya. Bagian tersulit justru pas melepasnya, penuh perjuangan, sampai ngeden-ngeden boooo.

Kendala lainnya, karena saya beli yang compact dengan ukuran kecil, daya tampungnya jadi nggak banyak. Jadi di hari pertama yang lagi banyak-banyaknya ini tadi, dalam 2 jam saja cup saya sudah penuh. Bagusnya sih sebelum penuh sudah dilepas untuk dibuang isinya, dicuci pakai air bersih lalu dipakai lagi. Tapi ya namanya pengalaman pertama, tadi sih sampe tumpeh-tumpeh dikit gitu deh karena belum hafal berapa lama cup bakal penuh.

Dari banyak ulasan yang saya baca dan saya tonton videonya sih, kalau menstrual cup yang bukan bentuk compact, daya tampungnya lebih besar. Bisa dipakai 6–12 jam baru perlu dikosongin lagi. Tapi volume menstruasi tiap orang kan beda-beda, jadi ya lama-lama juga akan terbiasa dan hafal sendiri kapan harus buang isi…hehehe.

Intinya, setelah mencoba pakai menstrual cup, saya siap mengucapkan selamat tinggal pada pembalut. Selamat tinggal pada rasa lembap, gatal dan bau tidak sedap yang menghantui selama menstruasi.

Nggak khawatir juga kalau menstruasi pas jalan-jalan karena nggak perlu lagi bawa-bawa sebungkus pembalut kemana-mana, lebih nyaman juga selama di jalan karena nggak ada lagi rasa lembap di bagian itu tuuu, mau bersih-bersih juga gampang, tinggal lepas (nggak segampang itu juga sih melepasnya…hehehe), bilas trus pakai lagi. Beres!

Buat yang mau coba pakai juga, berhubung harganya nggak bisa dibilang terjangkau pas pertama pembelian, jadi pastikan dulu deh mau pilih yang mana. Baca dan cari informasi dulu sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan mau beli yang mana. Kan sedih kalau udah beli mahal-mahal tapi ternyata kurang sreg.

Oh ya, alasan saya pilih merk Lily ini karena dari banyak review dan perbandingan yang saya tonton di youtube, banyak yang bilang si Lily ini yang paling lembut diantara yang lain silikonnya, jadi saya pikir untuk pemakaian awal, biar nggak kaget cari yang paling lembut dan elastis aja. Ditambah lagi si Lily punya model compact yang bisa dilipat, tempatnya mirip tempat lip balm jadi lebih praktis dibawa kemana-mana.

Untuk yang sudah memutuskan atau masih ragu atau pengen tahu, jangan malu bertanya. I’ll be more than happy to answer your questions ;)

Tambahan : Setelah sekian lama pakai menstrual cup, sekarang saya mulai bisa merasakan kapan cup saya mulai kepenuhan. Biasanya, hal ini ditandai dengan terasa ada udara keluar dari dalam vagina. Kalau sudah begini, bisa dipastikan cup saya sudah kepenuhan. Sedikit tips kalau menggunakan menstrual cup, saat menstruasi sebaiknya kurangi makanan/minuman yang mengandung gas, karena hal ini (menurut pengalaman pribadi) menyebabkan banyak udara di dalam vagina. Jadi menstrual cup jadi lebih cepat kepenuhan, tapi pas kita lepas, banyak gelembung udara di dalam cup. Jadi sebetulnya menstrual cup bisa menampung lebih lama seandainya tidak ada gelembung udara yang memenuhi cup.