1 September 2018
Pagi itu alarmku berbunyi pukul 4.30, namun seperti biasa, aku menghiraukannya dan men-swipe HP untuk mematikan alarm. Aku tidak akan berbohong, aku mbolos salat subuh hari itu. Sabtu itu aku berjanji kepada diri sendiri untuk menjadi produktif dan menyelesaikan buku I think you’ll find it’s a bit more complicated than that oleh Ben Goldacre.
Jam menunjukkan pukul 8.30 pagi. Aku memulai hari dengan membuka LINE di HP untuk melihat kabar apa yang dibawa teman-temanku. Ternyata ada perkumpulan tidak wajib oleh PERCAMA , unit catur ITB. Setelah aku menimbang piihan, aku memilih bahwa I’ve got better things to do. Aku mulai membuka laptop untuk melihat kemajuan tugas rangkuman olahraga yang telah kulakukan di mosoon café. Dengan sedikit editing aku rasa pekerjaan itu sudah siap untuk ditulis tangan. Aku memiliki kebiasaan overthinking ketika dihadapkan dengan sebuah tugas yang aku rasa perlu sedikit digging around dan/atau dihadapkan dengan tugas yang melawan pemikiranku, dan buku olahraga tersebut adalah salah satu dari yang melawan.
Sambil mendengarkan orkestrasi oleh Rush Garcia, arranger youtube yang aku sukai, aku memasuki kamar mandi. Menyalakan shower untuk menguji keadaan air bukanlah hal favoritku, air dingin yang menusuk jari membuatku menarik tangan dan memutar knob ke arah air panas lalu pengujian ke dua selalu membuat jariku tertusuk suhu panas yang dibawa air. Perlu beberapa saat untuk menyesuaikan air to my personal preference — air hangat yang sedikit lebih panas untuk sensasi tajam yang membangunkan neuron-neuron di kulit. Kegiatan mandi berlangsung untuk waktu yang cukup lama, kebiasaan menari dan menirukan suara orkestrasi sulit untuk hilang ketika Anda sudah memulainya.
Saat mencoba meraih handuk, aku sadar bahwa handuk tidakku bawa ke kamar mandi. Daripada mencoba mengambil handuk di luar kamar, aku keluar kamar mandi untuk mengambil handuk di dalam almari. Setelah mengeringkan tubuh dan memakai pakaian, aku mulai membuka tas biola. Rasa gatal di tangan membuatku ingin bermain sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya. Aku pun membuka file holder berisi piece untuk ujian yang telah aku lewati. Mulai dari “Concerto №2” sampai “Concerto №5” oleh Seitz cukup membuat tangan pegal — fyi satu concerto dapat memakan waktu 15 menit. Pegal ini mungkin karena sudah lama aku tidak bermain. Kesibukan mengejar ITB dalam SBMPTN memaksaku untuk tidak bermusik selama enam bulan. Hal ini sangat menyedihkan bagiku, tapi saat itu aku rasa pengorbanan diperlukan. Kemudian, aku beralih ke partitur yang lebih mudah. “12 Easy Duets for two violins” oleh Charles De Beriot, “Je Te Veux” oleh Satie, dll.
Setelah salat zuhur, aku merasakan kantuk yang luarbiasa. Aku memutuskan untuk meminum Nescafe sisa semalam, aku dengar-dengar ada sesuatu yang disebut sebagai “power nap”, ketika Anda meminum kopi lalu tidur selama tiga puluh menit, dan aku ingin mencobanya.
Seperti yang sudah aku prediksi, aku bangun pukul 15.20 — sekitar dua setengah jam setelah tidur — dan merasakan kebencian yang luar biasa. Napping is a bet, they say, antara Anda akan bangun dengan segar atau dengan lesu yang luar biasa. Aku menghubungi Amel, seorang teman dekat, untuk menanyakan tentang perasaan ini. “Mungkin karena hujan,” katanya. Aku setuju sepenuhnya, untuk beberapa saat kita chatting, bertukar informasi tentang bagaimana kabar masing-masing dan Kota Semarang.
Saat sibuk chatting, Papa menelponku, menanyakan tentang rencanaku kembali ke Kota Semarang dan mendiskusikan izin sekolah untuk cap tiga jari di rumah wali kelasku. Papa menyebutkan tentang pentingnya membeli tiket kereta jauh sebelum hari keberangkatan dan bagaimana aku harus mengirim pesan ke Bu Widya. Aku menurut dan mulai menyusun kata kata yang kemudian disempurnakan oleh Papa. Papa adalah seorang penulis yang baik, beliau bekerja di majalah Kreatif di Kota Semarang. Mungkin Papa adalah salah satu motivasiku masuk Persma, selain kesadaran untuk dapat menulis dengan baik.
Tidak terasa, Isya telah datang. Aku langsung mengumpulkan kekuatan untuk mulai mengerjakan tugas olahraga di atas kertas. Aku mengambil kertas folio yang aku simpan di dalam loker, memegang pena di tangan kanan dan penggaris di tangan kiri. Sambil menunggu laptop memuat pekerjaanku, aku menarik napas dalam-dalam dan membuat garis batas di kertas folio. Ketika sudah siap menulis, aku menarik napas dalam-dalam untuk yang kedua kalinya dan mulai menulis. Perasaan ini sudah lama tidak aku rasakan, untuk menghadapi persoalan dengan brute strength, terasa seperti menyelam dengan kepala masuk terlebih dahulu, seperti menginjak tanah dan meretakkan bumi.
Dua halaman pun terselesaikan. Waktu menunjukkan pukul 8.30 malam. Aku rasa hari ini tidak aku berjalan dengan produktifitas yang baik. Walau memang aku menyelesaikan satu atau dua hal, tapi buku yang kujanjikan masih belum selesai. Aku berpikir tentang masih adanya hari minggu untuk digunakan, aku pun memutuskan untuk keluar mencari makanan.
Udara dingin menyusup ke dalam tulang-tulangku, hangatnya kamar karena radiasi panas dari badan yang memanjakan dan melindungi tubuhku dari dinginnya malam, tiba-tiba hilang. Memutuskan untuk naik motor dengan celana pendek bukanlah keputusan yang pintar. Tempat makan yang aku tuju berada sekitar enam ratus meter dari indekosku, berjalan kaki bukanlah pilihan karena aku takut hujan akan berlanjut setelah “iklan berikut ini”. Setelah aku memarkir motor, aku memutuskan untuk duduk sejenak, dekat kompor yang sedang digunakan Pak Nasi Goreng untuk memasak nasi goreng, untuk menghangatkan diri. Saat itu aku melihat tempat cukur yang sedang sepi, pemiliknya duduk di kursi bersama tukang parkir. Mereka berbicara dengan bahasa daerah Bandung, aku tidak dapat mendengar mereka dengan baik. “Eh rambutku juga sudah panjang juga ya,” pikirku. Aku pun memutusan untuk potong rambut di tempat itu. Tukang cukurnya tidak berkata banyak, dia hanya bertanya tentang bagaimana model rambut yang aku inginkan dan apakah aku ingin dipijat. Aku menjawab “Dirapihkan saja Ak, tetapi jangan terlalu pendek, yang penting bisa untuk acara formal.” — Tidak, aku tidak dipijat.
Di tengah-tengah proses pemotongan rambut, hujan turun. Aku berpikir tentang bagaimana aku akan pulang, tentu dengan basah-basahan. Tetapi, aku masih perlu makan, dan aku berpikir huh, I can wait it out. Proses pemotongan pun selesai, ternyata harga rambutku yang terlalu pendek ini 15.000 rupiah. Aku tidak komplain tentang model ini karena memang untuk kegiatan formal dan itu sudah cukup. Aku pun menerabas hujan untuk kembali ke foodcourt lalu memesan nasi goreng dan jus tanpa sedotan — demi kelangsungan hidup bumi, pikirku. Aku tidak sengaja mendengar percakapan sepasang lelaki, mereka berdua saling berhadapan di sebelahku. Mereka berdua dari FTI, pikirku. Pembicaraan itu mengenai mentor dan bagaimana menjalani TPB. Aku rasa orang yang di sebelahku adalah kakak tingkat, sejak awal pembicaraan ia berperan sebagai sumber informasi dan wifi. Andromax, pikirku.
Tidak lama kemudian, aku sadar mereka berdua tahu bahwa aku mendengarkan percakapan, ini terihat dari mata yang menolak keberadaanku. Aku akhirnya mengeluarkan HP untuk mengalihkan perhatianku. Aku membuka Delight Games, aplikasi favoritku ketika SMA, yang berisikan novel interakif. Di aplikasi ini pemain bebas untuk memilih jalan cerita dari peran utama, aku menyadari kepentingan dan keberadaan free will dari game ini. Namun, Anda perlu hati-hati karena beberapa ceritanya mengandung cerita yang heartbreaking bila Anda tidak memilih dengan bijak. Aku mengalami breakdown dan tidak dapat mengerjakan UTS dengan baik ketika hal tersebut terjadi saat SMA.
Makanan akhirnya datang. Aku mengambil waktu dan menikmati kemewahan waktu yang sangat manis. Kemewahan ini jarang sekali dirasakan dan orang-orang sering taking time for granted, and I know better than that. Sambil makan, aku membuat pilihan-pilihan yang sulit di Delight Games. Percakapan dengan children of raskeeth membuatku memilih kata-kata dengan hati-hati, satu kata yang salah dapat membawa kematian dalam game. Jusku habis, aku sadar ini sudah jam 9.30 dan sudah waktunya aku menghabiskan makanan. Dengan dua suapan penuh, aku mengunyah lalu menelan nasi goreng dengan tenggorokan yang seret — tidak lancar. Sesudah membayar kedua penyedia pangan, aku pulang.
Sadar diri akan kegatalan leher karena residu rambut-rambut tajam, aku memutuskan untuk mandi. Tentunya kali ini aku tidak lupa untuk mengambil handuk terlebih dahulu. Shower aku nyalakan dengan tingkat panas yang maksimum dan mulai aku sesuaikan sambil mandi. Mandi kali ini aku buat cepat karena waktu yang sempit dan aku berencana untuk bangun pagi, esoknya. Setelah mengeringkan diri dan mengenakan pakaian, aku memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang di depan kamar dan handuk ke gantungan. Aku pun kembali masuk kamar dan berwudhu untuk salat isya. Beberapa kali aku ragu dengan perhitungan rakaat, tapi aku percaya dengan muscle memory dan get on with it. Setelah melipat sajadah dan sarung, aku mengenakan krim pelembab malam yang dibelikan Mama karena wajahku yang kering, tentu saja. Akhirnya aku men-setting alarm dan mematikan lalu mengisi daya HP.
Kipas angin aku nyalakan dan hadapkan ke atas agar tidak mengenai wajahku secara langsung. Aku memiliki pengalaman buruk dengan kipas angin yang langsung menghadap muka. Tentu saja aku tidak berencana untuk mengulanginya. Setelah aku melipat kursi dan meletakkannya di sebelah meja, aku merapihkan meja dan rak buku demi merasakan kenyamanan dari ruangan yang rapi. Setelah memastikan keamanan kamar dan, anehnya, luar kamar, aku mematikan lampu dan beranjak tidur.
Nanda Yulanda // FTI-G // 16718213
Inilah ceritaku saat tidak mengikuti Osjur Day 1. Saya tidak menyebutkan tentang Osjur Day 1 dalam cerita karena (mohon maaf) saya tidak tahu bahwa kegiatan tersebut diadakan pada 1 September 2018. Maafkan ketidaktahuan saya :), saat itu saya belum masuk grup Ca-Kerabat Persma 18. Mohon dimaklumi.