Movie Review: Demolition (2015)

Film ini ratingnya hanya 7.1 di IMDB, dan yang membuat saya sampai bisa nonton film ini karena Jake Gylenhaal sebagai aktor utamanya. Demolition berdurasi 1 jam 41 menit, dengan pemeran inti Jake sebagai Davis, Julia sebagai istri Davis, Karen sebagai cust.service perusahaan vending machine. Saat nonton saya berulang kali harus menekan tombol pause karena ceritanya cukup membosanka, namun mendekati penghujung film saya mulai menangkap makna dari film tersebut yang cukup dalam.

Demolition menceritakan sepasang suami istri yang bisa dibilang cukup bahagia, namun sebuah kecelakaan harus merenggut nyawa Julia dan sejak saat itu kehidupan Davis berubah. Mendengar kabar kalau Julia telah meninggal saat di rumah sakit, Davis hanya datar tanpa emosi. Tidak menangis, terlihat “ogah-ogahan” sesaat setelah pemakaman Julia, dan tidak ada rasa ingin mengenang kepergian sang istri, Davis justru menulis sebuah surat complain kepada sebuah perusahaan vending machine karena minuman yang tidak mau keluar dari mesin tersebut. Tanpa disadari dalam suratnya Davis menuliskan kisah yang sedang menimpa dirinya, dan Karen yang bekerja sebagai cust.service dalam perusahaan vending machine tersebut tersentuh membaca surat yang dibuat oleh Davis.

Melihat isi surat dari Davis, Karen berinisiatif untuk mengintai Davis guna memastikan ia dalam keadaan baik. Beberapa hari berlalu Davis menyadari bahwa dirinya sedang diawasi, sampai akhirnya ia memergoki Karen, tetapi semenjak saat itu Davis menjadi sangat dekat dengan Karen dan anaknya. Bersama Karen dan anaknya, Chris, Davis berusaha membangun kembali dirinya. Singkat cerita kondisi Davis mencapai puncaknya saat dalam sebuah acara memperingati hari ulang tahun Julia, ia datang bersama dengan Karen dan pada saat itu ia mengatakan kepada ayah Julia kalau sebenarnya ia tidak mencintai putrinya. Kejadian tersebut lantas membuat seluruh orang marah terhadap Davis, sementara ia tetap datar dan seperti layaknya orang mengungkapkan kejujuran. Kejadian pada malam itu membuat Davis merenungkan kembali kata-katanya, flashback-flashback kenangannya bersama Julia pun muncul diingatannya. Davis akhirnya sadar bahwa ia sangat mencintai Julia dan selama ini ia mengalami depresi berat.

Lessons from Movie

Banyak orang yang putus cinta kemudian nangis lalu galau sana dan sini seakan-akan hidupnya tamat. Amat beruntung orang-orang tersebut yang mengetahui alasan mengapa mereka bersedih, tidak seperti Davis yang harus melalui banyak masalah sampai akhirnya sadar bahwa ia sedang depresi. Betapa berharganya sebuah air mata yang keluar, ya kita sedih, tapi setidaknya kita tau untuk apa air mata tersebut keluar, tidak seperti Davis yang bahkan saat kematian istrinya tidak bisa menangis walaupun sudah dipaksa.

Jadi, jangan berlebihan, berbahagialah kita yang masih mengerti perasaan diri sendiri.

Movie Quotes

Repairing the human heart is like repairing an automobile, just examine everything, then you can put it all back together.

If you want to fix something, you have to take everything apart and figure out what is important, what will make you stronger.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.