Sebenarnya apa sih yang dikejar di dalam hidup ini?
Hi kawula muda, tidak terasa sudah cukup lama tidak membuat artikel di medium. Biasanya saya selalu membuat artikel yang terkait dengan hal hal teknis seperti pemrograman, cloud computing ,dan lain sebagainya. Namun setelah beberapa waktu vakum sejenak dikarenakan aktifitas yang membludak, akhirnya sampai juga dititik dimana saya ingin menuangkan apa yang ada di pikiran saya.

Ya betul , judulnya tidak salah. “Sebenarnya apa sih yang kita kejar di dalam hidup ini ?” Setiap hari manusia dari berbagai penjuru dunia seperti ikut dalam lomba “maraton” usia produktif. Entah berlomba mengejar jabatan di perusahaan besar, bisnisman, pengusaha, salesman, loper koran, dan sebagainya. Saling berkompetisi satu sama lain membandingkan harga diri,mengejar uang memperbanyak aset…saling ingin tahu penghasilan sesama teman, saling berinteraksi dan terkadang mengiris hati, “kok dia bisa ya seperti itu” atau “kok aku tidak seberuntung dia”. Bahkan beberapa persahabatan dan hubungan keluarga bisa runyam gara gara saling mengejar dan membandingkan kenikmatan dunia yang semu.
Jangan salah kaprah, penulis bukanlah seorang yang master di bidang kehidupan, atau semacamnya. Penulis juga masih bekerja sebagai seorang kuli biasa. Namun seiring bertambahnya usia, kebijaksanaan dan melihat dengan mata kepala sendiri di lingkungan sekitar , dalam kesendirian terkadang saya merenung dan mungkin artikel ini adalah refleksi transendental. Silahkan diambil positifnya jika bermanfaat.
Apa lagi? Apa yang sepatutnya dikejar? Dunia yang fana ini ? Ya begitulah kenyataannya. Orang mengejar hal hal yang bersifat keduniawian, kehidupan yang fana ini, demi kulit berbalut tulang yang mungkin hanya bertahan selama 80 tahun lamanya di dunia ini. Kita dihadapkan dengan kepalsuan setiap harinya, demi uang aset dan kepuasan duniawi.
1.Pebisnis atau pengusaha pasti ingin menjadi pengusaha sukses hebat
2. Karyawan ingin mengejar pangkat dan gaji besar
3. Ingin menikah seperti pangeran dan ratu di disneyland kalau mungkin sewa gedung termahal.
4. Ingin mempunyai rumah besar dan mobil keren.
5.Ingin mendapatkan proyek yang besar sehingga persentase profit juga besar.
Jika ditelaah secara kasat mata — tidak jauh jauh
- Makanan/Pakaian/Rumah
- Harta/Aset/Uang
- Lifestyle/Gaya/Penampilan
- Jabatan/Aktualisasi Diri/Power
Kita seperti melekat dan dibentuk dalam suatu keadaan yang mengharuskan hidup di alam kepuasan duniawi. Apakah kekayaan tanda kepuasan? Nope..sebagian orang kaya raya yang saya kenal rasanya tidak pernah melihat mereka puas…
Apakah kemiskinan dapat mengikis keserakahan?Tidak lebih baik apalagi jika membandingkan diri anda dengan orang lain. Masalahnya ternyata bukan di uang..tapi di karakter anda..kebijaksanaan anda.
Betapa banyak manusia di muka bumi ini berseteru berebutan harta, saling fitnah antar keluarga gara gara warisan yang bisa dibilang semu, Berapa banyak teman kita yang ingin cepat kaya dan menghalalkan segala cara. Berapa banyak dari keluarga kita yang mengejar nafsu duniawi, meninggalkan keluarganya, demi keserakahan yang mungkin tidak akan dibawa ketika mati nantinya.
Yang tidak ada uang dianggap miskin, dikucilkan, yang punya uang merasa hebat, berkuasa. Apakah hidup senaif itu ?

“Betul — hidup ini perlu uang , untuk apa, untuk makan untuk beli segalanya untuk travelling untuk biaya nikah, dp rumah, angsuran mobil, iphone hingga segala tetek bengek kehidupan Jika tidak ada uang hidup ini juga useless, sia sia, kamu coba lihat deh teori adam maslow”, begitu ujar teman saya. Saya pun tertegun dan menjawab, “yes we need money, tapi apakah kita harus melakukan apapun demi “uang” ? Dia terdiam.
Jangan juga sampai “berlebihan” dalam mengejar sesuatu yang fana hingga mengorbankan akal sehat dan hati nurani serta menambah penderitaan lainnya. Apakah kita dilahirkan di dunia ini untuk “mengejar uang?” tidak juga kan?Ada beberapa bagian yang menurut saya akan lebih indah jika kehidupan ini tercukupi dan seimbang secara “fisik”, “mental”, “spiritual”..tidak lebih tidak kurang.
Apakah senaif itu?. Apakah kehidupan kita akan baik baik saja tanpa uang? Mungkin tidak dipungkiri semua orang butuh penghasilan atau uang untuk mencukupi kebutuhan hidup paling dasar seperti makan minum, hingga biaya berobat kerumah sakit, jadi jawaban saya yes we need money..orang tua kita sakit juga butuh uang untuk diobati. Kuncinya adalah komposisi yang seimbang…tidak tamak dan serakah sehingga lupa diri.
Namun ironisnya karena gengsi semata, dengan sistem yang didesain oleh masyarakat bahwa orang yang sukses haruslah orang yang kaya, yang punya mobil dan rumah besar ? Atau ukuran sukses diukur dengan kehidupan yang mewah, gelar ijazah s3 atau makanan yang enak serta jalan jalan keluar negeri setiap hari dan bulannya ..mengakibatkan banyak orang mengejar..dan terus mengejar .biar dianggap hebat?..lagi lagi kembali ke penilaian orang atau eksternal..
Apa sih yang dikejar? Pikir sendiri, apakah anda masih mengejar “Target” di hidup anda. Jika ya selamat anda mungkin kurang tidur karena stress, atau mungkin belum bisa tenang hatinya karena cicilan bulanan belum lunas atau mungkin besok takut hartanya hilang diambil orang atau karena uang tidak cukup.
Yang saya amati adalah, semakin dikejar, semakin didapatkan atau tidak kita dapatkan semakin hauslah kita, tamak, tidak ada habisnya. Demi kelihatan keren? Demi kelihatan hebat? Atau biar dianggap di lingkungan sosial? Lalu apakah itu salah …Mungkin tidak salah tapi mungkin juga sia sia. untuk apa? Coba tanya hati mu
“Mungkin lebih baik menyendiri kegunung, menjauhi dari keramaian dunia yang fana dan tidak ada habisnya di kolong langit ini” — ujar hati nurani
Mungkin hal dibawah ini yang saya dapatkan dari beberapa orang yang menurut saya sudah lepas dari kekalutan dunia dapat mengurangi dan menguatkan kita sebagai manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.
- Bersyukur dan berbuat baik agar kehidupan ini seimbang.
- Menjaga kesehatan, bisa membedakan antara kebiasaan baik dan buruk.
- Tidak memaksakan kehendak, apa yang terjadi terjadilah belajar mengontrol emosi, tetap eling atau waspada, sehingga nantinya lebih siap baik diatas maupun dibawah.
- Tidak sombong dan dermawan, berbagi itu indah, jika belum bisa berbagi uang , bagilah ilmu, jika belum bisa berbagi ilmu, bagilah tenaga, niscaya hidupmu bahagia
- Tetap berjuang sepenuh hati demi penghidupan dan cukupan yang baik .
Makna yang saya sangat dalami adalah hidup di dunia ini tidak lama kok, hanya hitungan saat. Ketika saya sedang sekolah di kelas 5 sd, Guru saya menggambar dipapan tulis yang intinya.
“Apa yang naik akan turun, dan apa yang turun suatu saat akan naik”
Terngiang di benak saya sampai hari ini
Filosofinya apa? Tidak ada yang abadi, mungkin hari ini kamu sedih karena wawancara dengan perusahaan besar gagal, atau deal business dengan client tidak sesuai harapan, atau perusahaan hampir bangkrut sehingga harus bersedih dan frustasi. Artinya dalam waktu dekat semua akan menjadi lebih baik.
Saya selalu menanamkan ini didalam benak saya “ Jangan sia siakan waktumu untuk hal hal yang suatu saat juga akan meninggalkanmu seperti gadget, mobil, rumah, jabatan. Yes kita butuh semua itu tapi jangan sampai mengkhianati hati nurani dan mengejar kesenangan sesaat.
Semuanya juga akan pergi dan kita tinggalkan cepat atau lambat. Jadi bersyukurlah jika hari ini anda masih sehat, masih bisa berjalan, masih ada semangat untuk bekerja demi mempersiapkan masa depan keluarga anda. Kita butuh uang , tapi jangan sampai hidupmu kamu sia siakan demi uang yang mungkin tidak akan berarti nantinya.
Target dalam hidup tetap perlu ..tapi jangan memaksa..hiduplah bersahaja
Gunakan harta anda untuk berbuat baik, bantulah orang orang yang membutuhkan mungkin itu akan lebih bermanfaat nantinya di penghujung senja.
