[’Learn to Live Together’, Sebuah Ungkapan yang Terlupakan di Luar Bangku Kuliah]

Aku, Aziz, Ihsan, Khana beserta keluarga Pak Agus di pekarangan rumahnya
Fajar menyingsing, ditemani embun pagi, kami bersiap untuk berangkat dari Dusun Cisoka, Desa Citengah. Pulang ke Bandung.
Semuanya berkumpul pukul 08:00 di depan warung Ibu Yani, sembari menunggu roller coaster (baca: truk). Semuanya ada disana, Pak Lili selaku Ketua RT, Pak Adim sebagai 'juru kunci' beberapa makam keramat disana, Bu Yani dan Pak Agus yang telah merawat anak mentor saya (iya aku jadi PJ rumah disana), Kak Suhendri, Pak Ronny, dan Bu Lily beserta suaminya menjadi dosen pembimbing kami selama disana.
"Setiap pertemuan pasti ada perpisahan"
Pak Lili memberikan beberapa kata-kata penutupnya, "Terimakasih adik-adik dari ITB mau datang ke Dusun ini, jangan kapok ya. Mohon maaf bila ada kekurangan dari saya maupun warga, tapi saya senang adik-adik datang kesini dan mau bertemu bersama kami, semoga ini bukan yang terakhir tapi menjadi awal untuk hubungan dan kegiatan bersama yang lebih besar lagi." (Dengan bahasa Sunda halus tentunya, ini saya artikan secara kasar.)

Aku menyerahkan sertifikat kepada Pak Lili
Setelah itu aku dan Bu Lily memberikan kata-kata penutup juga. Bu Lily bertanya pada peserta.
"Kalian mau kesini lagi?"
"Maauuuu!" jawab mereka.
Detik itu, merekahlah senyum warga dusun Cisoka, kurasa mereka ikut puas dan senang karena peserta tidak kapok untuk kembali lagi kesana. Dalam hati kecilkupun aku puas, sangat puas. Live In ini bukanlah akhir. Ini merupakan awal dari pengenalan Massa-G ke rintisan Desa Binaan kami.

Memetik dan mengolah kopi sampai menjadi bijinya adalah salah satu kegiatan Live In.
Selesai penyambutan tersebut, karena truk kami belum datang juga, aku mencoba berkeliling dan berpamitan ke semua warga. Sampailah aku di pekarangan rumah Pak Ida, disana ada Pak Ronny (Dosen KWN ku dulu, salah satu penggagas Mitra Desa) sedang menganyam lembaran kayu untuk dijadikan tas, ditemani Pak Adim, Pak Lili dan Pak Ida.

Pak Ronny, dengan baju sederhana dan peci hijaunya.
Percakapan kami seputar problematika kehidupan disana, persiapan SUMMERCAMP 2017, potensi-potensi alam kebun teh Margawindu, mimpi tentang pengembangan Desa Citengah termasuk Dusun Cisoka seperti apa kedepannya, dan tentang Live in.
"Coba kamu ceritakan mat, gimana prosesnya keluar metode live in untuk Penjenjangan?" tanya Pak Ronny.

Basecamp panitia
Tentu saya jawab tentang penanaman nilai empati kepada masyarakat, sebagai awal pengenalan massa Gunadharma terhadap Desa Binaan dan lain sebagainya, yah embel-embel visi misi organisasi gitulah.
"Saya terinspirasi mat, untuk menjadikan metode ini sebagai media pembelajaran KWN." ungkap Pak Ronny.
"Kenapa begitu, Pak?"
"Dari Live In seperti ini, kita bisa melihat dinamika kehidupan masyarakat sebenarnya, mendalaminya dan belajar untuk hidup antara sesama manusia, menghilangkan batas perbedaan sosial dan ekonomi. Kalian kemarin memetik kopi dan teh bersama warga, bakti sosial membersihkan lingkungan, tidur bersama warga, belajar bernegara dengan menjadi bagian dari warga negara yang sangat beragam dan lain sebagainya. ’Learn To Live Together' mat, kamu pernah kelas saya kan dulu? Ingat gak kamu itu?"
"Ingat pak, ingat." padahal sebenarnya nggak ingat pernah ngomong itu, tapi mungkin saya lupa.
Tapi setelah mendengar itu, aku jadi termenung.
Kita terkurung dalam kenyamanan, Kawan. Kita ada di dalam kandang Gajah, berisi buku-buku ilmu pengetahuan yang akhirnya menjadi buku saja karena tidak diterapkan. Dicekcoki keidealan hidup dalam lingkungan yang sama, tanpa pernah mencoba melihat dinamika kehidupan diluar.

Sistem distribusi air sederhana
Pernah tidak hidup tanpa listrik? Cukup untuk menyalakan lampu pada gelapnya malam saja sudah bersyukur. Kekurangan air? Air berlimpah, Sobat. Hanya saja disana mereka tidak tahu cara menampung dan memanfaatkannya.
Kehidupan kita berbeda dengan mereka, tapi tidak berarti kita mengalihkan pandangan dan menutup telinga untuk tidak melihat perbedaan yang ada. Dari belajar untuk hidup bersama, kita dapat mensyukuri apa yang kita miliki, mencoba untuk tidak lupa bahwa manusia adalah makhluk sosial. Kita terhubung dan sadar bahwa kita membutuhkan satu dengan yang lainnya.

Kadang ada beberapa keindahan alam yang hanya dapat dinilai dengan melihat langsung dengan mata kita.
Sembari truk kami berangkat. Mataku menatap ke belakang. Aku melihat Dusun Cisoka, dengan segala keindahan alamnya semakin hilang dari pandanganku.

“Cisokaaaaa!”
Mari buka mata, lapangkan hati, tumbuhkan empati dan belajar untuk hidup bersama. Maka akan hadir keselarasan untuk berkehidupan yang lebih bermakna. Untuk mengabdi dan mencari peran diri kita dalam bermasyarakat.
P.S. terimakasih untuk Avizaktha Grathita yang telah bersungguh-sungguh menjalani Live In, juga untuk massa Gunadharma yang menjadi Panitia PJJGN, selamat ya!
Untuk Dennis, Yudi, dan Avi. Selamat juga ya, masih ada yang harus diselesaikan dalam PJJGN. ☺
LIVE IN PJJGN MULA-BINA 2017, Desa Citengah, Dusun Cisoka.
Muhammad Ananda Rahmat Fatah
Manusia yang sedang belajar hidup bersama.
Disunting oleh: Zakky Ibrahim
