Kenapa Masih Bertahan?

Gadis itu masih menempel saja dengan kasurnya sejak 3 jam yang lalu. Entah mungkin gaya gravitasi kasurnya lebih tinggi dari gravitasi bumi sehingga gadis itu sulit beranjak dari sana. Jari-jari lentik gadis itu masih setia tak lepas dari smartphone nya. Jempol tangan kananya aktif bergerak di permukaan layar smartphone itu, scroll atas, scroll bawah, sementara kepala gadis itu tetap menempel pada bantal. Gadis itu seakan tidak peduli kalau posisinya yang sekarang dapat menyebabkan daya penglihatannya menurun. Yah, sepertinya dia memang tidak peduli karena ia terlanjur bertitel “perempuan berkacamata”.
Pagi itu, dia asyik membuka media sosial pribadinya. Kisah-kisah inspiratif lewat begitu saja di timeline LINE nya. Foto-foto yang merekam kebahagiaan muncul begitu saja di home Instagram-nya. Tak lupa dilengkapi dengan caption-caption menggugah yang seakan-akan bermakna “hey, hidup ini hanya sekali, ayolah nikmati seperti yang kulakukan sekarang!”

Cih, bikin ku muak saja, pikir gadis itu lalu ia menghapus aplikasi Instagram dari smartphone-nya. Rasanya ia ingin menghapus saja segala aplikasi media sosial sialan itu. Kalau bukan karena kebutuhan komunikasi, pasti aplikasi-aplikasi itu sudah lenyap dari smartphone-nya.

Bukankah lebh baik seperti itu? Agar ia tidak perlu merasa iri dengan kebahagiaan yang diekspos teman-temannya di media sosial.

“Ayolah, bisakkah kau sedikit berguna?” gumam gadis itu sambil bangkit dari kasur.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Bagaimana caranya menjadi orang yang berguna?

Pandangan gadis itu berhenti pada karton biru yang tertempel di dinding kamarnya. Di karton itu tertulis apa yang ia cita-citakan. Karton itu merupakan tugas yang diberikan saat masa orientasi kuliahnya dulu. Orang seperti gadis itu mana mungkin berinisiatif membuat hal-hal motivatif semacam itu.

Di karton itu tertulis mimpi-mimpinya selama massa kuliah. Mimpi-mimpi yang sudah kadaluarsa. Basi. Tak pernah jadi nyata. Semua mimpi mulia itu seakan terkalahkan oleh realita getirnya perkuliahan.

“Diriku yang dulu pasti akan mengutuk diriku yang sekarang,” gumam gadis itu sambil tersenyum sinis.

Lalu kenapa ia masih bertahan di sini hingga sekarang?

“Cella, kamu udah ngeprint materi buat mentoring hari ini?”

Gadis itu menoleh demi menjawab pertanyaan temannya, Rani.

“Udah, kok. Mau fotocopy?” jawabnya yang langsung disambut dengan anggukan cepat Rani. Cella memberikan beberapa lembar kertas materi mentoring kepadanya.

“Wow, Cell, lu udah belajar materinya? Kerenlah mentor panutan emang,” Rani terkagum melihat kertas materi mentoring Cella yang telah diwarnai dengan higlighter di beberapa bagian.

“Apaan, sih? Buruan ih bentar lagi mentoring,” Kata Cella sambil tersenyum menaggapi pendapat Rani.

Saat Rani akan beranjak pergi, koordinator lapangan diklat hari itu sudah memberi komando bagi para mentor untuk briefing. Rani sedikit kesal dan membatakan rencananya untuk mem-fotocopy materi mentoring milik Cella. “Entar gue gabung aja deh, sama kelompok sebelah,” begitu katanya yang ditanggapi dengan tawa oleh Cella.

Briefing pun dimulai. Kadang briefing diselai candaan dari beberapa orang. Semuanya tertawa, tak terkecuali Cella. Koordinator lapangan sesekali mengalihkan topik agar briefing tetap fokus sebagaimana mestinya. Briefing pun selesai . Semua mentor langsung menuju spot yang ditentukan untuk memulai mentoring.

Sambil menunggu, para mentor asyik mengobrol dengan topik masing-masing saat itu. Kecuali Cella. Ia hanya diam memperhatikan. Ia tidak tertarik dengan obrolan apapun. Lagipula tidak ada yang mau mengobrol juga dengannya. Entah kenapa, setiap diklat, selalu saja dia merasa seperti ini. Merasa kesepian di tengah keramaian.

“Hei, Cell..,” sang koordinator lapangan, Rangga, duduk di samping Cella.

“Eh,Rang. Sibuk banget, ya koorlapku,” Cella menanggapi sambil tersenyum.

“Ah, nggak sih aku gabut malah,” Rangga tertawa. Tak lama kemudai ia bangkit berdiri sambil menepuk pelan pundak Cella dengan gulungan kertas, “Yuk siap-siap.”

Cella mengangguk meskipun ia masih belum beranjak dari tempatnya. Ia masih memperhatikan Rangga yang semakin menjauh. Ah, sudah dari kapan ia menyimpan rasa untuk Rangga? satu-satunya anak laki-laki yang bisa mengobrol seru dengan Cella. Seakan-akan didepannya Cella bisa menjadi dirinya sendiri. Diklat ini seakan-akan mendekatkan ia dengan Rangga. Dekat secara fisik, bukan secara personal. Rangga lebih sering mengobrol dengan teman-teman panitia utama diklat ini. Beberapa perempuan cantik dan manis juga sering mendekatinya. Tak ada kesempatan bagi Cella. Lagipula bukannya Rangga juga sudah punya gadis yang ia sukai? Gadis cantik berjilbab panjnag dengan tutur kata yang lembut. Adalah suatu kesalahan Cella masih menyukai Rangga hingga saat ini.Rasa sepi seakan-akan semakin jelas terasa.

Lalu kenapa ia masih bertahan di sini?

“Aku mikir apa, sih?,” Gumam Cella sambil beranjak dari tempatnya.

Mentoring pun dimulai. Materi hari itu adalah tentang pentingnya cita-cita dan visi misi hidup. Rasanya aneh, setelah mengkhianati segala cita-citanya, Cella harus menyampaikan materi ini di depan mentee-nya. Tapi Cella harus tetap semangat, sebagai mentor ia adalah panutan bagi mentee-mentee nya.

“Kak, kenapa sih kita harus punya cita-cita?” Desy, salah satu mentee-nya Cella bertanya pada mentoring saat itu.

“Hmmm, kenapa, ya? Biar jelas di kampus ini mau ngapain aja. Misalnya Desy punya cita-cita jadi ketua BEM. Nah, berarti Desy harus mulai aktif di BEM, jadi ketua di kepanitiaan-kepanitiaan acara BEM, ikut diklat gitu-gitu,” Jawab Cella.

“Wah, aku juga mau, ah jadi aktivis kemahasiswaan kayak Kak Cella,” Yoga, salah satu mentee-nya Cella, juga menimpali yang langsung disambut gelak tawa mentee lainnya.

“Jangan kayak akulah. Aku Cuma butiran rengginang di kampus ini,” Cella menanggapi sambil tertawa.

“Kelompok 10 diklat foto studio yuk nanti,” Usul Hendi sang ketua kelompok.

“Yeuu, diklat aja belum kelar,” jawab Cella dan mentee-mentee lainnya di kelompok itu.

Apa yang membuat ia bertahan di sini?

Cella sudah menemukan salah satunya. Ya, inilah yang membuat Cella bersyukur dan masih bertahan menjadi mentor di diklat ini. Berbeda dengan mentor-mentor lainnya, Cella sangat akrab dengan mentee-mentee nya. Kelompok 10, kelompok yang dipengang Cella adalah kelompok yang kompak. Meskipun Cella sering merasa kesepian di sini tapi rasa sepi itu akan sirna jika ia sudah bertemu dengan kelompok mentee nya yang hangat ini.

Mungkin begitulah hidup. Kadang kita melupakan orang-orang yang mau menerima kita meskipun hanya segelintir. Kita seakan terlalu fokus dengan segala kesulitan yang kita alami, dengan segala kesedihan yang seperti tumpah dari langit. Kehangatan korek api kecil seakan tidak berarti di tengah menusuknya udara musim dingin. Namun, bukankah itu yang membuat kita bertahan?

Aku masih bertahan demi orang-orang yang menyayangiku di sini. Meskipun aku belum bisa menjadi orang yang berguna bagi mereka, setidaknya aku tidak ingin menyia-nyiakan kebahagiaan mereka. Begitu pikir Cella.

“Cell, waktunya udah habis, ya,” Rangga berbisik pelan di belakang kepala Cella lalu beranjak lagi untuk memberitahu hal yang sama kepada mentor lainnya.

“Yuk, beres-beres. Udah habis waktu mentoringnya,” kata Cella.

“Yeaaay, pulang,” Jawab mentee-mentee Cella sambil membereskan barang-barang masing-masing.

“Yeee, kata siapa pulang?” Cella menanggapi sambil tertawa.

Langit biru seakan menjadi lebih cerah saat itu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.