Tentang Sebuah Kebakaran

“Bagaimana perasaan Anda setelah mengalami kejadian itu?”

Hari ini aku diwawancarai oleh seorang jurnalis majalah nasional terkait kecelakaan yang aku alami. Kemarin laboratoriumku mengalami kebakaran dan untungnya aku masih selamat.

“Agak shock, sih Mba. Masa saya bahagia?” Jawabku sambil berkelakar karena pertanyaan itu bagiku berkesan you-don’t-say. Pasti shock lah kalau melihat api yang nyaris memakan setengah ruang berukuran 15x15 m.

Sang jurnalis ikut tertawa menanggapi jawabanku. Sebenarnya itu tidak lucu, sih lalu kenapa dia tertawa?

“Apa yang Anda lakukan untuk memadamkan apa saat itu?” Jurnalis itu bertanya lagi.

Aku berusaha mengingat-ngingat. “Aku berusaha memadamkan api dengan APAR yang ada di laboratorium. Sebelumnya aku menelpon pusat bantuan dulu karena laboratoriumku agak jauh dari pusat kompleks balai penelitian,” Jawabku kemudian.

“Apa benar kebakaran kemarin disebabkan oleh konsleting?”

“Hmmm,” aku berpikir sejenak lalu menjawab, “Aku tidak tahu pasti sebenarnya. Tapi saat sebelum kejadian alat pemanas listrik yang ada di laboratoriumku agak ngadat.”

Saat itu pasti aku sedang tidak fokus sampai-sampai aku tidak sadar ada percikan api yang entah dari mana datangnya. Walaupun akhirnya polisi dapat menyimpulkan bahwa kebakaran yang terjadi diakibatkan oleh konsleting.

“Apakah Anda tetap akan bergabung dalam tim peneliti biofuel mikroalga setelah mengalami kejadian kemarin?” Jurnalis itu mengajukan pertanyaan lagi.

Wah? Hmmm. Menjadi peneliti biofuel mikroalga adalah impianku sejak lama. Bisa bergabung dengan tim itu sebulan lalu setelah aku mendapat gelar masterku adalah kebahagiaan tak ternilai. Sepertinya aku sedang sial saja karena kejadian kemarin.

“Bekerja di laboratorium biofuel memang cukup berbahaya karena banyak zat kimia mudah terbakar sementara aku orangnya ceroboh seperti ini,” kataku kemudian aku sedikit tertawa dan melanjutkan, “Walaupun begitu, aku tidak akan mundur. Kejadian ini membuatku merasa Tuhan sangat menyayangiku sehingga aku bisa selamat dari kebakaran itu. Dan, yah..semoga ini juga bisa jadi pelajaran bagi laboran lain. Cukup aku saja yang mengalami.”

Setelah kejadian ini aku merasa jadi the luckiest person in the world. Ku kira aku bakal mati karena terkepung api saat itu. Ah, ternyata Tuhan maha penyayang, ya. Biarpun aku tak cukup sering mengingat-Nya, Ia masih mau menyelamatkanku.