Tiga Huruf

Tiga huruf. Ditakuti manusia.

Hening mengernyitkan dahi. Selipat kertas tiba-tiba terselip di dalam buku catatan — yang baginya asing — di atas meja. Entah dari mana datangnya, tapi gadis itu ternyata ingin menjawabnya. Sembari menggigit ujung tumpul pensil, dia mencoba mencoret-coret. Mencari jawaban.

Tiga huruf.

Air. Tapi manusia suka sama air.

Api. Ah, iya! Manusia takut api. Manusia takbisa berbuat apa-apa jika kebakaran. Eh tunggu. Hening masak dengan minyak tanah tetap butuh api. Dia merokok juga disulut dengan api ujungnya. Manusia takut api yang besar. Tapi memangnya pertanyaan ini merujuk besar dan kecilnya?

Kemudian Hening membuka buku catatan itu di sembarangan halaman. Dia menulisi jawaban itu di dalam kertas kosong yang ada di buku. Tapi taklama setelah ditulisi, kata “api” langsung menghilang. Tunggu, apa-apaan ini? Batin Hening. Dia berjengit, hampir terjungkal dari kursinya.

Buku apaan itu? Teriak Hening dari dalam kamar kosannya. Suasana sepi. Hanya ada lelaki gendut tukang dengkur di kamar sebelah. Lelaki itu memang suka ambil keuntungan dari tubuh Hening, si gadis penjual tubuh, setiap malam jumat.

Mengapa jawabannya menghilang? Apakah salah?

Hening berpikir lagi. Dahinya mengerut dan kedua alisnya tampak menyatu. Tiba-tiba di atas buku catatan muncul sebuah potongan kertas lagi: bahasa, kuno, bertahan.

Bahasa. Kuno. Bertahan. Semenit berpikir gurat wajah Hening berubah. Bahasa kuno yang masih bertahan, batinnya. Apa? Nordic? Viking?

Hening mencoba menyocokkan pertanyaan dengan petunjuk yang didapatkan. Tiga huruf. Ditakuti manusia. Bahasa kuno yang masih bertahan. Tetiba dia teringat artikel tentang sejarah internasional. Artikel itu membahas tentang usia bahasa Inggris yang bertahan hingga kini.

Eh.

Hening sadar sesuatu.

Usia … kuno … bertahan … ah! Bahasa Inggris!

Hening menepuk jidatnya sendiri. Seakan dia merasa sangat bodoh dengan pertanyaan itu.

Tiga kata. Ditakuti manusia. Bahasa Inggris. Ng …

Tiga kata ….

Ah, die! Mati! Tentu, manusia takut mati! Ah kenapa aku baru menyadarinya? Seru Hening.

Dia menyibak poninya ke kanan, lalu menulisi kata itu. D I E.

Mendadak jantung Hening rasanya sakit. Dia memegangi dadanya, yang hanya dilapisi oleh kaus tipis, kaus yang disenangi lelaki gemuk kamar sebelah yang dengan mudahnya bisa melihat apa pun yang ada di balik kaus itu.

Jantung Hening semakin sakit. Napasnya satu dua. Engap engap. Taklama kemudian detak jantungnya benar-benar berhenti. Hening mati di atas buku itu.

Dari sudut pandang yang tak ditangkap oleh mata Hening, sesosok bertudung hitam muncul dari arah belakang tubuh kaku Hening dan mengambil buku itu. Dibukanya sampul buku itu dan tertulislah nama Hening Susanti dan di bawahnya tertulis kata-kata lain: The Book of The Death.

Menurut kabar tersiar, sang pemilik buku kematian acap meninggalkan buku itu di tempat jiwa yang akan dibawanya pergi. Dia menciptakan cara baru untuk seseorang memahami kematiannya. Karena teka-teki adalah kematian yang menyenangkan.

*terinspirasi dari sebuah cerita pendek “Juwita” karya Eka Kurniawan dalam buku “Perempuan Patah Hati yang Menemukan Cintanya dalam Mimpi”