Complicated

Forte mencengkeram bingkai kayu sebelum meloncat ke bawah melalui lubang plafon. Kakinya menapak ringan di lantai jati tanpa menimbulkan suara. Wajahnya tidak bisa ditebak, sehingga Owner mendekat penasaran.

“Gimana? Ketemu?”

“Tidak ada apa-apa, kau cuma mimpi.” Ia mendekati cermin, menghapus jejak debu yang menempel karena keringat. Di atas sana lembap dan panas.

“Kau sudah cari yang benar? Mungkin tersembunyi di balik sesuatu!” Jari-jari kurus Owner mencengkeram lengan kaos Forte.

“Sesuatu apa?”

“Entahlah, sesuatu? Hal yang kita sepelekan? Barang-barangku kan banyak.”

Forte menyingkirkan cengkeraman wanita itu, mematikan mode detector yang dipasang pada ponsel modifikasinya. Hasil kebosanan Ed. Ia jarang menggunakan mode itu karena harus merestart ponsel dan mematikan semua akses jaringan operator. “Tidak ada apa-apa. Aku sudah memeriksanya tiap senti. Kalau tidak percaya, harusnya tadi kau ikut.”

Owner tertawa gugup sambil menggeleng. “Aku percaya padamu, kok. Bir atau teh?”

“Kalau ada, Petrus Pomerol.”

“Adanya cairan pel!” Owner menghilang ke dapur.

Kamar Owner ada di puncak penginapan, tepat di bawah loteng. Luasnya tiga kali lebih besar daripada kamar-kamar tamu di lantai dua. Selain memiliki dapur sendiri, kamar ini juga punya ruang tamu kecil dan balkon luas yang menghadap ke arah gunung. Forte berjalan ke balkon, mencium aroma basah dedaunan meski sekarang sudah siang.

“Trims ya akhirnya mau datang,” suara Owner muncul bersamaan dengan denting gelas. Wanita itu membawa tatakan berisi gelas teh dan juga dua botol bir dingin serta pecahan es dalam ember.

“Demi teman lama.”

“Teman lama ampas,” wanita itu menukas cepat. Nampannya ia letakkan di atas meja kayu rustic di balkon. “Aku menelponmu sejak sebulan lalu. Tidak ada balasan! Tiba-tiba eaja kemarin muncul. Dengan anak istri pula.” Mata cekungnya melirik penasaran. “Anak istri sungguhan?”

“Tidak lihat kemiripan DNA kami?” Forte tersenyum jujur. “Manis, kan?”

“Dia manis, kau tidak.” Owner memutar bola mata. “Enak ya punya anak?”

“Enak,” Forte meneguk birnya langsung dari botol. Sebelah matanya mengedip nakal. “Mau coba bikin?”

“Maksudku bukan bikinnya, ampas!”

Keduanya tergelak. Meski begitu, mata hitam Forte masih mengawasi loteng. Ada satu penyadap ia temukan di sana, dan mungkin ada banyak lagi di rusuk dan akar penginapan ini. Ia tahu milik siapa benda itu. Putra.

Benda-benda kiriman anak itu punya ciri khas yang sama, membuatnya gampang dikenali. Owner sudah memutuskan berhenti dari Carrier tiga tahun lalu, tetapi wanita itu masih diawasi sampai sekarang, itu jelas. Suara-suara di loteng yang mengganggunya sampai ke dalam mimpi mungkin para pengantar Carrier yang tergabung dalam Divisi Pemastian. Tetapi Carrier tidak pernah ceroboh sampai menampilkan sosok-sosok seperti yang diaku Owner sudah dilihatnya, jadi pasti ada pihak ketiga.

Forte memutar-mutar botol kacanya di pagar kayu balkon, berpikir. Ia tidak ingin terlibat dalam hal yang bukan urusannya, tetapi tidak bisa menepis fakta bahwa Owner sudah membantunya dulu. Hal yang besar.

Mereka melakukannya di sini, di atas loteng itu. Bekas darahnya akan terlihat kalau terkena cairan luminol. Bercak-bercak serta guratan cokelat tua yang besar.

Ia menyelesaikan orang-orang itu di sana. Pembunuh orang tuanya.

Waktu itu Owner masih seorang trainee. Meski hanya menyaksikan perbuatannya, memori itu sepertinya masih membekas jelas di ingatan Owner, membuat wanita kurus itu trauma. Alasannya tetap mempertahankan tempat ini sebagai penginapan dan memilih membobol lantai tiga untuk menjadikan separuhnya sebagai kamar pribadinya jelas karena satu hal, wanita itu ingin menjaga loteng dari mata orang-orang. Ingin supaya rahasia di sana selamanya tidak merembes keluar. Menempatkan dirinya sebagai penyekat antara rahasia dan keramaian secara psikologis membantunya untuk tetap waras.

“Kudengar, Jamie memberimu permintaan sulit,” suara Owner menyusup jelas ke telinga Forte.

Ia menoleh. “Siapa?”

“Jamie. James ‘Jamie’ Matthews, fotografer yang bersamamu tadi pagi,” Owner menggerak-gerakkan gelas tehnya. Bayangan hitam di bawah mata wanita itu menandakan betapa terganggunya ia selama sebulan ini. “Dia kena artblock dan sudah mendekam di sini selama tiga hari, mencari inspirasi.”

Forte membuat wajah kaku, teringat permintaan pria itu tadi pagi. Mereka mengobrol banyak — tepatnya, James yang mengobrol — kemudian lelaki itu memberinya permintaan yang mustahil dengan alasan yang tidak masuk akal.

“Kau kelihatan seperti blackhole!”

“Kurasa akhirnya dia menemukan gerbang untuk melepaskan artblock-nya. Itu semacam sumbat. Kalau dia sudah melewati gerbang itu, ide dan inspirasinya akan mengalir deras,” Owner melanjutkan. “Kau boleh membakar film dan fotonya kok setelah itu.”

Forte menyipitkan sebelah mata. “Heee, kau dibayar berapa?”

Tawa kecil lepas dari mulut wanita itu. “Kok tahu sih?”

***

Alto menumpuk satu bata terakhir di atas pilar batunya. Tangannya diusapkan ke celana dengan puas. “Selesai. Ini motor baruku! Persis punya Sayang!”

Jerez menatap gundukan batu buatan Alto, mencolek sedikit tanah berpasir yang ditumpuk sebagai lem setang ranting. “Perfect! But the one here is coming loose!” Ia menunjuk tangkai kering kecil yang ditusukkan di dekat roda bekas. “What is this?”

yeah, ini Alto dalam bayangannya sendiri.

“Ow, busi? Sulit memasangnya. Tidak ada air. Tapi tidak kelihatan, Jerry. Tidak masalah,” Alto menepuk-nepuk tangannya yang berpasir. “Mamochka bilang, bukan kejahatan selama tidak kelihatan.”

“A man can’t hope to be a real man unless he starts with the part no one can see!” balas Jerez cepat.

Alto menatap mata hijau besar Jerez agak lama sebelum tertawa. “Kau bicara seperti sudah besar saja.”

“I am one year older than you. See? I’m a grown man!”

“Tapi aku lebih tinggi, kan?”

Dalam keadaan sama-sama berjongkok, Jeres mengukur kepala mereka. Bibirnya mengeluarkan erangan pendek. “I like you, but sometimes you really annoy me, Al.”

“Yay!” Dua tangan Alto mengepak riang.

“It’s not something you should ‘yay’ to!” Jerez berkata serius.

Aww, susahnya jadi orang dewasa.”

“Siapa yang dewasa, Sayang?”

Kedua anak itu menoleh berbarengan ke arah suara. Carmen dan James datang sambil berlari kecil.

“Mamochkaaaaa!” suara Alto bergelombang karena hentakan lari. Ia meloncat dan Carmen menangkapnya, memeluk anak itu sambil menciumi rambut hitamnya.

“Thank you very much, Jamie!” Ia melakukan highfive pada James yang sudah mengangkat Jerez ke atas pundak.

“No sweat,” James meringis. Tangannya menepuk-nepuk paha gemuk Jerez, menenangkan teriakan penuh semangat anak itu. “I know how hard it is to be a parent.”

“Al, let’s play again later!” Jerez berteriak dari pundak James.

“Ayo!” balas Alto, juga berteriak, tetapi tidak mendapat balasan. Ia melihat kawannya sedang diberi peringatan untuk tidak bermain terlalu jauh, jadi Alto mengalihkan wajahnya pada Carmen. Mamochka? Mana Sayang?” Ia mengangkat kepala, memberi tatapan menuntut yang terlalu lekat. “Sayang di kamar?”

“Entahlah,” Carmen tidak menatap mata putranya, hanya memberi seulas senyum yang sangat manis. “Mungkin iya, mungkin hilang lagi. Kalaupun Sayang hilang, kita tahu dia bisa pulang sendiri. Tidak perlu cemas, kan?”

“So cold,” komentar James spontan. “Maksudku, udara di sini,” imbuhnya buru-buru ketika melihat Carmen berpaling ke arahnya.

Bibir berlipstik pastel itu hanya tersenyum simpul.