Gelas-gelas Surat

Aku ingat warna kemejamu pagi terakhir kita bertemu. Kamu memakai hitam pekat tanpa corak lain. Warna yang melambangkan rahasia terdalam serta dendam tak terbalaskan. Warna duka. Warna langit malam.

Setiap kali aku menemukan hitam di langit, di laut, di sungai, di batu, di antara tulip-tulip dan kincir angin, bahkan di dalam diriku sendiri, aku jadi ingat padamu.

Kalau kamu masih di sampingku, apa hari ini kamu akan memakai pakaian hitam? Apa warna mata dan rambutmu masih hitam? Apa kamu berkubang dalam kelam yang pekat?

Melarikan diri dari hitammu, aku pindah ke negara lain, menyibukkan diri dengan kampus, teater, dan kerjaan. Di depan orang-orang, dengan gagah berani aku menjawab, aku sudah melupakanmu. Kamu bukan siapa-siapa untukku. Kamu sudah mati.

Dan semua orang memercayainya, kebenaranku yang mustahil. Bagaimana bisa aku lupa padamu kalau dalam tiap sendi kehidupan, kamu muncul dan menetap? Kamu berdenyut dalam tiap nadi, mengalir dalam darah.

Kadang ada sedikit penyesalan, selama bertahun-tahun hidup denganmu, kenapa aku tidak mengambil kesempatan? Aku bebas datang ke kamarmu, aku tahu kamu tidak pernah benar-benar tidur. Aku bisa dan punya hak untuk meraih, menggenggam tanganmu. Aku bisa menyerahkan diri, aku tahu kamu tidak akan menolak. Tapi aku terlalu takut. Meski tahu bahwa kamu akan mencium ujung kakiku kalau kuminta, aku takut kamu menampik uluran tanganku. Aku menyesali kepengecutan itu. Hidup ini singkat, kenapa waktu kusia-siakan untuk membuat jarak, meyakinkan pesimisme?

Tetapi di sisi lain, aku juga bersyukur tidak ada yang terjadi di antara kita. Kalau saja aku pernah cukup berani untuk naik ke atas ranjangmu, membiarkan ujung-ujung jarimu menelusuri tiap dosa yang tergerai menghias tubuhku. Kalau aku membiarkan dirimu menancapkan perih itu demikian dalam, bisakah aku hidup sekarang? Mungkinkah aku melanjutkan hidup tanpa hitammu?

Atau … atau mungkin kita masih akan bersama? Karena katamu, kamu sudah janji akan menjagaku, dan kamu selalu menepati janji, setidaknya padaku.

Tapi kalau terus-terusan bicara soal “mungkin” maka surat ini tidak akan pernah selesai.

Aku membencimu. Baik dulu maupun sekarang. Juga selamanya.

Aku ingat meneriakkan itu saat pertengkaran terakhir kita. Aku menganggapmu menyedihkan karena melindungi diri sendiri. Ya, aku tahu bahwa bagimu, aku cuma alat. Sarana yang kamu pakai untuk bisa bertahan hidup. Semacam sabuk pengaman ketika berbalap ria.

Kamu membutuhkanku, tetapi tidak dengan cara yang sama dengan aku menatapmu. Kamu membutuhkanku dalam cara yang gelap, sepekat bola matamu. Kamu membutuhkanku seperti manusia membutuhkan pankreas. Organ yang penting. Tidak tergantikan. Tidak bisa disubstitusi. Kamu akan mati kalau pankreasmu rusak. Tapi apa kita bisa mengatakan bahwa kita mencintai pankreas kita? Tidak. Tidak bisa seperti itu. Manusia tidak akan menikah dengan pankreasnya. Itu adalah bagian dari dirinya.

Aku ingat menenggelamkan wajah ke punggungmu setiap kali kamu menjemputku pulang sekolah. Aku ingat aroma keringatmu, aura pekat malammu. Jantungmu berdetak lebih kencang setiap kali aku mengencangkan pegangan—saat itu aku tahu kamu tidak akan bisa hidup tanpaku.

Aku ingat waktu kamu memelukku erat suatu malam. Ada aroma darah di lengan dan kerah bajumu, tetapi tanpa memberiku kesempatan menyelidiki sumber aroma, kamu menyeretku pergi tanpa basa-basi, kembali pulang ke rumah.

Aku cuma anak-anak, susah payah berlari mengejar balon-balon mimpi. Orang-orang mencemooh dan menjauh. Hanya suaramu yang meyakinkanku bahwa tidak ada salahnya mengejar balon itu.

Dalam diriku, anak itu masih hidup. Tidur tanpa suara di pangkuanmu, merasa nyaman dan berpikir bahwa segala hal akan terus baik-baik saja.

Yang paling mengagetkan kemudian bukan tentang kesedihanku waktu kamu pergi, tetapi betapa aku selama ini tidak punya sandaran lain. Kamu menenggelamkanku dalam kemanjaan. Kamu tidak mendidikku untuk hidup tanpamu. Kamu pergi dengan ringan tanpa tanda dan aba, padahal aku terlanjur percaya kita akan terus bersama.

Makanya aku membencimu.

Sekarang aku membangun kehidupan dengan susah payah, menyusun dari satu bata ke bata lain.

Teman-teman bilang aku perempuan yang teguh dan hebat. Mereka iri karena aku bisa jadi istri dan ibu yang baik.

Aku cuma menggeleng sambil tertawa.

Aku tidak butuh versi orang lain tentangku. Aku bukan apa yang mereka pikirkan. Aku tidak akan jadi seperti itu. Aku akan jadi satu-satunya diriku. Aku tidak akan jadi melodi manismu.

Mendengar itu, beberapa orang dengan wajah heran bilang padaku, aku jadi mirip denganmu.

Saat itu aku merasa sedikit memahamimu. Apa kehilangan yang membuatmu mengenakan hitam? Apa kamu masih selalu berduka, sama sepertiku? Apa kamu juga tertawa saat orang-orang menghakimimu?

Nama pemberianmu berarti hitam dalam bahasa Turki lama. Apa kamu berusaha mengidentifikasikan diri dalam pribadiku? Apa kamu cuma memberi petunjuk bahwa kita sama?

Kemudian aku sampai pada satu titik. Ya, kamu dan aku sama. Kamu bukan siapa-siapa. Kamu tanpa identitas.

Aku pun bukan siapa-siapa, tetapi di saat yang sama juga seseorang.

Keyakinan diri ini kutemukan dalam malam-malam kontemplasi dalam hitam, dan aku berterima kasih padamu soal itu.

Pertanyaan terakhirku adalah, apa kamu sekarang bahagia?

Sebab, aku ingin bahagia.

Yours,

No Name.