Koala

Dia habis minum, pikir Carmen saat samar-samar mencium aroma bir.

Forte tidak muncul saat makan siang, begitu juga Owner. Meski kecil, penginapan ini punya karyawan, dan seorang pemilik memang tidak selalu harus turun tangan melayani tamu. Tetapi hilangnya dua orang itu jelas sebuah tanda bagi Carmen. Rasa dongkol membakarnya dan ia baru saja memutuskan untuk menjadikan hari ini sebagai piknik berdua antar ibu dan anak ketika lelaki itu datang, membuka pintu kamar dengan santai seolah seharian tadi tidak menghilang.

“Sayang dari mana?” Alto merangkulkan kedua tangannya ke leher Forte.

“Dari mana-mana. Tidak tidur siang?”

“Sudah!” seru Alto cepat, merengek-rengek ketika dilepaskan dari gendongan. Kedua tangannya masih mencengkeram kerah kaos Forte ketika diturunkan ke lantai. “Sayang, aku mau punya adik kembar!”

“Oo … ke? Maksudnya?” Forte menoleh heran pada Carmen, yang memperhatikan mereka dengan penuh minat sambil bersandar di balkon kamar.

“Aku mau punya adik kembar!” Cengkeraman tangan Alto berubah jadi geretan. “Mamochka bilang, aku harus minta Sayang!”

“Adik kembar?” Forte menelengkan kepala. “Kembaran itu tidak— ”

“Paman Jamie bilang, kami anak kembar!”

Forte berhasil melepaskan kepalan tangan Alto di kerahnya, kini melangkah terpincang ke balkon karena anak itu melekat di salah satu kaki. “Soal apa ini? Kunci mobil masih kau bawa?”

“Waktu melihat Alto dan Jerry main bersama, Jamie bilang mereka seperti anak kembar.” Carmen mengeluarkan kunci dari saku palazzo-nya, melempar ringan benda itu. “Alto senang mendengarnya.”

Jamie? Jerry? Forte menangkap kunci dengan tangkas. Matanya memperhatikan penampilan Carmen. Wanita itu barusan mandi, mengenakan celana kain panjang model palazzo dipadu kaos crop berwarna susu. Rambut ikalnya diikat berantakan jadi satu, menampilkan leher jenjang yang keemasan disinari matahari. Saat Carmen mengendus aroma bir, yang dicium Forte hanya wangi sabun dan lotion lembut.

“Oh ya, Alvis. Soal potret yang dia minta, kau bisa membuangnya setelah selesai. Jamie bilang, dia cuma ingin prosesnya.”

Alvis? Oho …. Forte menggerak-gerakkan kaki, berpura-pura berusaha membebaskan diri dari Alto yang justru tertawa senang. “Kau bersamanya seharian?”

“Maksudmu?” Carmen menaikkan sebelah alis, mata kelabunya menyorot dingin. “Bersama siapa? Alto? Tentu saja. Ini kan piknik keluarga.”

Kalimat terakhir diucapkan dengan penekanan sebeku biang es, membuat Forte tersenyum kering.

“Aku boleh punya adik kembar?” Alto mengangkat wajah, tidak menangkap suasana dingin itu. Matanya menatap dengan binar mengharap. “Mamochka bilang, terserah Sayang!”

Forte mengangkat wajah, sekilas menangkap senyum miring di wajah Carmen.

“Sayang?” desak Alto. “Boleh ya?”

“Boleh saja.” Ia membungkuk, menyelipkan kedua tangannya di ketiak Alto dan mengangkat anak itu, menunggu sampai sorak sorainya berhenti. Carmen memberi kerjapan tertarik di depannya.

“Tapi,” lelaki itu melanjutkan sambil berbalik. “Itu berarti ada satu anak lagi di rumah.”

“Yaaayy!”

“Mamochka akan mencium dan mengantar anak itu ke sekolah.” Forte mengusap rambut Alto. “Aku akan membelikan mainan untuknya. Lalu adikmu akan memanggilku ‘Sayang' juga. Da— ”

Ucapannya dipotong pelukan di leher yang terasa lebih mirip cekikan. “Tidak mau!” jerit Alto, mengetatkan pelukan. “Tidak mau itu! Bisa dibatalkan, Sayang? Kita belum sepakat, kan?”

***

Tempat parkir itu teduh dan sejuk. Dengan lantai batu pipih yang disusun rapi, rumput-rumput yang dipangkas rutin, serta tanaman rambat menyelimuti pergola. Hanya ada dua mobil di situ, tamu lain pasti datang dari jalur pendakian dengan bus umum.

Forte berdiri di depan moncong mobil, mengangkat Alto tinggi-tinggi ke atas kepalanya, mengamati anak itu dengan saksama sebelum mendudukkannya ke atas kap mobil. “Kau tambah berat. Makan apa saja tadi?”

“Es krim, sweetcorn, stroberi, sirup stroberi, kue stroberi, astor — ”

“Apa yang kau makan tadi, bocah koala. Bukan apa yang ingin kau makan.” Forte mencubit hidung Alto, memberi pesan, “Diam di situ, jangan turun!” saat berjalan memutar dan membuka pintu mobil. Tas messenger-nya masih ada di wadah kayu di bawah jok. Selagi Alto benar-benar mengingat dan mendaftar apa yang dimakannya seharian, ia mencari Portable Bug Detector-nya. Benda itu hanya seukuran telapak tangan, lebih akurat daripada ponsel modifikasi Ed.

Forte menggenggam alat itu, memikirkan ulang apa yang akan ia lakukan. Meneliti ada berapa banyak serangga di penginapan ini tidak ada salahnya. Itu wajar dilakukan, pikirnya. Demi keselamatannya sendiri. Lagi pula, saat melangkah ke penginapan ini firasatnya tidak enak. Nanti malam, ia akan menyisir sendiri rumah konyol ini.

Sedetik kemudian Forte bertanya sendiri, untuk siapa ia membuat semua alasan itu.

"Lalu Paman Jamie kasih traktir sosis!" Di atas kap mobil, Alto menyelesaikan ceritanya dengan dua tangan berusaha membentuk sosis.

Forte tertawa. Ia melangkah kembali ke depan Alto, menempatkan dua tangan ke atas kap, mengurung anak itu dengan tubuhnya. Masih dengan suara ceria, ia berkata, "Koala kecil, jangan dekat-dekat orang itu, oke?"

"Siapa orang itu?"

"Yang kau sebut Paman Jamie."

"Kenapa? Paman Jamie baik!"

"Tapi firasatku bilang ada yang tidak baik," balas Forte, menunduk untuk mengecup singkat pipi Alto. Aroma anak itu mengingatkannya pada Carmen. Ia menggeser wajah, menatap lurus dan lekat ke bola mata jernih kekanakan di depannya. "Mungkin ini nasibku dengannya, bisa juga nasibmu. Tapi aku tidak suka padanya, dan itu cuma bisa berarti satu hal: cepat atau lambat, dia akan berurusan denganku."

Ini kan piknik keluarga. Suara Carmen mendadak terngiang. Forte mengusap rambut tipis Alto, anak itu masih menatapnya tanpa berkedip, seperti menanti sesuatu. "Kau tetap boleh main dengan Jerez kalau suka."

Sebuah serudukan menubruk hidung Forte, disusul seruan penuh semangat Alto, "Sun lagi! Sun lagi!"

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Nara’s story.