Knowledge and Experience affect Possibility

Moch Nasikhun Amin
Nov 3 · 3 min read

Tentang Pengetahuan (teori), Pengalaman (prektek), dan Kemungkinan (pintu).

Let me tell you a story..

I was a person who has zero knowledge and experience dalam hal pertukangan. Aku nggak pernah memperbaiki genteng yang roboh karena usuk dan reng nya lapuk. Aku nggak pernah membenahi pintu yang kuncinya rusak. Pun aku nggak pernah mempelajari hal tersebut secara teori. Sehingga, untuk sekedar tahu alat yang di butuhkan saja, aku hanya tahu sesuai nalar: paku, palu, dan gergaji. Selebihnya, pengalaman dan pengetahuanku tentang hal ini nihil. Yang terburuk adalah, aku di hadapkan dengan masalah tersebut: genteng bobrok dan pintu rusak. Ditambah lagi, ini terjadi di bulan september. Dimana langit mulai gemar meneteskan air matanya.

Kamu mungkin nggak tau betapa sulitnya memperbaiki itu kalau kamu nggak pernah melakukannya. You never know until it happens to you. Bagiku, dua hal ini masalah yang besar.

Di rumah hanya ada ibu, adik-adik yang masih SD, dan ayahku yang sedang sakit. Sebagai satu satunya orang yang memiliki ‘kemampuan’ untuk memperbaiki masalah tersebut, mau tidak mau aku harus turun tangan (dan naik badan).

Aku yang tidak pernah menyimpan ingatan teknis dalam hal pertukangan harus cari tangga untuk naik. Melihat apa yang salah dengan atapnya. Sedikit mencoba memperbaiki, atau lebih tepatnya memperparah, keadaan. Kemudian turun lagi. Masalah pintu? aku nggak pernah terpikir untuk sekadar mengulik-nguliknya. Aku tahu pintunya rumah tidak bisa di tutup dengan baik, karena penguncinya menjulur keluar, rusak.

Aku nggak punya inisiatif untuk memperbaiki.

Aku nggak punya dorongan untuk memperbaiki.

Aku nggak pernah melihat alat yang bisa kupakai untuk memperbaiki.

Itu karena aku nggak tahu dan kepikiran tentang kemungkinan/ cara yang bisa kulakukan untuk memperbaiki.

Namun aku berungtung, ada man Likin (begitu aku menyebut pak lik yang sudah seperti bapakku) di kemudian hari yang datang membantuku. Ketika datang dengan gergajinya, beliau segera bertindak. Ambil tangga dan tali tambang. Naik ke pohon mangga samping rumah, untuk memotong dahan yang menjulur di atap rumah. Turun. Memindahkan tangga ke genteng. Menganalisa kebutuhan, bahan, dan alat untuk memperbaiki. Sesekali memberiku instruksi untuk mengambilkan sesuatu yang diluar jangkauan beliau. Sebelum adzan dzuhur, masih sempat makan siang juga, sudah selesai.

Apa yang terjadi dengan pintu? Beliau melakukan pola yang sama: menganalisa masalah, mengumpulkan alat dan bahan, kemudian menyelesaikan masalah. Segera setelah tahu masalahnya, beliau langsung tahu perkiraan bahan dan alat yang dibutuhkan. Disinilah PENGETAHUAN dan PENGALAMAN berperan penting. Dalam prosesnya menyelesaikan masalah, Man Likin teringat hal-hal yang pernah beliau lalui. Beliau nggak memberitahuku langsung. Lalu bagaimana aku tahu?

Beliau menggunakan obeng dok (image 1) untuk membuka mur pengunci gagang pintu yang mana aku nggak pernah kepikiran untuk menggunakannya. Kenapa nggak menggunakan obeng biasa? kata beliau mur yang sudah lama mancep ke kayu pintu tersebut sangat sulit dicabut menggunakan obeng biasa. Beliau bilang kalau ini biasa digunakan untuk mencabut mur motor yang sulit dicabut. Bagaimana alat ini bekerja sangat mengimpress saya.

Image 1. Obeng Dok. Sumber: google.
Image 1. Obeng Dok. Sumber: google.
Image 1. Obeng Dok. Sumber: Google.

Beliau juga menginisiasi untuk menambahkan plat almunium ke sela gagang pintu, agar lebih rapat. Ide ini adalah ide yang sama untuk memberi pertolongan pertama pada motor saya yang rusak sekitar 1 tahun lalu. Plat aluminium yang digunakan adalah kaleng bekas (bukan endorse) sprite (image 2), bukan kaleng susu bear brand yang terlalu tebal. Ini sama persis teknik yang dulu beliau tunjukkan ke saya.

Image 2. Obeng Dok. Sumber: Google.

Simplenya, saya tidak bisa menyebutkan semua cara yang beliau lakukan yang ternyata bisa dilakukan, yang saya sebelumnya nggak pernah kepikiran untuk melakukannya. Yang saya pikir itu sangat mindblowing.

Jadi intinya adalah, beliau telah menunjukkan, dengan memiliki Pengalaman which somehow sehingga punya Pengetahuan LEBIH, itu akan membantu kita membuka lebih banyak pintu. lebih banyak cara. lebih banyak kemungkinan untuk menyelesaikan sebuah masalah.

Pensannya adalah, JANGAN BERHENTI BELAJAR.

    Moch Nasikhun Amin

    Written by

    balancing between intuition and logic, since art used to be my bias.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade