Indralaya, 29 Agustus 2016

Kehampaan ini ada. Namun mengapa?
Apa karena jarak?

Tidak kurasa bukan.

Jarak hanya ruang relatif bagi semua orang.

Yang terpisah jauh dapat merasa dekat, melekat.
Dan sebaliknya yang dekat, dapat terasa begitu jauh.

Kau jauh. Namun seolah kubawa sebagian dirimu,
itu kenapa namamu selalu teringat.

Kau dekat. Namun keberbedaan yang menyiksa kita,
memberi sela yang bahkan lebih jauh daripada jarak Palembang — Bandung.

Maka selama ini orang salah menatap jarak.
Yang salah bukan jalan, atau udara atau rel kereta.

Namun ruang dan sela lain diantara tubuh dan pikiran kita.

Disamping itu.
Aku disini bersama rindu.

Datang tiap-tiap selang waktu, terlalu sering.
Terutama pada hujan dan malam-malam begini.

Meresap dalam tubuhku,
membawa perasaan dingin dan kelabu.
Tidur di dalam sana…membuatku mengingat semua perjalanan kita.
Namun dengan diiringi lagu latar yang begitu sedih dan hampa.

Aku ingat kereta pertama kali bagiku, bersamamu. Saat itu begitu seru. Satu, yang pertama, tak akan pernah kulupa sampai rambut di kepalaku memutih. I assure myself.

that was the simplest moments that made me feel so happy in my life.

Aku ingat jalan kaki menyenangkan di hutan hijau yang tenang. Hanya ada aku, kamu dan rimbunan pohon di atas kepala kita. Saat itu bersamamu, tak pernah bisa aku bayangkan.

Dan, aku ingat Gorilla afrika punggung perak di Schmutzer, Kumbo,
dia sama halnya mengagumkan denganmu. Kesukaanku.

Dan terlalu banyak momen lainnya untuk kutuliskan.

Maka cerita ini tak ada batasnya.

Hanya berisi bagaimana sebenarnya rindu ini menggangguku.
Membuatku tak tahan untuk tidak meluapkan rasa rindu itu.

Yang kadangkala terluapkan tak terkendali,
membakar api dengan sembrono.

Dan intinya aku sangat rindu kamu sekarang.
Karna ini malam-malam dan hujan.

Bukan karena jarak.

Namun karena bahkan kau kini begitu jauh walau masih ada Line.

Maaf untuk ruang dan sela yang mengganggu kita.

Jika kamu mau bersabar.

Niscaya jarak akan memberikan sisi positifnya.

Akan kubawa kita naik kereta, kehutan, bertemu Kumbo.

Malam ini, dimimpi dulu.

Sampai bertemu, pada saatnya nanti.
Aku rindu kamu.
Sekarang.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Natamalana’s story.