Fiksi (2008): Pembebasan Wanita dalam Ambang Realita

Natasha Kuswanto
Aug 24, 2017 · 2 min read

(Disclaimer: Tulisan ini ditulis oleh seorang amatir yang masih berusaha memahami seluk-beluk dunia termasuk film dan gender)

Source: 21cineplex.com

Dalam sebuah kehidupan, banyak orang mempertanyakan batas antara realita dan fiksi. Mouly Surya dan Joko Anwar mencoba mengembangkannya dalam Fiksi (2008) yang diperankan oleh Ladya Cheryl, Donny Alamsyah, Kinaryosih dan Inong. Fiksi mencoba untuk melihat pembalikan kisah dari Alice in Wonderland.

Trailer Fiksi (2008). Source: Youtube

Sinopsis:

Alisha (Ladya Cheryl) merupakan seorang anak penyendiri dari keluarga kaya raya tumbuh dengan bayang-bayang ibunya (Inong) yang meninggal di depan matanya. Pada suatu hari, ia melihat Bari (Donny Alamsyah), seorang penulis yang bekerja sampingan di rumahnya, mencuri miniatur kelinci miliknya. Tertarik dengan Bari, Alisha pun mengikutinya dan memutuskan tinggal bersebelahan dengan kamar Bari dan pacarnya, Renta (Kinaryosih) di rumah susun. Bari yang sedang kesulitan dalam menyelesaikan ceritanya, menceritakan kepada Alisha tentang cerita-ceritanya yang didapatkan di rumah susun. Dari situ lah, terjadi kejanggalan-kejanggalan di rumah susun tersebut.

Fiksi memang tidak secara langsung membuat pembebasan wanita menjadi topik utamanya. Namun, tokoh Alisha sendiri memberikan poin pembebasan tanpa memandang rendah laki-laki. Alisha meninggalkan kesan bahwa ia kuat dan dapat berdiri sendiri. Ia tak mau terjebak dalam dunia ‘idaman’ (kata orang). Ia butuh hal yang berbeda, ia haus akan tantangan.

Pembebasan yang dibawa oleh Alisha seakan dipatenkan dengan keputusannya dalam memilih dunia seksualitasnya. Bukan, dia tidak memilih untuk mengganti orientasi seksualnya, tetapi ia memilih kapan dan dengan siapa ia melakukannya. ‘Tidak ada yang bisa menghalangiku’ atau ‘Tubuhku otoritasku’ mungkin sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

Kekuatan seorang Alisha juga terlihat ketika ia tidak menjadi objek, melainkan ruler bagi cerita-cerita Bari. Ia bukanlah tipe perempuan yang duduk dan menunggu takdir. Dia lah yang membuat takdir itu. Tak ada yang dapat menggantikannya, bahkan Bari yang seharusnya menjadi subjek utama.

)

Written by

Rookie. Talk to me through natashakuswanto@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade