Pulang Tanpa Alamat (2015): Potret Ironi Kehidupan Berke-’Bhinneka Tunggal Ika’-an

Natasha Kuswanto
Aug 27, 2017 · 2 min read

Keragaman adalah hal yang selalu dibangga-banggakan oleh bangsa ini. Semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’ pun menjadi kata-kata populer. Sayangnya, teori hanya lah sebatas teori dengan praktek yang minimal. Ya, keragaman masih terkesan menjadi momok yang menakutkan terutama dalam konteks identitas, baik bagi kaum mayoritas maupun minoritas. Pada iklim politik yang seperti sekarang, yang minoritas dikatakan sesat, yang mayoritas dikatakan hipokrit. Ide-ide ‘Bhinneka Tunggal Ika’ seakan tidak lebih dari sekadar barang jualan atau tiket emas para politikus, tanpa ada arti yang sakral.

Source: Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Ironi-ironi yang terjadi mencoba diilustrasikan dalam film ‘Pulang Tanpa Alamat’ oleh Riyanto Tan Ageraha. Film ini sebenarnya merupakan adaptasi dari cerpen dengan judul yang sama oleh Abidah El Qaliqy tahun 2010. Lookout Pictures bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan D.I. Yogyakarta untuk menggarap film ini. ‘Pulang Tanpa Alamat’ diperankan oleh Ibrahim Yulianto, Rukman Rosadi, Nurul Hadi, Brisman HS, Hamdy Salad dan Ibnu Widodo.

Sinopsis:

Perjalanan rahasia dua orang preman, Remo (Rukman Rosadi) dan Bondet (Ibrahim Yulianto) berakhir tragis ketika Remo seketika meninggal tanpa sebab. Bondet yang merupakan sahabat Remo tidak tahu asal muasal Remo sehingga meminta bantuan Durahman (Hamdy Salad), seorang teman yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif untuk menguburkannya. Namun, problematika muncul ketika pemakaman Remo dihubungkan dengan konteks identitas.

‘Pulang Tanpa Alamat’ menyuguhi penontonnya dengan dilema-dilema yang secara tidak sadar menjadi ironi dari semboyan keberagaman. Hal-hal berbau identitas seperti agama, ras, ekonomi bahkan status sosial menjadi pembatas bagi rasa kemanusiaan. Di akhir hidupnya, manusia sudah selayaknya diberi tempat peristirahatan yang nyaman dan pemakaman salah satunya. Namun, hal sedasar itu pun dapat menjadi sebuah perdebatan jika dihubungkan dengan identitas.

Melalui kematian Remo, seakan mengatakan bahwa untuk hal kehidupan dan pasca kehidupan, menjadi orang baik saja tidak cukup. Harus kaya, harus memeluk agama tertentu, harus punya status sosial tertentu, harus begini, harus begitu. Film ini menjadi bagian dari refleksi kehidupan manusia era ini (dan mungkin era-era sebelumnya) akan bagaimana teori-teori keberagaman dengan semboyan tertentu menjadi sebuah kegamangan.

)
Natasha Kuswanto

Written by

Rookie. Talk to me through natashakuswanto@gmail.com

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade