Komplikasi Kehidupan

~This is my first post and maybe the title is freak~

Perkenalkan nama saya Natasha Pradita Putri lahir di hari Sabtu siang , pada tanggal 25 April 1998. Saya merupakan salah satu dari sekian banyak manusia yang terlahir di muka bumi pada era 90-an dimana gadget, jejaring sosial dan segala kemudahan belum tersedia seperti sekarang. Era dimana rezim Soeharto mengalami kemunduran akibat beberapa faktor.

Berbeda dengan anak pada era 90-an, anak-anak yang terlahir di abad 20-an cenderung mendapatkan kemudahan yang luar biasa. Yang lebih mengherankan, anak balita saja sudah diperkenalkan dengan gadget setara yang dimiliki anak era 90-an, lagu-lagu dangdut yang menjadi ciri khas negara ini namun memiliki makna yang tidak seharusnya pun sengaja diperdengarkan, lagu-lagu barat seperti one direction, justin bieber dsbt pun diperdengarkan juga. Bagus jika melatih kemampuan lingustik tapi bagaimana kalau lain tujuannya? Beberapa anak yang menginjak masa remaja namun berpenampilan lebih tua contohnya anak smp yang berpenampilan menor dan tidak menampakan seperti umur aslinya menggunakan makeup, perhiasan serta baju dan tasnyapun berharga ratusan bahkan ada yang jutaan. Zaman sekarang, jalankan anak SMA, anak SD saja sudah diberikan fasilitas tab dan hp Iphone. Cara bebicara pun cenderung lebih aneh dengan kata-kata bermakna lain seperti kepo,lebay,kamseupay,alay dsb. Masih mending hanya terucap “gue” “elu” lah kalau istilah “kebun binatang” yang keluar ? Berbicara dengan yang lebih tuapun kadang tidak sopan. Coba bayangkan sejenak, seberapa banyak pengaruh dari apa yang mereka tangkap dan lihat ?

Padahal pada saat saya masih balita, saya lebih diperkenalkan bermain sempoa, puzzle, diperdengarkan musik klasik, lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh sherina, tasya dan joshua thats my favourite song. Beranjak sd main di lapangan dengan teman-teman panas-panasan pula. SMP kelas satu hppun masih layar hitam putih dan gamenya hanya ular saja. Remember about Nokia Mobile Phone?

Anak di abad 20-an memiliki akses mengetahui dunia luar lebih besar, cepat dan mudah dibandingkan anak era 90-an bukan pada porsinya. Bukan berarti anak era 90-an itu “kurang update” tapi menurut pendapat saya, peran orangtualah yang sangat berbeda dan sangat mempengaruhi. Selain peran orang tua, pengaruh dari lingkungan sekitar yaitu teman-teman sangat-sangat mempengaruhi. Kita bisa mengambil contoh bullying yang terjadi di kalangan pelajar baik tk-sd-smp-sma menurut pendapat saya, itu terjadi karena pemaksaan terhadap golongan lemah yang berusaha mempertahankan diri menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya.

Anak era 90-an lebih banyak mendapatkan pengenalan mengenai kehidupan sosial yang nyata seperti bermain congklak, gobak sodor, masak-masakan, ular naga, pecle, egrang, gasing dsbt. Semua itu merupakan permainan yang mengajarkan solidaritas, kecepatan dan kepekaan terhadap lingkungan. Sedangkan kebanyakan anak abad 20-an pasti tidak mengetahui permainan tersebut. Saya meyakini anak abad 20-an lebih cenderung tertarik bermain pokemon go, get rich, clash of clans, playstation, berselfie ria, bersnapchat, upload instagram, vlog, dan berpacaran. Meski tidak menutup kemungkinan anak era 90-an juga melakukan hal yang sama tapi bisa kita telaah lebih dalam akan perbedaan umur anak abad 20-an dan era 90-an dan perbedaan cara berpikir. Beberapa anak era 90-an sudah bisa memprotect diri agar tidak terbawa oleh efek negatifnya. Bagaimana dengan anak abad 20-an? Mereka bisa. Tapi bagaimana jika kecanduan? Sudah tidak bisa diminimalisasi? Apa yang terjadi? Sementara anak era 90-an dan abad 20-an merupakan permata baru yang akan lahir mempersiapkan,membenahi dan membuat Indonesia menjadi negara yang berkilau, mampu bersaing dengan negara lain bahkan kita merupakan generasi yang harus bisa membuat negara-negara lainnya takluk seperti yang pernah dilakukan oleh Putra Sang Fajar.

Sebagai bagian dari kaum intelektual, kita wajib prihatin dengan keadaan seperti ini. Keadaan seperti ini yang bisa-bisa terus menerus mengikis moral anak bangsa, melunturkan sikap nasionalsime, ketidakpedulian terhadap lingkungan sekitar dan yang paling parah jika generasi penerus tidak ada yang memperdulikan nasib negara ini di masa depan. Bisa-bisa Indonesia hanya mengalami kemajuan teknologi dan kecanggihan SDM dalam menggunakannya tanpa memperdulikan keadaan ekonomi, politik dan sosial disekitarnya.

Kita memang tidak bisa menghentikan segala sesuatu yang telah terlanjur terjadi. Tapi kita harus memiliki cara untuk meminimalisasi hal seperti ini dan berusaha memperbaiki. Kita sebagai kaum muda yang beberapa tahun kedepan akan membina rumah tangga dan memiliki keturunan, harus mampu membenahi dan menjaga agar anak kita bisa menjadi bibit yang baik dan berguna bagi bangsa Indonesia.

Jangan sampai buku-buku berdebu dan gadget berserakan dimana-mana tapi jadikanlah buku-buku yang berserakan dan gadget yang berdebu. Kehidupan yang berkualitas berasal dari buku-buku yang tampak secara nyata bukan gadget yang canggih. Secanggih-canggihnya gadget yang kita genggam tidak akan bisa mengubah dunia apabila kita tidak dapat menggunakannya secara arif dan bijaksana. Jangan sampai calon-calon pembangun bangsa lebih tertarik bermain gadget daripada membenahi Indonesia secara real.

Dalam postingan saya, saya tidak bermaksud menyinggung anak-anak yang lahir di abad 20-an dan menyombongkan diri bahwa anak era 90-an lebih baik dari abad 20-an. Saya hanya ingin mengungkapan pendapat dalam tulisan dan mencoba membuka pikiran para pembaca. Saya juga mengajak para pembaca untuk mulai peduli terhadap kehidupan sosial yang terjadi di sekitar kita terutama kehidupan “anak-anak” yang sangat manarik, apalagi di zaman yang seperti ini permasalahan mengenai kehidupan anak-anak mulai muncul ke permukaan secara nyata. Mari sama-sama membangun Indonesia yang lebih baik!

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Natasha Pradita’s story.