Ibadah
Yogyakarta, 6 November 2019
Ibadah pagi buta yang terlewatkan, pun dibuat malam tetap akan sama. Aku benci repetisi yang diwajibkan. Beribadahlah jika ingin. Beribadahlah karena ingin. Semula menjadi kontradiktif ketika kudengar seseorang berpendapat lain, beribadahlah karena butuh; namun kemudian menjadi mesra setelah dikawinkan dengan salah satu di antaranya: beribadahlah karena butuh, jika kau ingin.
Ibadah bagiku merupakan sebuah kebiasaan yang dijamah demi kembalinya kewarasan. Demi tercapainya kenetralan. Sudah seribu kali aku dibuat uring-uringan karena berdiri di tengah hingar bingar fantasi dunia dan kegagalan serta keberhasilannya. Murung di atas gagalnya, sumringah di tengah berhasilnya. Manusia pada dasarnya hampa dan berdiri tegak tanpa condong ke arah mana pun, namun menjadi hidup karena emosinya. Karena dogma yang diyakininya. Pada akhirnya ia tetap butuh pulang. Kepada ketenangan dan kedamaian. Kepada ibu dan kehangatan.
Itulah mengapa aku di sini. Menulis dan mencurahkan. Sebelumnya hanya kutujukan kepada yang teristimewa; aku menulis untuk mengungkapkan perasaan yang tidak dapat kuutarakan melalui pembicaraan antara dua orang atau lebih, kemudian menjaga intimasinya dengan menyimpannya untuk diriku sendiri. Terkadang kuberikan pada yang bersangkutan, jika ingin. Aku menulis karena aku merasakan. Aku menulis karena aku butuh, saat aku ingin.
Ada banyak hal yang tidak kutemukan di pijakan eksplorasiku menelaah yang lain, namun dengan menulis, aku terbuka. Dengan menulis, aku tenang. Dengannya pula aku berproses dengan diriku sendiri. Mengenal, namun tidak menghakimi. Menjelajah, namun tidak buntu apalagi tersesat. Aku menemukan banyak sekali ternyata bersamaan dengannya. Memilah dan mengoreksi. Bertransformasi, dan seiring dengannya, aku mengerti. Segala hal yang ada di sekitarku, yang eksistensinya sekian lama teracuhkan tanpa sadar, kemudian menjadi besar dan kusyukuri. Juga detail-detail yang esensial, yang kutau sifatnya tidak akan kekal jika kusimpan sendiri saja. Dari sanalah mengalir cerita. Dengan begitulah, kelak, aku akan mengenang.
Maka, berbahagia dan hiduplah dengan sejahtera segenap umat manusia yang sudah menemukan samudera tempatnya pulang di lingkaran kesederhanaan seperti ini. Semoga semua cepat berjodoh dengan kedamaiannya, sebab sering mereka dituntut untuk menjadi waras di tengah kegilaan yang konsumtif. Beribadah sudah sepatutnya menjadi mudah dan sederhana; beribadahlah karena kau butuh, jika kau ingin.
