Buku 1.1: The Prologue
Setelah sekian lama menunggu dan menunggu, akhirnya pada tepat pada tengah malam tahun baru 2014, chapter ini muncul juga ke permukaan Marcapada. Antisipasi dan ekspektasi yang tinggi dari para Jagawana terbayar lunas sudah dengan chapter pembukaan yang luar biasa ini.
Kemunculan perdana Ksatria Nusantara Merah (mamang gondrong bertato) yang super keren yang disajikan melalui mimpi menambah kesan misterius yang ada sekaligus mengajak pembaca seolah berpikir “apakah ini nyata, ataukah semuanya hanya mimpi?” Ditambah usaha luar biasa tim kreatif NusantaRanger yang mengintegrasikan cerita ini dengan sejarah dunia yang benar-benar terjadi, seolah membawa pembaca untuk mengamini bahwa “semua kisah ini benar terjadi, bukan hanya mimpi maupun fiksi.”
Setting cerita chapter pertama yang dirancang sederhana dan ringkas, dengan hanya bertempat di rumah Rangga, membuat pembaca mendapat kesempatan untuk seolah mengenal Rangga lebih dekat, anak SMA biasa yang sebentar lagi akan pergi ke study tour ke sebuah candi dan memulai sebuah petualangan yang luar biasa dan mengubah hidupnya selamanya.
Halaman terakhir chapter pertama ini luar biasa keren, penuh dengan “energi gerak” seolah mengajak pembaca ikut berlari bersama Rangga, menuju ke sebuah pintu petualangan baru. Ya, sebuah pintu petualangan bernama NusantaRanger, yang akan segera terbuka. Kalau suatu hari kisah NusantaRanger akan dibuat animasinya, saya bisa membayangkan adegan Rangga berlari ke depan dengan terlihat punggungnya ini akan cocok sekali dimasukkan di bagian awal Intro/OP dari animasi tersebut.
Buku 1.2: The Beginning and the Backstory
Chapter ini dimulai dengan membawa kita ke dalam konflik yang sedang terjadi. Kawanan misterius menyerang para penjaga candi dan menewaskan mereka (dari gambarnya saya asumsikan mereka tewas dan di chapter 3 juga disebut bahwa “ada kasus pembunuhan” di kawasan candi tersebut).
Disini komik NusantaRanger memberikan penekanan tegas bahwa musuh disini benar-benar berbahaya, tidak main-main dan mereka bahkan tidak segan-segan membunuh orang demi mencapai tujuan mereka. Nuansa gelap dari cerita NusantaRanger mulai dimunculkan di sini. Satu hal yang saya pikirkan dan ingin tahu pendapat dari pembaca lain dan tim NusantaRanger, dengan sasaran pembaca komik ini yang menyasar semua umur, apakah adegan pembunuhan ini dianggap masih bisa diterima oleh pembaca anak-anak (walaupun memang dua penjaga candi ini tidak sampai dibunuh dengan cara yang kelewat kejam atau berdarah-darah sih)?
[ Sebenarnya kalau dipikir-pikir komik “anak-anak” seperti Naruto, Dragon Ball dan One Piece juga menampilkan adegan orang terbunuh sih, malah lebih kejam, jadi mungkin hal diatas tidak perlu terlalu dipermasalahkan. ]
Tak lama kemudian, kita dibawa ke suasana yang sangat familiar, sekelompok anak SMA yang sampai ke lokasi study tour, lengkap dengan mereka yang langsung foto-foto dan ambil selfie begitu turun dari bus. Hal ini membawa kita kembali menuju realita dan “menjejak bumi”, setelah melewati bagian awal chapter ini yang bernuansa fantasi. Ini hal yang bagus sekali karena membuat dunia NusantaRanger menjadi terkesan nyata, dan grounded sehingga mudah bagi para pembaca untuk berelasi dengan komik ini.
Adanya karakter Kei (Mbak Abuget?) disini sebagai sahabat yang hobi sekali membully Rangga juga membantu membangun nuansa komik ini sebagai cerita sehari-hari yang bisa terjadi dalam kehidupan semua orang (sering disebut “slice of life”), sekaligus membantu memperkuat karakter Rangga sebagai remaja yang biasa saja, bukan seseorang yang spesial atau seorang yang terpilih ala “You are the Chosen one” seperti Anakin Skywalker.
[ Walaupun begitu, sebenarnya saya juga ingin tahu sih kenapa Rangga yang dipilih Ksatria Nusantara Merah untuk menjadi penerusnya di jaman ini. Apalagi kakek si Rangga sepertinya tahu sesuatu tentang hal ini, seperti yang diisyaratkan di chapter sebelumnya. Semoga nantinya hal ini dibahas juga sebagai jawaban dari beberapa kritikan “sepertinya Rangga terlalu mudah menerima tugas dan tanggung jawab ini tanpa penolakan sama sekali.” ]
Bagian backstory yang luar biasa epic dimulai dari halaman 11 dengan kemunculan Ksatria Nusantara Merah disertai art dan paneling yang luar biasa dahsyat. Sepertinya setiap perkataan Ksatria Nusantara Merah memang dirancang untuk jadi epic luar biasa dan penuh kharisma serta wibawa seorang pahlawan, seperti:
- “Rangga… akhirnya kau berhasil sampai disini…”
- “Ini bukan mimpi, Rangga…”
- “Aku adalah Ksatria Nusantara Merah” — INI SUPER EPIC!
- “Rangga… aku sudah lama mati…”
Suka banget art dan perkataan Ksatria Merah di bagian yang terakhir ini, emosinya sangat terasa. Perjuangan berat, pengorbanan dan kepahlawanan sang Ksatria Merah untuk mengunci Kelana sangat terasa. Ada terasa aura kesedihan dan kepedihan disini saat dia menceritakan kisah perjuangannya dulu pada Rangga. Mungkin karena mengingat fakta bahwa dia adalah ksatria terakhir yang hidup dan berhasil mengunci Kelana, dimana mungkin semua sahabatnya telah tewas dalam pertempuran 200 tahun yang lalu itu.
Di chapter kedua ini untuk pertama kalinya ditunjukkan langsung wujud dari ketujuh Sandekala, musuh para NusantaRanger. Empat diantaranya ditampilkan dengan jelas dan tiga diantaranya mengambil peranan langsung di awal chapter ini. Adanya villain yang kuat dan keren adalah salah satu faktor utama dalam membuat kisah NusantaRanger ini menjadi sukses. Karena seperti yang kita lihat di banyak cerita-cerita yang terkenal dan melegenda, pembaca bisa menyukai baik si pahlawan maupun lawannya.
Desain para Sandekala yang misterius dan terlihat kejam memberikan daya tarik yang kuat. Sepertinya mereka bisa menjadi villain yang menarik dan juga disukai fans sebesar mereka menyukai para NusantaRanger. Dari yang saya lihat, kemunculan pertama Sandekala di chapter kedua ini sangat berhasil dalam menarik minat para fans. Great job! Karakterisasi yang kuat dari masing-masing Sandekala di chapter-chapter selanjutnya akan sangat diperlukan untuk membantu menarik minat fans lebih lagipada mereka.
A hero is only as good as his villain.
The measure of a hero is the obstacles he has to overcome.
Art dari Sweta Kartika di chapter kedua ini mulai halaman 11 sampai habis semuanya sungguh luar biasa, namun jika disuruh harus memilih satu bagian paling luar biasa, maka panel inilah yang saya pilih menjadi juaranya:

Panel yang menggambarkan pertempuran epic ini penuh dengan nuansa “final boss battle” dari sebuah game RPG atau anime. Desain kelima Ksatria Nusantara dimunculkan disini untuk pertama kalinya, membuat pembaca jadi tidak sabar untuk bertemu dengan keempat Ksatria Nusantara lainnya. Panel ini penuh dengan energi, eksplosivitas dan ketegangan yang begitu memuncak. Kalau suatu hari nanti NusantaRanger dibuatkan serial TV atau animasinya, maka saya bisa membayangkan adegan ini sangat cocok untuk ditaruh di bagian opening intronya. Ingin juga suatu hari nanti melihat side story dari pertempuran para Ksatria Nusantara ini melawan Kelana.
Chapter kedua NusantaRanger ini berisi 20 halaman yang dipenuhi dengan konten yang padat (perhatikan detail dari gambar di setiap halamannya!), penggambaran karakter yang sangat kuat, dan plot cerita yang bergerak maju dengan cepat. Dan halaman terakhir pun diisi dengan sebuah kata yang menaikkan ketegangan dan adrenalin sampai ke puncak yang tertinggi. Kata yang sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemar super sentai series…
“Berubah!”
Sebuah halaman yang sangat luar biasa untuk menutup chapter kedua, dan membuat penantian menuju chapter ketiga menjadi terasa begitu lama. Penutup yang membuat saya tidak bisa tidur malam itu karena otak saya terus menerus membayangkan akan seheboh apa chapter 3 nantinya.
Hanya dalam dua chapter, tim NusantaRanger sudah mampu menyelesaikan banyak sekali tugas utama mereka dengan baik. Pengenalan karakter tokoh utama, pengenalan karakter musuh, latar belakang cerita, semua hal penting diselesaikan hanya dalam dua chapter yang berjumlah total 32 halaman.
Saya memiliki ekspektasi yang luar biasa tinggi terhadap NusantaRanger ini sejak ide awal komik ini mulai berterbaran di Twitter, dan setelah melihat dan membaca chapter kedua ini, semua penantian dan antusiasme saya pun terbayar lunas sudah, digantikan dengan penantian akan ketegangan yang lebih tinggi dan adegan pertarungan yang lebih seru, yang akan dimulai dari berubahnya Rangga menjadi Nusa-Red pada chapter ketiga yang akan datang.
P.S: Itu gelang Kana Nusantara versi modern yang dipakai Rangga keren banget. Boleh kali dijadiin merchandise, gue pengen beli…
NusantaRanger, kenapa sih kamu harus terbit hanya sebulan dua kali…? :|
Email me when Nathan P. Suwanto publishes or recommends stories