
Mengapa Generasi yang Lebih Tua Cenderung Menganggap Generasinyalah yang Paling Baik?
Kenapa sih angkatan sekarang lebih malas dan enggak banyak inisiatif. Beda banget sama angkatan kita dulu.
Ujaran di atas sering sekali saya dengar dari teman-teman saya. Maklum saja, saya ketika SMA dulu bisa dikatakan cukup aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler. OSIS adalah salah satunya. Tidak dapat dipungkiri OSIS SMA-lah yang membentuk diri saya sampai saya saat ini menjadi mahasiswa.
Ketika saya menjadi bagian dari OSIS, saya dituntut untuk selalu berpikiran terbuka, atau anak sekarang nyebutnya open minded. Posisi saya memang tidak seberapa saat di OSIS SMA. Hanya anggota Divisi Dekominfo (Desain, Komunikasi, dan Informasi). Kerja bareng teman-teman di Dekominfo sebenarnya asyik-asyik aja sih. Mengingat saya membidangi khusus desain, walau kadang saya meng-handle subdivisi Kominfo juga alias ya serabutan. Hehe.
Membidangi Dekominfo susah-susah gampang sebenarnya. Orang cenderung berpikir, “Wah enak ya, kerjaanya main sosmed mulu sama laptop-an.” padahal kenyataannya memang cuma main sosmed sama laptop-an aja sih. Tapi yang membedakannya adalah,
Besok gue ngonten apaan ya.
Ini yang paling pusing. Kita sebagai, content creator, content supplier dan content distributor sekaligus. Harus paham yang dibutuhkan hingga disukai audiens kita itu seperti apa. Saya percaya bahwa komunikasi yang baik menandakan sesuatu berjalan minimal normal hingga luar biasa baik. Mudahnya, kamu lebih percaya portal berita arus utama mana yang unggahan Instagram-nya rutin dan eye-catching atau portal berita yang unggahannya bisa 1 tahun sekali? (enggak ada sih kecuali emang bangkrut itu portal berita).
Singkat cerita, waktu berlalu hingga saya dan rekan sedivisi saya harus pamit alias lengser. Hal yang menarik justru muncul setelah babak ini. Yakni setelah terpilihnya pengurus baru di OSIS SMA saya.
Kepengurusan baru berjalan setengah semester sudah banyak teman-teman yang mengeluh ke saya (bahkan sampai saat ini). Baik yang dulu ikut di kepengurusan ataupun bukan.
Kebanyakan dari mereka merasa cukup kecewa dengan aktivitas sosial media resmi SMA saya yang dulu pernah saya dan rekan-rekan saya tangani. Mereka mengeluhkan bahwa sekarang akun sosmed SMA, khususnya Instagram menjadi sepi alias jarang ada unggahan dan cenderung membosankan. Ini menarik. Kenapa menarik? Karena bagi saya pribadi, akun Instagram SMA saya tidak ada sesuatu yang luar biasa ketika saya kelola. Benar-benar biasa saja, paling hanya lebih intens dalam melakukan unggahan. Malah justru di kepengurusan baru, unggahan seperti aftermovie setiap kegiatan lebih digarap dengan baik dan menarik.
Saya selalu bertanya kembali, “memangnya yang dulu gimana? perasaan ya begitu-gitu saja ah.”. Mereka selalu berdalih bahwa argumen yang saya katakan tidaklah benar bagi mereka. Ini yang membuat saya makin penasaran. Apa memang selalu seperti ini generasi pendahulu menganggap generasi di bawahnya?
Sudah barang lama ketika ada generasi yang lebih dahulu menganggap remeh generasi di bawahnya. Dikutip dari tirto.id pada unggahan Mengapa Orangtua Kerap Menganggap Anak Muda Bodoh?
Aristoteles, misalnya, dalam Rhetoric — risalah Yunani kuno tentang seni persuasi — yang keluar pada 4 SM menyebut bahwa anak-anak muda “merasa tahu tentang segalanya dan selalu yakin dengan perasaan itu.”
pada tahun 1984, Wall Street Journal, melalui artikelnya yang berjudul “Not Ready for Middle Age at 35” yang saya kutip dari The Atlantic berjudul Every Every Every Generation Has Been the Me Me Me Generation menulis bahwa
Mereka yang berusia 35 dan memiliki anak cenderung memilih berada di zona nyaman dan tak mau mengambil resiko yang besar.
dikutip dari publikasi Trzesniewski, Kali & Donnellan, M. pada 2010 yang berjudul Rethinking “Generation Me” A Study of Cohort Effects From 1976–2006 kolumnis Ruben Navarrette berkata
… Many of these kids were raised to believe that they were ‘‘special.’’ In the workplace, they are tough to manage. They dress like slobs, question authority, shrug off criticism.
Sudah hal umum bahwa setiap generasi selalu menaruh perhatian hingga harapan yang cukup besar kepada generasi penerusnya. Sayangnya bagi generasi pendahulu, generasi penerus ini memiliki masalah seperti tinggi nya sikap egois, self-esteem, dan ekspektasi yang tinggi mengenai masa depannya. Sehingga generasi penerus ini dikenal dengan istilah Generation Me.
Mereka (generasi pendahulu) terkadang tidak menyadari bahwa ketika mereka dianggap sebagai generasi penerus, mereka juga melakukan hal yang sama.
Hal tersebut dibuktikan dengan tidak adanya korelasi antara egotism, self-esteem, attitude, feeling helpless dan sebagainya dengan cohort. Cohort adalah sekumpulan orang-orang yang memiliki kesamaan karakteristik, biasanya dalam hal tahun kelahiran, usia, dan sebagainya.
Sebagai bukti telah dilakukan pengujian oleh Trzesniewski dkk., bahwa siswa SMA pada tahun 1970-an dan 2000-an kurang lebih memiliki kesamaan yakni merasa paling paling pintar dari lainnya.
Walaupun begitu, perlu disadari bahwa Generation Me memiliki kecenderungan sulit untuk mempercayai dan mudah sinis. Namun, walau terdapat kecenderungan pada dua hal tersebut. Peneliti belum mampu menemukan bukti signifikan mengenai korelasi cohort dan generational behavior tersebut. Walaupun begitu, peneliti menemukan sedikit bukti adanya permasalahan yang dialami Generation Me mengenai perasaan keberhargaan diri yang tinggi (self-worth), egotisme (egotism), dan tingkat kesengsaraan atau kesedihan (rates of misery).
Lantas mengapa generasi pendahulu cenderung merasa bahwa generasinyalah yang paling baik dan hebat?
Menurut teori psikologi, menunjukkan bahwa kepedulian yang cukup besar harus diwujudkan ketika membentuk generalisasi mengenai sekumpulan orang dalam suatu grup berdasarkan keterbatasan persepsi yang mungkin dipengaruhi oleh sesuatu yang sangat membekas di ingatan (Trzesniewski, 2010).
Mudahnya, ketika kita hendak melabeli sekumpulan orang, maka kita harus menaruh rasa kepedulian dan perhatian yang cukup besar terhadap sekumpulan orang tersebut. Yang terkadang dipengaruhi oleh hal-hal paling membekas dari sekumpulan orang tersebut. Hal ini terjadi pada penilaian generasi pendahulu terhadap generasi penerus (Generation Me).
Dewasa ini mudah sekali mengakses informasi. Dari hal serius mengenai kebangsaaan seperti cuitan Prof. Mahfud MD di twitter hingga cuitan receh nan jenaka Budesumiyati. Hal yang sama terjadi pada persepsi generasi pendahulu mengenai Generation Me.
Dengan mudahnya akses informasi, kehebatan serta kecerdasan hingga kebodohan, kemalasan, dan segala stigma buruk Generation Me dapat diakses langsung. Sayangnya, hal-hal negatif Generation Me lebih mudah ditemukan di dunia maya saat ini. Sehingga persepsi yang membekas kebanyakan adalah buruk.
Confirmation Bias juga menambah masalah persepsi yang terbentuk di generasi pendahulu. Confirmation Bias adalah kecenderungan menjadikan sebuah bukti menjadi konfirmasi akan teori atau kepercayaan yang dia anut.
Tidak hanya terjadi antar generasi, hal ini juga berpotensi terjadi pada periode yang cukup dekat seperti pengalaman saya di awal. Karena sekali lagi, menurut penelitian tidak ada hubungan yang signifikan antara cohort dengan cara berpikir, merasakan, dan bersikap.
Lantas solusi apa yang dapat diterapkan mengenai masalah ini?
Sebenarnya sangat mudah, komunikasi terbuka adalah kunci. Keterbukaan yakni dengan menerima segala pemikiran. Suka tidak suka, tiap generasi dibesarkan oleh kondisi yang berbeda-beda. Ketika komunikasi terbuka dan terjalin dengan baik. Maka kebutuhan tiap generasi akan bisa diterima dengan besar hati dan tangan terbuka oleh kedua pihak.
