Menggoreskan Pena Virtual untuk Pertama Kalinya.

Di suatu Senin yang suram, di saat hujan turun dengan deras sepanjang hari, di saat motivasi untuk bekerja dihisap oleh awan-awan gelap yang menutupi cahaya matahari, di saat sebuah pesan di telefon mengabarkan berita buruk berkaitan dengan pekerjaan saya.

Anggap ini sebuah permulaan. Permulaan tanpa sketsa namun sudah direncanakan oleh angan-angan yang berbisik kepada saya dari tahun lalu. Saya menulis tanpa tujuan, saya menulis tanpa arahan. Teruntuk audiens virtual yang mungkin membaca sesaat, dan jika berkenan membaca sampai akhir lanturan kata ini.

Artikel ini akan menjadi jejak tulisan pertama saya di dunia virtual.

Jangan salah! Saya suka menulis, dan menurut saya tidak ada olahraga pikiran yang lebih baik daripada menuliskan apa yang dipikirkan.

Namun apa daya, apa yang saya tuliskan hanya terekam dengan goresan pena yang dicamkan dalam jurnal pribadi. Tidak ada mata yang melihat, tidak ada pikiran yang melahap tulisan tersebut, dan tidak ada kritik yang membuat saya berkembang.

Apa yang anda baca saat ini, layaknya sebuah karya Affandi yang hanya menggunakan cat dan goresan tangan sebagai mediumnya, sebisa mungkin saya meminimalisir jeda antara lanturan pikiran saya dan tangan saya yang berlomba mengetik sisa-sisa lanturan tersebut.

Terjun bebas ini saya gunakan sebagai momentum untuk sebuah pernyataan.

Sebuah pernyataan virtual yang mungkin akan tenggelam dalam luasnya lautan kode binari digital. Sebuah jawaban akan perasaan iri terhadap teman-teman yang berani menampilkan karyanya ke khalayak luas, dan sebuah kesaksian terhadap keinginan jiwa untuk meluapkan emosinya secara sistematis.

Saya menulis, terjadilah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.