Hello, we are Y

Saat ini kita hidup di dunia sebagai satu umat manusia. Bila kita lihat lebih lanjut, kita sebenarnya terkelompokkan kedalam beberapa generasi. Generasi tua dan generasi muda adalah cara termudah untuk mengelompokkannya. Namun, saat ini terdapat sebuah teori yang membahas mengenai generasi yang diungkapkan oleh Strauss-Howe. Teori ini mencetuskan sebuah klasifikasi Generasi X, Y, dan Z. Klasifikasi ini sangat populer hingga diterapkan di dunia kerja. Agar tidak tertinggal, penting bagi kita untuk memahami hal ini.

Istilah Generasi Y(yang selanjutnya disebut Gen-Y) dipopulerkan pertama kali pada tahun 1993 melalui majalah Advertising Age. Istilah ini digunakan untuk individu yang lahir pada tahun 1982–2004. Generasi ini tidak hanya memiliki sebutan sebagai Gen-Y. Echo Boomers, Generation We, Next Generation, Connected Generation, dan Net Generation adalah nama-nama lain untuk Gen-Y. Karakteristik utama Gen-Y adalah mereka sangat mengenal teknologi, memerlukan ruang untuk pengembangan diri, dan membutuhkan apresiasi atas usaha mereka. Gen Y diprediksi akan menjadi generasi yang pragmatis, percaya diri, protektif pada generasi selanjutnya, dan berorientasi pada kerja sama. Saat dewasa, Gen-Y akan menjadi individu yang kuat secara politik dan optimis.

Karena Gen-Y merupakan generasi yang sangat berorientasi pada kerjasama, maka penting untuk mengenal generasi yang berdekatan dengan Gen-Y. Generasi yang hidup sebelum Gen-Y adalah Gen-X(1961–1981) dan Gen-Z(2005-Sekarang). Gen-X merupakan generasi yang menekankan pada keteraturan, mengikuti alur jalan yang tertera didepannya, dan berusaha untuk tidak keluar dari jalur tersebut. Sedangkan Gen-Z diprediksi akan menjadi generasi yang process-oriented, memiliki pertimbangan yang dalam ketika bertindak, dan memiliki dorongan untuk memperindah dan memperhalus tatanan kehidupan.

Namun, masih ada pertanyaan besar dari paparan diatas, apakah Gen-Y akan menjadi generasi yang mengubah peradaban manusia? Pertanyaan ini sering diajukan secara skeptis oleh berbagai pengamat tatanan sosial. Pengamat berbagai ahli menunjukkan bahwa individu yang terlahir sebagai Gen-Y bersifat egois dan narsis. Banyak yang menulis bahwa Gen-Y adalah individu-individu yang tidak mandiri karena terlalu banyak dimanjakan oleh kemajuan teknologi. Mereka terlena oleh teknologi sehingga menginginkan segalanya instan dan praktis. Tidak semua individu yang terlahir sebagai Gen-Y egois dan narsis. Banyak juga yang memiliki etos kerja yang tinggi dan mandiri. Beberapa perusahaan mengungkapkan bahwa mempekerjakan individu dari Gen-Y sangat penting untuk mendapatkan pandangan yang lebih segar dan kreatif.

Kelebihan yang dimiliki oleh Gen-Y adalah telah terbiasa terpapar teknologi sejak usia dini. Hal ini membuat Gen-Y memiliki selera yang lebih baik. Gen-Y dapat mengetahui barang-barang apa saja yang sesuai dengan dirinya dan barang-barang mana saja yang bernilai jual tinggi. Karena itulah, Gen-Y menjadi generasi yang sangat penting bagi industri-industri untuk memberikan pandangan terhadap produksi barang yang lebih bermutu dan bernilai tinggi.

Gen-Y juga memiliki kekurangan. Kekurangan dari Gen-Y adalah banyak dari mereka yang memiliki sifat selektif bahkan dalam kehidupan karir mereka. Hal ini membuat Gen-Y lebih memilih menganggur dari pada bekerja tapi di tempat yang tidak memenuhi standar hidup mereka. Hal ini membuat individu-individu Gen-Y memiliki loyalitas yang rendah karena selalu mencari tempat kerja yang lebih sesuai dengan gaya standar hidupnya. Banyak perusahaan saat ini merubah budayanya untuk menyesuaikan dengan standar hidup pegawainya, khususnya pegawai Gen-Y. Perusahaan juga tidak lagi memaksakan budayanya pada pegawainya.

Gen-Y juga perlu menghargai koleganya sesama Gen-Y. Cara yang baik untuk menghargai koleganya adalah dengan menghormati perkembangan setiap individu tanpa menghakiminya. Seorang Gen-Y perlu mengetahui bahwa cara untuk mendapatkan hormat adalah dengan menghormati orang lain. Dengan saling menghormati, maka Gen-Y mendapatkan hasil terbaik dari kerjasama antar individu Gen-Y.

Sesama Gen-Y sebaiknya berlaku lebih fleksibel dan lues. Sesama Gen-Y saling menghargai fleksibilitas dan kenyataan bahwa perubahan perlu dihadapi, oleh karena itu penting untuk tidak terlalu kaku dan saling bisa mengikuti irama masing-masing.

Terakhir, Gen-Y menyukai harmoni dan kehidupan yang well-balanced , penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan sehingga jika memiliki masalah dengan Gen-Y sebaiknya segera diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Percayalah, pasti akan ada cara penyelesaian yang baik untuk kedua pihak Gen-Y karena pada dasarnya Gen-Y tidak menyukai konflik yang berkepanjangan.


Find me on LinkedIn: Naufal Ibrahim

-Naufal Ibrahim-