Untuk Para Pembunuh
Hari-hariku belakangan ini berlangsung semakin aneh dan melelahkan.
Rasa-rasanya, aku hampir membuang jauh-jauh diriku dari kerumunan.
Aku agak muak.
Orang-orang berbicara tentang cinta dan persahabatan, tentang kebahagiaan dan nestapa, atau tentang orang lainnya.
Mereka tertawa-tawa sehabis merapalkan mantra-mantra yang jahatnya tak terkira.
Seraya membisikan tujuan dari mantra itu, yang lain mengamini dalam-dalam.
Aku ingin berkata, “tidak perlu, bung!”
Sebab, kawan yang kau racun itu, sudah sekarat juga.
Dia hampir mati sore tadi.
Dia hampir mati berkali-kali.
Atau bahkan, dia mungkin sudah mati saat ini.
Aku sangat bersungguh-sungguh, aku menyaksikannya. Aku yang merawatnya. Aku yang mencoba menghidupkannya kembali.
Sedang kalian masih sibuk terbahak-terbahak mengangkangi.
Sementara aku letih membangun kembali pecahan-pecahan harap yang semoga masih berfungsi.
Kalau boleh kukatan lagi,
“Bung, nona. Kalian tau apa yang kalian injak-injak, kencingi dan racuni itu?”
“Mayat!”
Dia mati.
Aku tidak meminta apapun kecuali nurani.
Aku memohon. Sudahi.
