Untuk Para Pembunuh

Naufal Rizky
Nov 6 · 1 min read

Hari-hariku belakangan ini berlangsung semakin aneh dan melelahkan.

Rasa-rasanya, aku hampir membuang jauh-jauh diriku dari kerumunan.

Aku agak muak.

Orang-orang berbicara tentang cinta dan persahabatan, tentang kebahagiaan dan nestapa, atau tentang orang lainnya.

Mereka tertawa-tawa sehabis merapalkan mantra-mantra yang jahatnya tak terkira.

Seraya membisikan tujuan dari mantra itu, yang lain mengamini dalam-dalam.

Aku ingin berkata, “tidak perlu, bung!”

Sebab, kawan yang kau racun itu, sudah sekarat juga.

Dia hampir mati sore tadi.

Dia hampir mati berkali-kali.

Atau bahkan, dia mungkin sudah mati saat ini.

Aku sangat bersungguh-sungguh, aku menyaksikannya. Aku yang merawatnya. Aku yang mencoba menghidupkannya kembali.

Sedang kalian masih sibuk terbahak-terbahak mengangkangi.

Sementara aku letih membangun kembali pecahan-pecahan harap yang semoga masih berfungsi.

Kalau boleh kukatan lagi,

“Bung, nona. Kalian tau apa yang kalian injak-injak, kencingi dan racuni itu?”

“Mayat!”

Dia mati.

Aku tidak meminta apapun kecuali nurani.

Aku memohon. Sudahi.

    Naufal Rizky

    Written by

    Most awkward person on earth.