Karya Menyendu Bukan Untukmu

sendu/sen·du/ a berasa sedih dan pilu; duka cita; sedu;

Tak ada salahnya ketika aku berpikir bahwa hidup adalah tentang karya.

Jatuh bangun menerka makna hidup yang dijalani bukan kesia-siaan, melainkan ilham yang kuterima. Bukan dari sesuatu yang ilahi, tapi dari diri sendiri.

Pengalaman aku hargai sebagai anugerah. Pelan-pelan menempa aku yang manusia menjadi sesuatu yang aku harap lebih baik, semakin lebih baik setiap harinya.

Yang aku syukuri dari sisa-sisa diriku, adalah mungkin aku yang berani mencoba. Hasil bukan masalah, nampaknya, karena aku diajari untuk selalu menyelami prosesnya dan belajar darinya.

Maka hidup tetap adalah karya.

Karya bukan berarti kemegahan. Prosesnya juga tidak selalu indah atau membahagiakan. Karya yang diciptakan adalah tergantung kita mengilhaminya.

Karya mau megah, indah, ataupun jelek, dan seadanya. Tetap karya. Sekecil apapun.

Karya bagiku tidak harus buat orang lain. Atau juga tak harus dimengerti orang lain. Karya bagiku karena dari diriku sendiri, maka kuutamakan hanya untuk diriku. Sisanya ya terserah orang lain saja mau menghargainya atau tidak.

Aku berkarya, kebanyakan, dalam suasana sendu. Hujan. Senja. Tengah malam. Dingin.

Puisi, lagu, gambar-gambar. Jelmaan dari rasa yang aku tak bisa ungkapkan, yang pelan-pelan kumuntahkan kembali dari tangan atau mulutku. Melankolia ditambah musik-musik yang aku cinta. Bak katalis bagi seluruh badan. Penyemangat juga.

Dan rasa sendu, padanya kuucapkan terima kasih. Setidaknya ia membuat diriku produktif, dalam artianku sendiri.

Ah, entah apa lagi yang aku ciptakan dari tanganku yang dengan dorongan bahwa hidup adalah karya, kuketuk-ketuk di papan besi ini, mengikuti irama hati sambil mendengarkan lagu Sebelah Mata milik Efek Rumah Kaca.

Malam hari, Tikukur 17

Pengarya sampai mati

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.