Selamat Malam, Lalat

Melupa adalah instrumen berbahaya. Pun dengan janji. Melupakan janji adalah senjata yang tidak ada penangkalnya.

Semesta selalu memaksa mulut berbunyi, suara yang tiada arti. Semesta selalu memaksa tangan memukul pundak, gestur tanpa kehendak.

Tenang. Santai saja. Sudahlah. Nanti. Aku. Akan.

Dan mati. Semuanya mati. Ingatan kita jadi pengkhianat bagi hati. Diterpa segala yang membuat kita meninggalkan telinga dan pundak yang kita beri makna, pastinya itu palsu.

Dibalik jeruji diri sendiri, mengingkar sama dengan tidur, sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan.

Putih. Putih yang gelap.

Hitam kelam. Serupa berada di gua tanpa cahaya. Hanya tembok kerikil yang menuntun tangan, menuju pundak lain. Hanya gema yang menuntun suara, menuju telinga lain.

Melupa adalah instrumen berbahaya. Keseharian kita adalah korbannya. Memakan jiwa-jiwa yang teraniaya.


Mungkin seperti lalat ataupun serangga sejenisnya, dan kita adalah bunga terompet.