Untuk Cahaya: Serpih Hidup Diteranginya

DUNIA
 Senartogok
 Komik
 5 Februari 2016
 St. Ogok

Diantara seram-seram musuh abadi. Diri sendiri. Buta indera adalah kemampuannya.

Dulu aku kira menua berarti menjadi jelas dengan arah hidup. Eh, ternyata menjadi makin tersesat diantara pilihan-pilihan yang sebenarnya sempit. Karena ternyata pilihan-pilihan itu mengerucut tanpa ada ujung yang pasti.

Menua aku kira dulu bersikap. Sadar realita tak seindah semestinya. Berpihak bisa menentukan dan berpijak pada mana yang dianggap benar. Eh, ternyata menjadi plin-plan dengan jati diri. Karena ternyata bersikap tidak semudah itu, yang rugi secara batin siapa, jika nanti kita mengkhianati apa yang telah dijanji.

Untuk tetap hidup dalam kini dan hanya esok terkadang menyiksa diri. Sebab diantaranya kita tetap memikirkan masa mendatang. Tersesat lagi dalam pikiran, lalu maju lagi tanpa ada evaluasi.

Duh Gusti, tolonglah hamba-Mu ini.

Diantara ramainya orang-orang yang berkicau tentang masa depan: pekerjaan, keluarga, harta berlimpah. Walau sesekali juga ikut terlibat di dalamnya, kadang kita perlu berlari. Pergi ke hutan mati dalam alam sendiri. Meringkuk lalu mati sejenak, dan entah siapa yang tahu bisa bangkit lagi.

Duh Gusti, jangan biarkan aku mati sendiri.

Lalu Kau berikan padaku sebuah cahaya. Kurang terang tapi tidak apa. Sekecil apapun tapi butuh ternyata. Mungkin pelan-pelan ia akan berpijar dan menyala.

Sesekali ia datang dalam kelam. Mengajakku merenung. Mungkin jadi bagian yang berpengaruh soal orientasi aura yang berbelok, kalau kata salah satu dulur. Tapi tak apa karena ternyata itu hal yang baik pula. Kontemplasi disela-sela bincang ternyata baik juga.

Duh Gusti, jangan sampai hilang kemana, bantu aku jaganya.

Sekarang agak jelas walau kita kadang berseberangan. Bahkan sampah ini juga proses menuju sampah yang lebih baik. Mungkin sampai abadi. Karena kalau sebentar lagi kita tidak siap, kan?

Duh.