From Zero to Hero

Menjadi seorang pemimpin dalam waktu dekat/panjang

Rasa-rasanya setelah beberapa waktu ini baru saya sadari, banyak orang-orang di sekitar saya yang sudah atau mulai berubah ya. Padahal awal-awalnya kita sama saja, jadi orang biasa-biasa saja. Orang yang selalu mengikuti apa yang diperintah dan diajarkan oleh orang tua kita.

Tapi setelah melewati fase kehidupan yang sedikit cukup panjang, mulai pada saat menginjak jenjang mahasiswa, mereka mengejar asa untuk jadi pemimpin suatu kelompok atau golongan.

Mulai dari teman satu komplek saya, teman SD saya, teman SMP saya, teman SMA saya, bahkan teman satu kuliah pun juga mengambil kesempatan untuk menjadi pemimpin.

Semua itu bukan didasari atas keinginan politik dan menguasai semata. Ada maksud dan sebab di balik itu. Allah swt. pernah bersabda dalam Surah Al-Baqarah ayat 30, yang artinya:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, sesungguhnya Aku hendak menjadikan satu khalifah di muka bumi. Mereka (malaikat) berkata, apakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu? Tuhan berfirman, sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Tidak salah jika Allah swt. sudah berkata demikian. Sebagai manusia, kita tidak hanya memegang peran hanya sebagai pelaksana saja. Tetapi juga pengendali dan pemimpin. Pemimpin yang dapat menyelaraskan segala ketimpangan dan kerusuhan yang ada di muka bumi ini, demi meraih status kebahagiaan dan ketercapaian kehidupan, baik duniawi maupun akhirat, untuk seluruh umat.

Akan tetapi, apakah orang-orang yang saya maksud ini memang sudah terjadwalkan untuk menjadi pemimpin atau bisa ingin menjadi pemimpin secara tiba-tiba? Saya kira lebih ke sebuah fase kehidupan seseorang yang didukung oleh perkembangan kualitas diri dan faktor eksternal pribadi tersebut. Mungkin saja dia berkeinginan menjadi pemimpin karena dia merasa bahwa dirinya sudah mampu menjadi pemimpin atau kondisi di sekitarnya yang membuatnya bersemangat untuk menjadi pemimpin.

Jelasnya, kita enggak tahu pastinya bagaimana. Walau sedetil-detilnya mereka menjelaskan latar belakang mereka dalam kampanye, tetap kita nggak bakal tahu apa tujuan tersembunyi mereka menjadi seorang pemimpin. Apakah itu positif atau negatif.

Walau demikian, sudah sewajarnya bagi kita untuk bersikap dan berpikir positif atas tindakan yang diambil oleh teman-teman kita yang berkeinginan menjadi pemimpin. Sesungguhnya langkah yang diambil mereka pun tidak bisa sembarangan dilakukan. Pasti sudah didasari oleh pemikiran yang maju dan kemampuan yang mumpuni. Oleh karena itu, hargailah proses mereka sebagai seorang pemimpin.

Begitu juga dengan saya sendiri. Saya masih perlu banyak waktu lagi untuk menjadi seorang pemimpin yang ideal. Pemimpin yang visioner dan mampu menggerakkan startup baru saya nantinya. Dan yang paling penting, saya masih butuh amat banyak waktu untuk menjadi seorang pemimpin yang paling dicari oleh wanita yang bisa mendampingi hidup saya pada suatu saat nanti.

Like what you read? Give Ade Naufal Ammar a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.