Rantau (1)

Merantau — aku bersyukur bisa merasakannya walau tidak selalu mudah. Lewat merantau, aku yang biasanya tidak mudah berbicara dengan orang asing, justru merasakan nikmatnya mengobrol dengan mereka. Tak perlu tau namanya, kami hanya mengawalinya dengan sapa lalu berlanjut cerita.


Setelah 1,5 bulan liburan semester yang menyenangkan, waktunya kembali ke Jogja. Dalam perjalalanan kemarin, untuk pertama kalinya aku mencoba gerbong kelas eksekutif. Aku mencari-cari kursiku dan duduk, belum ada orang di sampingku. Lalu datanglah seseorang berseragam Akabri lengkap dengan topinya, duduk di sebelahku.

“Permisi, mbak" katanya.

Kami berkenalan. Ia berkata bahwa ia masuk akabri karena ingin melepaskan segala hal yang terlalu 'mikir’. Namun ternyata di Akabri juga ada penjurusan ke beberapa bidang, dimana pada akhirnya mereka juga kuliah sama seperti di universitas — satu hal yang benar-benar baru aku ketahui. Ternyata ia hanya berbeda 2 angkatan di atasku dan pernah tinggal di Malang juga. Sebuah pertemuan yang menarik.

Ada pula pertemuan yang lain. Selepas latihan paduan suara, aku berniat untuk membeli makan di luar. Sejak kemarin, aku ingin mencoba sate ayam yang ada di dekat kosku dan baru saat itu kesampaian.

"Mbak kos disini?" mas penjual sate membuka percakapan. Aku menjawab ya dan obrolon pun berlanjut. Aku bertanya dari mana asalnya, lalu ia bilang dari Sampang. Mataku seketika bersinar dan aku berkata dengan bangga bahwa aku keturunan Madura juga. Mas itu bertanya darimana asalku. Tiba-tiba ia bertanya padaku seperti apa kuliah itu. Katanya ia dulu ingin melanjutkan sekolah, ia ingin menjadi guru. Namun waktu justru membawanya menjadi tukang cukur di Solo, dan sekarang jadi tukang sate disini. Lalu ia bilang sekarang ingin jadi tukang cukur lagi. Ia ingin kerja yang bersih, karena pekerjaannya sekarang agak membuat kotor — asap dan sebagainya. Aku cuma bisa bilang “Yaudah mas jalani aja dulu sambil nabung”.

Kami sepakat bahwa semua itu tidak masalah — kuliah maupun kerja, tukang sate atau tukang cukur — sama sama susahnya. Nikmatnya baru bisa dicicipi di akhir, dan apa yang kita jalani sekarang semuanya juga demi masa depan. Rasanya, lelahku yang menumpuk di hari itu sedikit berkurang karena bisa berbagi cerita baru.


Masih ada pertemuan yang lain, yang sebenarnya sudah hampir aku lupakan. Bapak-bapak driver ojek online yang kehilangan anaknya saat gempa Jogja 2006. Ibu tua penjual roti yang memberiku roti gratis saat aku duduk-duduk sendirian di GSP.

Aku senang bertemu dan bicara dengan orang dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Mendengarkan cerita mereka membuat mataku lebih terbuka — dan bersyukur. Ini lah salah satu alasan lain aku menulis, aku tidak mau dengan mudahnya melupakan cerita-cerita itu. Terkadang sederhana, tapi jarang bisa kutemui lagi.