BA(BI)BU

Setelah kemarin terpaku dengan kehidupan pribadi, aku ingin sedikit bercerita tentang teman, adik, dan saudara baruku.

Mereka tinggal di Stasiun Barat RT. 03 RW. 02 Kelurahan Kebon Jeruk Kecamatan Andir. Sosok-sosok lelah akan berkelahi, acap kali bentrok dengan petugas perihal makan dan tinggal.

Inilah kisah mengenai 53 keluarga yang rumahnya telah rata dengan tanah akibat salah lokasi penggusuran. PT. KAI selaku pelaku, menyatakan itu tanah milik mereka padahal mereka hanya mempunyai surat milik di kelurahan sebelah.

Mereka akhirnya melawan, dengan ketidakadilan yang tidak dapat diterima, mereka akhirnya mendirikan tenda perlawanan didekat mantan rumah mereka. Entah itu putusan baik atau tidak, mereka pun akhirnya mulai terjangkit penyakit. Bukan hanya penyakit pernapasan akibat debu, namun juga tertular penyakit psikis yang mendalam.

Nenek, ketika malam tiba, pergi ke lahan tempat tinggalnya, kemudian ketika ditanya ingin kemana, nenek menjawab “Mau angkat jemuran dulu, takut hujan dini hari.”

Niken, si kecil yang suka mengambek, senang sekali bermain bersama walaupun malam telah tiba. Niken cemberut kalau tidak diajak main, ketika rehat main sejenak kadang dia menangis mengingat eksekusi menyeramkan itu.

Bahkan untuk orang sekeras batu pun akan luluh apabila anak dan keluarganya sudah menangis dalam pikiran dan hatinya. Para kepala keluarga pun merelakan untuk pindah ke Rusunawa yang disediakan Pemerintah.

Sejenak melupakan urusan dengan PT. K*I.

Mereka ternyata tinggal jauh, di lantai 5, dengan membayar sewa, dengan kuburan berada di dekatnya. Bahkan 16 Keluarga tidak mendapat kamar, disuruh tinggal di bilik dengan sekat dan sisanya di ruangan PAUD karena masih direnovasi. Apakah benar layak ditempati manusia?

Mereka pun kebingungan bagaimana cara membayarnya, bahkan kebutuhan sehari dan sekolah anak pun belum bisa terpenuhi karena mata pencaharian mereka turut dibunuh.

Ketidaksiapan Pemerintah memberi penghidupan pun seakan tahu kebutuhan mendesak mereka. Dengan janji, sekali lagi janji-janji membuat mereka menunggu sampai waktu itu, dua minggu, cukup lama bertahan tanpa mata pencaharian. Seakan menenangkan mereka, agar lupa dengan masalah inti.

Jangankan bersimpati, menoleh pun PT. K*I tidak sudi walaupun tinggal berhadapan. Bahkan ketika mereka perlahan merenggut hidup khalayak ramai. Aku pun tidak bisa memaafkan, walaupun bukan korban.

Anehnya, yang tinggal di sekitar daerah ini berseru setuju dengan eksekusi itu. Ada yang bilang, banyak malah, “Baguslah tempat itu dihancurkan, itu adalah sarangnya”. Apakah kita membenarkan kejadian yang merampas kehidupan orang? Itu bukan suatu dalih dengan membinasakan semua kegiatan yang bahkan tidak ada pautannya, argumenku sekarang toh malah semakin berkeliaran di jalan.

Apakah mereka dan mungkin aku adalah Babu-babu media, hingga suaranya dapat dimanipulasi Sang Penguasa?

Sekali lagi aku pun bertanya, sebenarnya pembangunan disini untuk siapa?Salah, Untuk masyarakat jenis yang mana?

Entah cercaan ataupun diskriminasi yang diterima. Mereka tetap melawan, dengan sisa-sisa kesedihan yang mereka miliki.

Sedikit keterangan dariku.

Aparat keamanan pun turut meramaikan dengan ribuan massa dari Polisi, Brimob, Satpol PP, Babinsa, Posuska dan Dalmas
Rafa dan Niken
Kondisi Rusunawa

(Bale Pare, 16 Agustus 2016)