Potret

Tuturan kata terdengar riuh
Menatap kawan kemarin tiada kaku
Senandung lektur tertangkap acuh
Gumaman terikat argumenmu
Hentakkan kaki menggegarkan ruang
Agamis tandang gelora revolusi
Jarang,
Terlihat eksklusif tersirat intonasi
Gelagat kirian bersemi di tiap celoteh
Mencicip hawa berharap tawa
Repih,
Kadang hambar bercerita
Meniru pujangga minatmu kini
Kadang kaku,
Berniat melegakan afeksi
Terpaku aku dibuatmu
Riwayat hidup semakin larut
Berharap cermin turut merasuk
Rumit,
Kala hasrat telah membusuk
Alkisah nona terpaut hati
Merakit potret terlampau dini
Prelude pertemuan terasa biasa terjadi, hanya memenuhi kepentingan pribadi. Terlihat keras berisi arahan cetakan revolusi, jelasnya menggebu kala bercerita. Kesekian kalinya pertemuan terjadi, beralas peran memulai kisah.
Terbayang seorang idealis keras kepercayaan, sukar luruh di kenyataan. Heran, sedikit kata tergambarkan.
Kalimat mengisyaratkan perjalanan dirinya, menjadi bahan tiap kicauan.
Berupaya mengenal, mengulik, merecup bingkai tiada lihat.
(Faraway)