Sebuah Jimat, Mimpi

Postingan ini merupakan refleksi perdana, setelah berkeluh menyaksikan berbagai hal yang ditayangkan di dunia maya.

Aku selalu cengeng melihat orang-orang yang diperlakukan tidak adil, namun Aku bahkan tidak daya memberikan tangan yang dapat mengulur kesedihan mereka.

Lalu Aku akan berubah pikiran setelah mengingat ke belakang. Aku menjadi sosok yang masa bodoh dengan orang. Orang yang melulu bicara pergerakan, orang yang melulu arogan karena agama, atau orang yang suka sekali melukai alam dan makhluknya.

Aku hipokrit.

Iba pada yang jauh, namun tidak berjuang menolong pemikiran orang itu. (baca: teman).

Aku linglung. Sofyan mengejek seperti daun yang jatuh dari inangnya, melayang kemana saja.

Terserah angin.

Hari ini, aku mulai berkontemplasi lagi.

Aku mulai menata kembali hidupku. Menyentuh anganku, Aku ingin hidup seperti apa?

Aku mendapat sedikit kesadaran setelah mengoceh dengan pendekarku. Buddha, Gandhi dan Munir. Walaupun aku tidak bertatap muka, namun Aku turut memiliki hasrat itu. Menebarkan kebahagiaan.

Buddha membantu menerangkan hidupku. Beliau menuntunku dalam memilih jalan kebaikan.

Lantas Gandhi merayuku melihat kehidupan. Beliau memegangku dengan kebahagiaan setelah tercapai kebaikan.

Lalu Munir membisikkan kepadaku betapa indah agamanya dengan kita saling berlomba dalam kebaikan. Kebaikan kepada semua manusia, bukan hanya golongan tertentu.

Mereka menguatkanku.

Menopangku menjadi pribadi yang lebih baik. Kemudian mereka juga menegaskan mimpiku.

Moksa.

Moksa bagiku adalah kebebasan, yang dapat dicapai sesudah kehidupan hanya bermakna bahagia.

Bak syair sisir tanah, bahagiakanlah kehidupan.


Aku memulainya dengan melakukan sepuluh kebajikan untuk melunasi satu keinginan, dan akan bertambah selanjutnya. Seperti ajaran Tao dan semua ajaran, memurnikan tabiat untuk berbuat kebaikan. Semoga konsisten.

(Pare, 9 Juli 2017)

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Vania Elliya Ananda Wenno’s story.