Serdadu Bujang

Gerombolan bocah ingusan datang
Mereka menampakkan taring kebanggaan
Sambil memekik,
“Kamilah bibit penerus bangsa”

Budi dan Ani memimpin komplotan
Kendati baju kumal habis bermain
Mereka berlenggok bak jagoan
Namun cengeng saat melihat suntikan

Suatu hari mereka membuat gaduh
Menolong teman dengan ceroboh
Sakit hati dan terpukul
Mereka enggan terus membantu memikul

Alhasil mereka mengunjungi Pak Tua
Mohon wejangan tuk gairah membela bangsa
Pak Tua menggurutu tentang ulah
Mereka tertunduk dipentung di kepala

Petuah Pak Tua hanya satu
Selalu merendah dan menyatu
Namun mereka tetap mengeluh
Mengapa harus ditambah peluh

Tung… Tung… Tung…
Kembali berbunyi pentung
Pak Tua lagi-lagi memukul pentung
Mereka akhirnya duduk mematung

Mereka diam, tidak mau memeriksa
Pak Tua sudah kebal melihat mereka merajuk
Lalu Pak tua bertutur,
“Bahagialah kalian yang punya semangat membela bangsa

Hidup tak melulu egois
Tidak juga terus menangis
Adakalanya membantu
Merekah senyum tiap melewati batu”

Mereka lantas memungut gelora tadi
Lalu menyeringai dengan gigi ompong
Menyudahi gairah yang bolong-bolong
Pulang tuk menata ulang mata hati

Kini, Tiada hari esok bagi mereka
Tiap detik adalah perjuangan
Menuju dunia yang penuh kebebasan
Memusnahkan segala ketidakadilan yang fana

Inilah angan mereka
Sang serdadu bujang keras kepala

Untuk asing yang melulu berdialektika,
Untuk teman yang sok aktivis, 
Aku turut congkak menghunuskan kebebasan
Atas asas hidoep jang tak tertindas (semoga)

(Bandung, 29 Maret 2017)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.