Yakin Kamu Anak Himpunan ??

Sudah cukup lama aku ingin menulis mengenai ini, kenapa? Karena aku adalah anggota suatu himpunan di kampusku, namun terasa asing dengan himpunan sendiri.

Aku ingat tambo bagaimana aku dan teman-temanku berjuang untuk melewati tahap untuk menjadi anak himpunan. Beberapa hal yang ku pelajari ialah menyatukan angkatan kami, serta menerangkan tanggung jawab ketika memilih menjadi bagian suatu kelompok. Aku merasa lebih kenal dengan teman-temanku setelah melewati fase tersebut. Aku berterimakasih kepada himpunan karena telah mengizinkan aku melewati proses hidup tersebut. Membuatku mengerti mengenai kerja suatu tim, membentukku menjadi pribadi yang terdiskursus (?)

Himpunan bagiku sekarang ini telah menjadi beban. Mengapa demikian? Mereka berlomba-lomba mengadakan acara untuk kami, angkatan kami, dan ketika kami tidak berpartisipasi, kalian tahulah bagaimana kelanjutan dongengnya. Sekarang aku mulai bertanya, untuk siapakah acara-acara tersebut diadakan? Untuk kami semua, ataukah untuk sebagian angkatan kami? Atau untuk yang mengadakan acara tersebut? Apakah ini ajang eksistensi diri?

Setelah menelaah menurut pikiranku, aku mulai merasa seperti kisah dalam buku “Le Petit Prince” karya Saint-Exupery. Mengenai seorang Raja yang berwibawa pun kadang terbawa hati melakukan hal-hal yang tidak masuk akal untuk dikehendaki, hanya karena Sang Raja merasa dia punya kekuasaan. Dan Sang Raja pun merasa tersinggung apabila tidak ada yang mengindahkan perintahnya.

Hal ini karena aku melihat anak-anak yang lainnya selalu berseru untuk menghadiri kegiatan di himpunan, seperti anak kecil lainnya yang akan menangis dan berteriak kalau tidak dituruti keinginannya. Mengapa kalian begitu sibuk dengan kehidupan orang lain? Ketika diri sendiri mengambil keputusan, mendapat akibatnya, apakah kalian ikut merasakan penderitaannya? Koreksi aku apabila salah.

Apakah kalian tahu kenapa mereka tidak bisa datang ke acara hari itu? Pernahkah kalian menanyakannya layaknya teman sepermainan? Loh katanya kita satu keluarga! Kemana larinya kata keluarga yang sering dibanggakan?

Berseru-seru mensuasanakan untuk datang ke acara itu bagus, tapi apakah kalian tetap mengabaikan alasan mereka tidak bisa datang? Hmm. Aku mengerti kalau kalian memang merasa bertanggungjawab karena kita satu angkatan. Karena itu memang pilihan kalian untuk turut andil dalam kepengurusan himpunan ini. Lalu aku? Aku memilih menjadi pihak oposisi kalian. Aku memilih tidak datang ke acara-acara tersebut dengan argumenku sendiri. Aku punya prioritas lain, prioritas dimana orang-orang lebih menerimaku daripada di tempat lain.

Bukankah itu menjadi pelajaran untuk kita semua? Aku belajar, mencoba beradaptasi dengan lingkungan himpunan, tidak cocok, dan aku pun terseleksi. Aku hanya ingin kalian tahu bagaimana kalian membentuk himpunan menjadi milik kalian sendiri dan membuat orang sepertiku akhirnya tereleminasi dalam lingkungan tersebut. Tanpa disadari kesan himpunan dan terlalu kasar disebut keluarga pun hilang dalam sekejap di mataku.

Aku menjadi tidak respek, aku hanya menjalankan kewajibanku di himpunan dengan terpaksa. Kenapa kamu tidak keluar? Aku ingin membuat kalian mengerti mengapa orang sepertiku, ketika sudah lelah di himpunan aku tidak mengundurkan diri. Mengapa tidak bicara secara langsung? Akankah kalian mengerti kalau-kalau orang sepertiku bicara kepada kalian? Bukankah terkesan meminta simpati maupun terdengar seperti kata “oh” saja yang akan kalian sampaikan? Bukankah akan menguap tanpa solusi?

Sekedar berbagi kemumetan hatiku hari ini karena melihat orang-orang disekitarku memaki karena acara himpunan.

where is your manners? 
if this is the attitude of members of ***?
sorry not mean to patronize .