Dayu Ajeng Anggrahita
Nov 4 · 3 min read

hutan itu namanya jenggala.

dari mana hutan berasal?

apakah tunas yang mulai tumbuh dari tepi muara serta sisa-sisa makhluk hidup yang segera tertutup sedimen?

di mana hutan dimulai dan berakhir?

apakah gunung yang terbuat dari hujan serta batuan dasar yang memberinya ketinggian?

-

aku bermimpi bertemu dewi kili suci, yang topengnya kulihat pertama kali di Tembi Rumah Budaya di Bantul, mungkin sudah 9 tahun lamanya.

yang kelak paras lainnya kutemui lagi di antara koleksi topeng Museum Topeng Setia Darma di Kemenuh, sekitar 4 tahun yang lalu.

dalam mimpiku, topeng itu melayang tolah-toleh dalam irama di depan wajahku, lama-lama aku melihat selendang putih mengawang dari belakang topeng, jumlahnya ganjil dan bergerak ke kiri dan ke kanan.

ku perhatikan wajahnya dan ku ikuti temponya, dewi kili suci tersenyum simpul, bibir merahnya melengkung panjang seperti busur yang sempurna.

lambat laun tubuhnya terbentuk dari kabut tipis, membentuk tubuh yang tidak utuh, atau mungkin hanya tubuh manusia sajalah referensiku?

sepertinya malam memang mendukungku untuk pertemuan kami, tidak ada warna dan benda lain yang lebih dekat dan terlihat dari ekor mataku pun. Nol distraksi, kondisi yang betul-betul jarang kupunyai dengan mudah.

aku menyebutkan namanya dalam hati. topeng dewi kili suci mundur, kuanggap ia bisa mendengarku. aku maju mengikuti tariannya yang familiar. gerakannya membuatku sangat amat penasaran.

ada pohon beringin besar dan tua di belakangnya. akar gantungnya yang kuning dan dedaunannya yang rapat dan rimbun membuatku berpikir, kalau-kalau kuraih segenggaman sekaligus, badanku masih terlalu ringan untuk kekuatannya yang telah berada seribu tahun. tapi seribu tahunnya siapa?

topeng dewi kili suci mengitari bagian pohon beringin yang menghadap ke arahku dengan riang. dari tengah ke kiri, ke kanan, lalu kembali ke tengah. mungkin dia tinggal di sini, batinku. topeng dewi kili suci menghentak ke belakang, mengitari sisi lainnya.

mataku terpaku pada batang yang bersembunyi di balik rerimbunan akar dan daun. batang pohon beringin itu tersusun dari ranting-ranting yang ukurannya sangat jauh lebih besar dari biasanya. ada yang bertumpukan dan ada yang melilit, berbeda ukuran satu sama lain, dari bawah tanah menjulang kokoh tak terlihat ujungnya. dari sekat diantaranya aku menerka ruang di dalamnya. kusentuh akar gantung dengan telapak tangan kiriku, perlahan menyibak menuju ranting-ranting raksasa— lalu terjadilah seperti yang kuharapkan — sinar perlahan merambat ke ujung jari sampai mataku, memperlihatkan sedikit dari sesuatu yang tidak jelas dan luas di dalam sana hingga kemudian menyilaukan.

kupanggil dengan suara,”kili suci!”, suara air menetes ke dalam kolam bergaung memenuhi kepalaku. seketika semua terjadi beruntun, tak lagi pelan. belum selesai kepalaku menoleh ke belakang mencari suaranya, badanku terseret. topeng kili suci yang mengintip dari balik pohon perlahan mengecil, jauh.

dadaku mencelos. aku terbangun dengan kondisi fisik seperti setengah tertanam dalam kasur. sisa tusukan jarum akupuntur di bahu mengerang. begitu pula punggungku. rasa-rasanya alam bawah sadarku menyuruhnya untuk terus menjadi alas badanku selama tidur. aku urung membuka mata.

-

di mana hutan berlindung?

apakah dari bawah punggung kaki pertapa sampai ubun-ubun hewan yang singgah, saling bertukar naluri?

-

bukan dewi kili suci :/

Written by

poetry, photo feature, short story. < je te conais par cœur >

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade