Jika Bukan Ojol,Apakah Kita Peduli?

Hasil tangkapan di salah satu media sosial ini hanya merupakan salah satu kasus saja dari potret buramnya kehidupan ojek online atau disingkat ojol.

Di laman media sosial lain misalnya beredar cerita tentang ojol yang dirugikan costumer atau yang oleh ojol biasa disingkat dengan cs. Si cs ini membatalkan pesanan makanan yang menyebabkan si ojol terpaksa merugi karena sudah terlanjur dibayar di kasir. Pihak toko atau rumah makan biasanya enggan menerima kembali pesanan yang dibatalkan tersebut.

Mental pembeli adalah raja yang bisa semau gue​ ​masih sulit dihapuskan. Tapi ini lain kali saja.

Yang ingin saya pertanyakan adalah jikalau kejadian yang menimpa mamang ojol terjadi pada ojek pangkalan atau biasa disingkat opang, maukah kita membagikan ceritanya kepada masyarakat semu di dunia maya?

Tentu,kita perlu bersimpati kepada masyarakat kalangan ekonomi lemah tapi apakah kita sudah benar-benar peduli sedari dulu ataukah kita mendadak peduli karena ada identitas baru yang melekat?

Tentu saja kisah batal pesanan akan cenderung mustahil terjadi pada opang. Sistem pesan antar toh berkembang lebih baik pada saat Gojek masuk ke pasar.

Seandainya kepedulian itu tulus dari dalam hati, maka kita perlu mencoba memahami lebih dalam mengapa sekarang bermunculan demonstrasi dari para mamang ojol.

Tidak ada asap kalau tidak ada api.

Protes, demonstrasi pada dasarnya adalah reaksi dari sebuah tindakan yang bersifat merugikan.

Namun demikian ,sikap mamang ojol pun tidak seragam dalam menyikapi perubahan skema tarif yang baru dikeluarkan 2 Juli 2017 silam.

Antitesis dari ajakan mogok mudah saja : “Emangnya kalo saya mogok,yang ngajak demo mau bayarin sekolah anak saya?”

Terakhir ,semoga si penjahat yang mengambil motor bapak di foto di atas segera diberikan kesadaran dan mengembalikan motor bapak yang bersangkutan. Setiap perbuatan kriminal seperti itu cuma membuat keyakinan saya tentang Homo Homini Lupus semakin kuat.