Mencari Mesjid yang Ideal: Pecahan Ingatan Siang Tadi
Hari ini saya mengikuti kuliah di salah satu ruang serba guna masjid yang paling saya sukai. Niatnya ada dua: melatih bertemu orang baru( sesuai saran Sisca bulan puasa kemarin) dan mencari ilmu tentang bagaimana membangun desa sebab saya ingin pulang kampung dan mati dengan tenang di kampung saya.
Tujuan pertama tercapai sedikit, karena toh saya lebih nikmat mendengarkan paparan yang disampaikan.
Yang kedua, sepertinya saya bisa bilang saya salah alamat. Sebab ternyata yang didiskusikan adalah tentang peradaban Islam dan kota-kota besar yang pernah menjadi saksi bisu bagaimana Islam berjaya. Seharusnya saya lebih teliti lagi memang dalam membaca
Tapi tidak mengurangi ketakjuban saya dengan materi yang disampaikan oleh pak Agus yang tadi sepertinya belum selesai membagikan ilmunya.
Saya pun tidak membuat catatan jadi apa yang saya bisa ingat seadanya saja.
Yang paling membuat saya tergugah tentang bagaimana di sebuah kota, antara dua masjid besar dibuat jalan yang menghubungkannya dan di sepanjang jalan dibuat pasar di sisi kiri dan kanan jalan.
Sayangnya saya tidak ingat di kota mana ada rancangan seperti demikian.
Di kampung saya, mesjid ada persis di samping rumah nenek. Kegiatannya yang saya tahu tidak banyak jumlahnya. Salat berjamaah rutin lima kali sehari.
Sore hari, anak-anak usia sd belajar mengaji.
Dan sudah.
Mungkin saya terlalu jauh berangan-angan tapi terus terang saja bagi saya seidealnya mesjid adalah Salman.
Aktivitas dibuat seberagam mungkin, dalam semua rentang usia, meskipun saya belum tahu seperti apa cara Salman mengakomodir para lansia. Yang sering saya lihat kalau sabtu dan minggu adalah balita-balita yang berteriak gembira.
Kajian pun ada. Buktinya ada Studia Humanika yang mengadakan kegiatan hari ini. Walaupun saya sedikit bingung juga kenapa yang datang tidak banyak. Atau mungkin belum banyak.
Menariknya lagi dari kuliah tadi siang, adalah tentang pengetahun pak Agus terkait bagaimana Aru Palakka yang dilabeli pemberontak oleh masyarakat semata-mata karena saat dulu dia berperang melawan Sultan Hasanuddin, dia bersekutu dengan Belanda.
Yang saya suka lagi adalah bagaimana pak Agus mewanti-wanti kita untuk tidak melihat sesuatu dengan dua sisi saja: hitam dan putih.
Saat sesi tanya jawab, ada seorang penanya yang sepertinya sangat membenci Kemal Attaturk. Dia menyebut laknatullah sebelum nama si pendiri Turki. Terus terang saya kaget juga, segitu hinanya kah si Kemal?
Dan pak Agus menjawab dengan mengoreksi si penanya bahwa di Turki sekalipun (pak Agus sudah pernah berkunjung) masyarakatnya terbelah antara pro kembali ke era sebelum runtuhnya kekhilafahan terakhir atau mencukupkannya dengan melihat masa lalu sebagai pelajaran.
Saya juga ingat ada gambar yang menggambarkan bagaimana orang Jawa dikuasai oleh hegemoni orang Arab. Gambarnya memperlihatkan seorang ksatria berlutut di hadapan tokoh lain yang bersurban. Bentuk gambarnya mengambil tema wayang.
Pak Agus juga bercerita bahwa di salah satu negara yang dia pernah kunjungi, arsitek Cina yang kebetulan merancang mesjid tempat dia salat jumat ikut didoakan padahal berbeda agama.
Sisanya terserak antara kata-kata tentang bagaimana Syiah pun memiliki nilai kebudayaan yang patut ditiru, omongan-omongan Foucault dan Deleuze, kebangkitan cendekiawan muslim yang dibagi dua : yang “memisahkan” keislaman dengan bidang ilmunya versus kelompok yang mampu melihat celah di mana antara yang dia geluti bisa dicampur dengan keislaman, sejarah peradaban Islam yang sempat vakum ketika kekhalifahan dibantai oleh Mongol, tentang lemahnya apresiasi bangsa Arab terhadap artefak sejarah, tentang kota Kairo yang dibangun oleh penganut Syiah, tentang gerakan di akar rumput yang kuat di Iran dengan Khameininya, tentang kemerosotan moral di negara-negara (Uzbek,Tajik,Kirgiz,Kazakhs, Turkmeni) — stan, keindahan Isfahan, dan masih banyak kota lainnya.
Mungkin sebaiknya lain kali saya minta slidenya saja kepada pembicara. Lumayan daripada berantakan seperti ini.Hehe.
