Perubahan Riba dari Berlumur Dosa Menjadi Industri Keuangan Terhormat

Nawirisme
Nawirisme
Jul 10, 2017 · 11 min read

Seorang bankir dan seorang agamawan sepertinya merupakan awal dari sebuah lelucon yang buruk. Tapi bagi David Miller hal ini hanyalah deskripsi pekerjaan. Setelah bekerja di perbankan dan bisnis selama 16 tahun, Miller beralih ke teologi, dan menerima gelar doktro dari Princeton Theological Seminary pada tahun 2003. Sekarang dia adalah seorang profesor etika bisnis dan kepala dari Princeton University’s Faith and Work Initiative, yang fokus kajiannya adalah Kristianitas, Judaisme, dan Islam. How to Succeed Without Selling Your Soul adalah julukan populer untuk kelasnya yang diberikan oleh para mahasiswa.

Pada tahun 2014, Citigroup menghubunginya. Bank tersebut sedang menjadi bulan-bulanan setelah serangkaian skandal yang menurunkan kepercayaan publik saat terjadi krisis keuangan, sehingga mereka ingin merekrut Miller sebagai pakar etika mereka yang bisa dihubungi sewaktu-waktu. Miller menyetujuinya. Bukannya menyuruh para bankir untuk menaati hukum dengan alasan tidak cukup berguna, dia malah membicarakan filsafat dengan mereka. Secara mengejutkan dia mendapati bahwa bankir dan pemimpin bisnis bukanlah sekumpulan orang yang menyulitkan. Banyak yang mengakui hasratnya untuk berbuat baik. ‘Saya sering makan siang dengan seorang eksekutif dan dia bertanya: “Kamu bergelut dengan Ketuhanan?”’ ujar Miller. ‘ Kami kemudian menghabiskan waktu dengan membicarakan etika, tujuan, makna. Saya jadi tahu bahwa mereka pun tertarik.’ Miller ingin orang-orang di perbankan untuk membicarakan tentang ‘kebijaksanaan, tanpa mempedulikan sumbernya’. Untuk mengabaikan tradisi dan para pemikir ini, seperti yang lumrah dilakukan industri ini, setara dengan ‘menggunakan penutup mata intelektual’, ujarnya.

Dewasa ini, seorang bankir mendengarkan seorang agamawan sepertinya mengherankan, sebuah ketidaklaziman. Namun menurut catatan sejarah, dialog seperti adalah sesuatu yang normal. Ratusan tahun silam, ketika keuangan modern mulai bangkit di jazirah Eropa, para pemberi pinjaman memoderasi sikap mereka dalam menyikapi perdebatan di antara kaum pemuka agama tentang bagaimana mengaplikasikan ajaran Injil ke dalam kehidupan ekonomi yang semakin kompleks. Pinjam meminjam uang telah lama dipandang sebagai masalah moral. Sehingga kapan dan bagaimana para bankir berhenti memandang pekerjaan mereka dari segi moral?

Pada awal tahun 1200-an, kardinal Perancis Jacques de Vitry menulis sebuah koleksi exempla, kisah-kisah moralitas yang dipakai oleh pendeta-pendeta pada khutbahnya. Dalam sebuah cerita, seorang pemberi pinjaman yang sekarat menyuruh anak istrinya untuk bersumpah akan menggantung sepertiga dari harta warisan di lehernya, dan mengubur bersama mayatnya. Keluarganya mengikuti perintah tersebut. Namun, setelah memutuskan menggali kuburnya kembali untuk mengambil uang yang dikebumikan, mereka justru lari terbirit-birit karena ‘menyaksikan iblis mengisi mulut si mayat dengan koin berwarna merah darah’, tulis de Vitry

Pada era de Vitry, pemberi pinjaman pantas untuk dicemarkan oleh iblis, karena dia mengerjakan dosa berupa riba yang definisinya adalah penarikan bunga terhadap pinjaman. De Vitry tidak peduli apakah tarif bunganya rendah atau tinggi, sebab sikap Gereja adalah memandang satu sen bunga adalah tercela. Akar dari penolakan ini berada cukup dalam dan muncul pada banyak kebudayaan. Hukum Veda di India kuno mengutuk riba, dan para pemimpin secara rutin membatasi tingkat bunga mulai dari Mesopotamia Kuno hingga ke Yunani Kuno. Di dalam Politics, Aristoteles menjelaskan riba sebagai ‘kelahiran uang dari uang’, dan mengklaim hal ini tidak alamiah sebab uang bersifat steril dan mestinya tidak beranak pinak.

Agama Judeo-Kristiani memantapkan tabu dari riba. Perjanjian Lama mengatakan: ‘Jangan bebani saudara berdarah Israel dengan bunga,’ dan Buku Lukas menyarankan: ‘[C]intailah musuhmu: berbuat baik, dan pinjamkan uang, tanpa berharap apapun.’ Pada abad ke 4 M, dewan penasihat Kristen mengutuk praktiknya, dan pada tahun 800 Kaisar Charlemagne membuat hukum yang secara tegas melarangnya. Catatan para saudagar dan bankir pada Abad Pertengahan secara cukup sering menggunakan ekspresi derita terkait keuntungan yang mereka dapat. Di dalam Divine Comedy karya penyair Dante Alighieri, para penikmat riba menempati lingkaran ketujuh dari Neraka; pada cerita tentang Reginaldo Scrovegni, seorang bankir dari Padua yang dikisahkan Dante, putranya memerintahkan sebuah kapel dilukis dengan fresko oleh Giotto dalam rangka pertobatan keluarganya. Pada abad-abad berikutnya, kedermawanan serta perlindungan dari keluarga-keluarga kaya di Italia pada masa Renaissance misalnya Medici salah satu inspirasinya adalah rasa bersalah yang timbul dari keuntungan mereka saat menarik bunga.

Stigma yang menentang pembungaan uang berlanjut hingga tahun 1500-an. Untuk memahami ini, coba bayangkan reaksi anda terhadap ide dari sebuah bank yang memberikan pinjaman kepada sebuah bisnis dengan tingkat bunga 5 persen. Tidak masalah bukan? Sekarang bandingkan perasaan anda jika ibu anda meminjamkan uang dengan menerapkan tarif yang sama. Pada era Biblikal, pinjaman yang lazim adalah jenis yang kedua, dia bukan sebuah transaksi yang berunsur kesetaraan, tapi lebih merupakan pinjaman bantuan dari seseorang yang berada kepada tetangganya yang tertimpa musibah atau tak tahu harus ke mana lagi. Sepanjang Era Pertengahan di Eropa, gereja atau keluarga berada sering kali adalah sumber modal satu-satunya, khususnya yang berada di luar pusat komersial besar. Banyak petani membeli tanah mereka dengan mengajukan gadai ke gereja. Dengan demikian, di dunia tanpa pasar kredit dan asuransi, menerapkan bunga akan terasa seperti memeras teman atau anggota keluarga sendiri.

Di buku Debt: The First 5000 Years (2011), antropolog David Graeber berargumen bahwa sebelum kedatangan uang, kehidupan ekonomi di dalam sebuah komunitas berupa jejaring utang satu sama lain. Orang-orang tidak berperilaku sebagai individu yang mau menang sendiri, setidaknya dari perspektif transaksi tunggal; justru mereka akan membagi makanan, pakaian dan barang mewah lainnya, dan meyakini bahwa rekannya tersebut akan membalas kebaikan ini kelak. Ketika kita menimbang asal dari utang dan kredit, sebagai sebuah sistem dari bantuan satu sama lain antara orang-orang yang saling percaya, tidak mengejutkan bahwa banyak kebudayaan memandang penerapan bunga adalah sesuatu yang salah secara moral.

Lebih jauh lagi, ekonom seperti Jose Scheinkman dan Edward Glaeser telah menuliskan bahwa hukum riba juga berperan sebagai asuransi sosial yang menurunkan ketidaksetaraan. Karena penerapan bunga (khususnya yang mencekik) dikutuk, orang miskin dapat menarik pinjaman darurat dengan biaya murah, dan orang kaya tidak akan mudah dan pasif mengembangbiakkan kekayaan mereka. Teorinya seperti itu, meskipun pada kenyataannya orang-orang sering meminta bantuan rentenir atau Yahudi yang berada yang secara harafiah sering disamakan dengan setan karena praktik lintah daratnya.

Beberapa sejarawan dan ekonom berpendapat bahwa tabu riba lebih tentang kinerja ketimbang kenyataan. Mereka berpandangan bahwa kelas yang diuangkan seringkali lalai terhadap larangannya, bukan karena dia menyebabkan sebuah kedermawanan yang tidak realistis. Saudagar dan bankir memiliki berbagai macam taktik untuk menyamarkan pembayaran bunga; salah satunya adalah dengan menyetujui harga yang dimahalkan untuk pembayaran di masa depan. Atau pemberi pinjaman membuatnya tanpa bunga, namun dijanjikan pembagian keuntungan dari bisnis si peminjam. (ini sebenarnya sebuah lubang celah, tapi tetap memastikan bankir dibayar hanya jika pinjamannya menguntungkan si peminjam.)

Sementara itu, Gereja Katolik memainkan perannya untuk menyemai benih dari perubahan sikap. Pada abad ke-13, mereka memperkenalkan konsep Purgatori, tempat yang tidak disebutkan dalam naskah suci tapi menawarkan sebuah penentraman hati bagi mereka yang telah berbuat dosa riba setiap harinya. ‘Purgatori hanyalah salah satu kedipan menggoda yang Kristianitas berikan kepada para penikmat riba,’ tulis sejarawan Jacques Le Goff di buku Your Money or Your Life: Economy and Religion in The Middle Ages (1990).’ Harapan untuk terbebas dari Neraka, berkat Purgatori, mengizinkan penarik riba untuk mendorong laju perekonomian dan masyarakat pada abad ke-13 menuju kepada kapitalisme.

Bahkan ketika pendeta seperti Kardinal de Vitry berkhotbah tentang siksaan api neraka menentangriba, pihak Gereja sendiri perlahan-lahan semakin tergoda untuk meminjam uang. Utang menjadi esensial untuk menghadapi perang, yang sama-sama dibutuhkan oleh Paus dan pihak kerajaan sebagai bentuk pendanaan. Bank swasta pertama di Eropa didirikan pada tahun 1100-an oleh Ksatria Templar, sebuah ordo militer Katolik yang bertarung di Perang Salib. Ksatria Templar melindungi para peziarah yang berkunjung ke Tanah Suci, dan perlindungan ini mencakup juga pengamanan terhadap uang peziarah dengan cara mendepositokan uang mereka di Eropa dan menariknya di Tanah Suci. Seiring berjalannya waktu, para Templar menawarkan lebih banyak lagi jasa keuangan; salah satunya pinjaman yang mengandalkan Permata Mahkota sebagai jaminannya. Ksatria Templar bubar pada tahun 1312, namun bankir-bankir lain melanjutkan praktik peminjamannya hingga tahun 1500-an ketika saudagar-saudagar mulai memperjualbelikan utang bisnis di seantero Eropa.

Belakangan raja-raja, politikus, dan pebisnis menyambut baik penggrosiran riba , dan Gereja berpura-pura menutup mata. Pada tahun 1462, pendeta-pendeta Fransiskan di Italia menciptakan pegadaian non profit pertama atau monti di pieta (bank kesalehan), yang menyebar ke seluruh Eropa. Idenya seperti Grameen Bank di Italia pada Renaissance, pemberi pinjaman paling akhir, menggantikan lintah darat yang memeras peminjam yang putus asa. Sri Paus kemudian mulai memberi restu terhadap lebih banyak lagi instrumen finansial, sampai akhirnya secara efektif memperkenankan peminjaman dengan bunga.

Meskipun terdapat banyak celah dan pengecualian, hukum riba masih bertaring. ‘ Adalah kesalahan untuk menganggap penyisiran Gereja terkait pelarangan riba sebagai Hukum Volstead yang dihargai hanya oleh sebagian orang yang terkadang ditekan bahkan diremehkan,’ tulis sejarawan ekonomi Sydney Homer dan Richard Sylla di buku A History of Interest Rates (2005). Jadi mengapa pelarangan terhadap riba perlahan memudar?

Satu interpretasi yang muncul adalah karena dia hanya sebatas dogma, sebuah kepercayaan belaka seperti pandangan bahwa Matahari mengelilingi Bumi, yang kekuatannya lenyap sejak Gereja Katolik terpecah belah dan kehilangan otoritas politiknya. Bayangkan Gereja sebagai sebuah bisnis, yang produk intinya adalah penyelamatan, berdasarkan pendapat ekonom seperti Robert B Ekelund dan Robert F Hebert. Ketika Gereja Katolik memegang monopoli di Eropa, pihak kependetaan dapat ‘menjual’ penyelamatan dengan harga tinggi, termasuk pelarangan yang ketat dan pembelian ‘pengampunan’, yang dapat dibeli oleh para lintah darat demi menghapuskan dosa mereka. Namun pada tahun 1500-an, dalam masa Reformasi, teolog seperti Martin Luther menolak praktik semacam ini. Mereka mendorong hubungan yang lebih langsung dengan Tuhan tanpa bergantung kepada pendeta sebagai perantara, dan mendirikan gerakan Kristen baru yang dikenal sebagai Protestanisme. Efeknya adalah menyudahi monopoli dari perusahaan yang ada sebelumnya. Karena faksi-faksi Kristen berkompetisi untuk mendapatkan penganutnya, hal ini mengarahkan kepada keyakinan yang berdasar pada ‘balapan menuju dasar’. Dan untuk meningkatkan daya tarik mereka, sekte-sekte meminta lebih sedikit kepada para penganutnya, atau dengan kata lain memperlemah posisi mereka terhadap riba.

Pendapat lain tentang penyebab riba jadi lebih tidak berdosa adalah: pembangunan ekonomi pada akhirnya memiliki lebih banyak manfaat ketimbang pengorbanannya. Pada abad ke-16 di Eropa, perekonomian sedang bergeser dari yang memusatkan pada pertanian lokal menjadi berpusat di perniagaan seperti di Florence. Ekspansi global membuat pinjaman serta investasi lebih menguntungkan, bahkan kedatangan emas dari Amerika Selatan menyebabkan inflasi. Dalam situasi seperti ini, biaya peluang dari tidak meminjamkan uang menjadi lebih tinggi lagi, demikian diutarakan Scheinkman dan Glaeser.

Lebih jauh lagi, penyebaran perbankan mentransformasi kredit secara besar-besaran yang awalnya transaksi pribadi antara tetangga menjadi sebuah pasar yang tidak berkepribadian dan kompetitif. Di buku The Idea of Usury (1949), sosiolog Benjamin Nelson berargumen bahwa pergeseran institusional ini membawa penduduk Eropa untuk melihat pinjam meminjam uang secara lebih positif saat Reformasi berlangsung. Luther menginterpretasikan ayat-ayat Injil tentang riba, khususnya yang mengutuk penerapan bunga kepada orang miskin, sebagai sebuah panggilan untuk bermurah hati. Pelaku riba berbuat dosa, menurut Luther, hanya jika tindakan mereka melanggar prinsip ‘lakukan yang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan’. Ketimbalbalikan ini berarti saudagar dan keluarga berada diperbolehkan untuk menerapkan bunga di antara mereka sendiri. Luther meminta kaum Kristiani untuk menawarkan bantuan kepada yang membutuhkan ketimbang pinjaman, tapi dia tetap menerima tarif bunga di bawah 5 persen.

Tentunya lebih baik kita menyingkirkan pendekatan moral terhadap keuangan ini? Dunia tanpa pembayaran bunga akan menjadi dunia di mana hanya sedikit orang memiliki akses terhadap dana yang mereka butuhkan untuk masuk kuliah, membeli rumah, atau memulai bisnis. John Calvin, tokoh pergerakan Reofrmasi Perancis, berpikir bahwa perbuatan rekan-rekan sebangsanya yang menaikkan harga dalam rangka mengambil keuntungan dari berdatangannya pengungsi Protestan di Jenewa adalah tidak bermoral; akan tetapi, seperti penaikan harga yang dapat merekrut lebih banyak pengemudi Uber di Tahun Baru, kita tahu bahwa harga tinggi juga bekerja sebagai sinyal yang menandai bahwa barang-barang dapat mengalir ke tempat mereka dibutuhkan.

Tapi kisah ini belum lengkap. Kebangkitan hutang bukan semata Gereja menundukkan badan terhadap sesuatu yang tak terelakkan. Anggota dari kependetaan berperan aktif dalam penciptaan pola pikir yang memungkinkan riba menjadi sesuatu yang terhormat.

Dari tahun 1100-an hingga 1500-an, kependataan dikenal sebagai Pembelajar yang memperdebatkan apakah peminjaman uang murni berdosa. Para Pembelajar dikenal sebagai kaum intelektual pada era tersebut. Mereka mempelajari hukum Romawi, filsafat Yunani, dan sains Arab di universitas di kota Paris, Koln, Wina, dan lainnya di seantero Eropa termasuk juga Thomas Aquinas y ang terkenal. Mereka menulis dan berpikir dengan ciri kerewelan yang menyerupai pengacara. Namun terlepas dari nada bicara yang tidak bersahabat, para Pembelajar dapat terdengar layaknya ekonom modern. Tidak seperti pemikir generasi sebelumnya yang meyakini bahwa harga seharusnya mencerminkan biaya produksi, banyak Pembelajar memahami kekuatan dari permintaan dan penawaran, dan berargumen bahwa harga yang adil adalah harga pasar. Dalam sebuah risalah, seorang Pembelajar ternama berkebangsaan Italia bernama Thomas Cajetan menganalisis etika tentang bagaimana bankir menyembunyikan pembayaran bunga dalam bentuk tingkat pertukaran yang dinaikkan. Hal ini setara dengan seorang kardinal pada tahun 2016 menulis dengan penuh kesadaran tentang sebuah credit-default swaps.

The Scholastics also recognised the value of taking business risks. Many of them sanctioned commercial loans to be repaid with a portion of profits. As long as the return was not guaranteed, because the venture could fail or collateral was unavailable, lenders deserved to keep the interest, they said. Some clergymen also realised that people who lent money were unable to use it on other profitable ventures. This is a very modern justification for permitting interest: opportunity cost. The price of borrowing money reflects the missed opportunity to invest it profitably elsewhere.

Para Pembelajar memandang keuangan dengan sangat serius, namun mereka selalu melihatnya sebagai terhubung dengan domain keadilan dan hukum alam. Aquinas tidak tertarik untuk menyempitkan pertanyaan tentang maksimisasi kegunaan atau penyaluran kepentingan pribadi individu, sebagaimana seorang ekonom modern; dia dan sejawatnya berkeinginan untuk mengetahui cara yang adil untuk mendistribusikan kekayaan dan bagaimana seseorang dapat memastikan pertukaran ekonomi berlangsung jujur. Di buku Summa Theologica (1265–74), misalnya, Aquinas berargumen bahwa tujuan alamiah dari uang adalah pertukaran. Menggunakan uang untuk membuat uang, bukannya memfasilitasi pertukaran barang dan jasa, justru melanggar hukum alam. Hal ini mirip dengan menjual anggur atau gandum yang membuatnya terpisah dengan hak untuk mengonsumsi barang-barang ini, misalnya menjualnya dengan harga dua kali lipat. ‘ Untuk menggunakan riba dalam hal peminjaman uang dengan sendirinya adalah tidak adil, sebab dia berupa menjual sesuatu yang tidak benar-benar ada; dan hal ini merupakan manifestasi dari pegaturan ketidaksetaraan yang bertentangan dengan keadilan,’ tulis Aquinas.

Pemikiran para Pembelajar dan pemuka agama lainnya tidak seluruhnya mengagumkan. Beberapa pendeta menolak untuk berpaling dari pemahaman Injil yang harafiah, dan yang lain menggunakan sentimen anti-Semit untuk menolak riba. Namun diskusi mereka mencerminkan debat yang berpengaruh serta memiliki informasi yang cukup, pada tingkatan tertinggi dari akademisi dan agamawan, tentang berkelindannya etika, utang, inflasi, keuangan tingkat tinggi serta monopoli. Di manakah hal-hal tersebut berada dewasa ini?

Para Pembelajar tidak pernah menyelesaikan ketidaksepakatan mereka. Justru mereka digantikan oleh otoritas baru dalam hal etika dan keuangan. Baru pada saat bangkitnya ekonomi neoklasik pada abad ke-20 yang menyatakan ekonomi sebagai bidang ilmu saintifik tentang kebutuhan sendiri dan insentif individu, domain di mana ekonom tidak menjatuhkan penghakiman terhadap pelaku pasar, sama halnya dengan seorang biologiwan tidak akan menghakimi moralitas dari lebah atau seorang insinyur menghakimi etika dari sebuah akuaduk.

Tentunya, orang-orang dewasa ini mendiskusikan etika dari keuangan. Kita mendebatkan apakah bankir berhak atas bonus yang besar; kita khawatir dengan dampak moral dari pemberian dana talangan terhadap bank, kita mengutuk bankir yang menjual instrumen finansial yang mereka tahu akan gagal. Tapi karena demikian banyaknya bahasa ekonomi yang amoral, dan dibangun dari asumsi bahwa setiap orang bertindak dalam kepentingan pribadi yang sempit, meminta keluaran setimpal dari keuangan terasa seperti mengharapkan hasil yang jujur dari perang. Kita telah kehilangan insting bahwa keuangan dan utang pada dasarnya adalah urusan moral, sesuatu yang dipahami para Pembelajar.

Jadi akan seperti apa cara pandang para Pembelajar terhadap keuangan modern? Akankah mereka mengagumi seberapa efisien tabungan keluarga dapat menghasilkan manfaat yang produktif? Atau mereka akan mencela bagaimana negara berkembang membayar lebih banyak untuk pinjaman dibanding negara kaya? Akankah mereka takjub dengan jangkauan bank-bank internasional zaman sekarang ? Atau mereka akan mengutuk bagaimana orang miskin perlu membayar untuk layanan perbankan misalnya pengecekan rekening yang justru didapatkan dengan gratis oleh orang kaya?

Bukan hal yang ganjil jika bank besar merekrut teologiwan seperti Miller, yang semestinya ganjil adalah jika kita beranggapan hal ini ganjil. Anomalinya justru adalah pembicaraan modern tentang pasar bebas yang tidak terkekang dan kepentingan pemilik saham. Ketika Miller berbicara kepada bankir dan eksekutif, mereka sering mengatakan bahwa mereka merasa apa yang dulu mereka pelajari di gereja atau sinagog sama sekali tidak mempunyai tempat di pekerjaan. Bahkan dia sendiri malu untuk menggunakan kata ‘panggilan’ ketika memberi tahu bekas rekan sekerjanya bahwa dia akan masuk seminari.

Tapi bukanlah otoritas sekuler atau relijius yang memberikan banyak panduan bagi bankir yang mencoba menghubungkan apa yang mereka lakukan dengan sebuah tradisi etis. Di sekolah seminari dan terdapat sebuah kealpaan total dari perhatian terhadap ekonomi dan pasar, ujar Miller. ‘Kependetaan bisa jadi cepat dalam menghujat dampak korporat di halaman depan,’ katanya kepada saya, ‘ tapi tidak banyak pekerjaan yang konstruktif.’ Publik mengritik bankir karena kegagalan etis mereka, tapi bankir sendiri telah digagalkan oleh otoritas etis kita sendiri.

Siapa pun yang tertarik untuk mengklaim tempat etika di dunia keuangan, dapat berpijak pada sebuah pondasi berusia ribuan tahun. Aristoteles, Kant, Bentham, apakah mereka semata orang-orang mati yang tidak mempunyai sesuatu pun yang menarik untuk ditawarkan?’ canda Miller. ‘ Atau mereka menyadari sesuatu? Ekonomi kita akan sulit mereka kenali. Tapi pertanyaannya masih tetap relevan.’

Original article: https://aeon.co/essays/how-did-usury-stop-being-a-sin-and-become-respectable-finance

Nawirisme

Written by

Nawirisme

Barangkali memang ada sebuah negeri yang ingin kita lepaskan tapi tak kunjung hilang

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade