Atas yang Sekelebat Lekat di Ingat
Tulisan ini adalah kumpulan reinterpretasi bebas atas karya beberapa kawan. Ini bukan sebuah tanggapan terhadap sang penulis, melainkan reaksi yang ada di kepala saya ketika membaca tulisan mereka. Tadinya di kepala saya, sekarang di kepala kalian.
1.
Reaksi atas Naufal Rofi Indriansyah dalam Transkrip Wawancara Orang Urban #1
“Mas, saya pesan macchiato satu, ya.”
“Lah, gelasnya kecil banget.”
“Long black, deh.”
“Boleh minta gula?”
“Di sini kita pakai beans Jawa Barat semua, Mbak.”
“Saya yang nggak pahit pokoknya.”
“Password-nya apa, ya?”
“udahpesenbelom”
2.
Reaksi atas Alvaryan Maulana dalam Relasi Kuasa
Tentang diri yang telanjang, tunggal, dan tanggal dari segala.
Pernah seorang kawan menjelaskan tentang konsep dari esensi dan substansi.
Kamu adalah bujur sangkar.
Substansi adalah panjang sisinya, ketebalan garisnya, warna sisinya, di mana letak x, berapa harganya, pahit atau maniskah, apa kabar, semalam dengan siapa, dll.
Esensi adalah empat sisi, panjang sisi yang sama, dan sudut siku-siku.
Kalau tiga sisi jadi segitiga, kalau panjang sebelah jadi persegi panjang, kalau lancip dan tumpul jadi belah ketupat.
Sudah menemukan empat sisi dan sudut sikumu?
3.
Reaksi atas Patricia Romasi dalam Aku, Senja, dan Bulan Juli
Entah kenapa, saya hendak membicarakan kesempurnaan.
Sempurna, menurut seorang sahabat dan guru hidup, dibentuk dari dua kata: sampun dan ‘purna’.
Sampun dalam bahasa Jawa artinya ‘sudah’.
‘Purna’ artinya ‘penuh’ atau ‘selesai’.
Sempurna bisa dimaknai secara sederhana sebagai ‘sudah selesai’ atau ‘sudah penuh’ — ‘cukup’. Namun, pada umumnya diartikan sebagai ‘utuh dan lengkap segalanya’.
Mungkin kesempurnaan justru hadir ketika sesuatu selesai, ketika sesuatu dicukupkan oleh semesta.
Mungkin saja sempurna bukanlah ketika kita merasa penuh dan punya segalanya, tetapi justru ketika kita sudah penuh dan mesti dikosongkan lagi.
Mungkin tak utuh dan tak memilikilah yang merupakan kesempurnaan.
Selamat bergabung, kalian.
4.
Reaksi atas Samuel gerald dalam The Art of Engineering
Mohon maaf lahir batin. Jiwa raga kami. Kuat mental dan fisik. Pakai otak, jangan cuma otot.
Tanpa disadari, kita selalu menyandingkan dimensi-dimensi fundamental kehidupan manusia ke dalam satu padanan yang seringkali aksiomatis, yakni fisik, perasaan, dan pikiran.
Dimensi-dimensi tersebut saya namakan raga, rasa, dan rasio.
Bagi saya, ketiga aspek tersebut adalah pilar utama kemanusiaan. Runtuh satu saja, pasti rusuh hidup ini. Rasa, dibandingkan raga dan rasio, merupakan aspek yang paling sulit untuk dilatih secara sadar sebab konsepnya yang abstrak dan elusif.
Pelajaran olahraga — seperti namanya — mengolah raga. Buku dan sekolah membuat orang pintar, mengasah rasionalitas dan memperkaya wawasan. Kalau olah rasa? Di kampus saya ada, silakan saja kalau mau ikut. Kapan lagi rasa diolah sampai mati rasa, kan? Maaf.
Intinya, rasa seringkali menjadi aspek dalam kehidupan manusia yang paling underdeveloped. Tak heran banyak warganet yang pintar tapi binatang, atau ada orang-orang kuat dan cerdas tapi gagal berperikemanusiaan. Kalaupun ada manusia dengan rasa yang unggul (baca: baik hati), pasti ditindas atau dikucilkan atau dimanfaatkan atau tidak ada.
Seni adalah cara paling mudah, dan utama, untuk mengolah rasa. Seni bukan hanya tentang penciptaan karya dengan proses kreatif, seni pada hakikatnya adalah tentang merasakan.
Seni memiliki arti halus, kecil, tipis, lembut, mungil, dan elok (KBBI).
Seni, seingat saya dari buku “Estetika Paradoks” oleh Jakob Sumardjo, berasal dari bahasa Sansekerta yaitu ‘sani’ yang artinya ‘pemujaan’, ‘persembahan’, atau ‘pelayanan’.
Estetika, yang sering ditautkan dengan seni, berasal dari kata Yunani aisthetikos yang berhubungan dengan persepsi oleh indera — sederhananya, bisa diindera dan dirasakan.
Dari pemaknaan tersebut, seni bukanlah tentang lukisan atau partitur. Seni seyogianya adalah cara manusia untuk berinteraksi dengan perasaannya dan menghaluskan kemanusiaan.
Mendalami seni bukan pilihan seperti memilih akuntansi atau geografi. Mendalami seni sama pentingnya dengan bisa berjalan dan membaca.
Seni yang menggenapi kemanusiaan dari pikiran dan tindakanmu.
Nayaka Angger
28 Agustus 2017
Coblong, Bandung
