Freud Bilang Ingat dan Lupakan

Pengingat Diri Tentang Ingatan

Tentang Kebaikan Tuhan Yang Dilupakan

Seorang kawan pernah berkata, “Bersyukur manusia itu pelupa, bayangin kalau manusia enggak bisa lupa”.

Mari hening sejenak dan bayangkan.

Kehilangan, masalah di rumah, pertengkaran, sakit hati, pengkhianatan, es krim yang jatuh, kematian orang tua, perpisahan, menjadi dewasa, kehabisan kopi, gagal kerja, hutang cicilan, rindu, tanggung jawab organisasi, kawan lama, masa lalu, tugas akhir.

Kalau manusia diciptakan untuk terus urung melupakan, kita, Anda dan saya, pasti mati pilu dirundung kenangan. Tuhan begitu baik sampai Ia mengizinkan manusia untuk lupa, untuk gagal mengingat, untuk melanjutkan hidup. Kadang kita hanya lupa bahwa lupa adalah anugerah.


Tentang Verdrängung dan Ilmuwan Pelupa

Sigmund Freud menyatakan bahwa lupa adalah sebuah tindakan represi. Mekanisme pertahanan psikologis manusia berusaha untuk mengarahkan hasrat dan dorongannya kepada sebanyak mungkin kesenangan dan sesedikit mungkin rasa sakit. Kenangan yang tidak menyenangkan, secara naluriah, akan ditundukkan dan digembalakan menuju alam bawah sadar. Poof!

Secara ilmiah, lupa adalah hilang atau termodifikasinya informasi yang sudah tersandi dan tersimpan dalam ingatan jangka panjang seseorang. Lupa adalah gagal mengingat. Manusia adalah makhluk pelupa, tetapi manusia adalah makhluk yang sejatinya mengingat namun seringkali gagal.

Ilmuwan bilang ada empat teori umum tentang lupa. Teori pertama adalah teori organic causes — sebab alamiah. Lupa bisa terjadi karena gangguan fisiologis terhadap otak seperti alzheimer, amnesia, dan dementia. Atau ketika Anda terbentur bola ping-pong lalu menjadi bodoh sampai sore.

Teori kedua adalah cue-dependent forgetting — hilangnya isyarat atau tanda tentang suatu informasi. Ini seperti mencari buku di perpustakaan nasional menggunakan katalog. Buku adalah “informasi”; nomor indeks buku adalah “tanda”. Lupa adalah tidak bisa menemukan buku itu karena nomor indeksnya tidak ada atau kita tidak mengetahuinya, tapi bagaimana pun, buku itu tetap ada. Jadi menurut teori ini, kita tidak pernah benar-benar lupa. Ingatan itu selalu ada, kita hanya kehilangan kuasa untuk mengingatnya.

“You can hide memories, but you can’t erase the history that produced them.” — Haruki Murakami, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage (2013)

Teori ketiga dinamakan teori interferensi. Teori ini menyatakan bahwa lupa adalah ketika informasi baru memengaruhi ingatan tentang informasi lama karena saling bercampur, tertukar, atau bingung sendiri. Yang lama bisa memengaruhi yang baru, yang baru bisa memengaruhi yang lama. Dari sini kita belajar bahwa lupa akan lebih mudah terjadi jika ada informasi baru, ingatan-ingatan baru.

Yang terakhir adalah teori trace decay — pembusukan jejak. Donald Hebb menyatakan bahwa ketika kita menerima informasi baru, informasi tersebut meninggalkan jejak kimiawi di saraf kita. Jika lama tidak diingat, jejaknya akan pudar. Makin sering diingat, jejaknya akan menguat dan pada akhirnya mengubah struktur sinapsis. Jadi, semakin dipikirkan, semakin membekas jejaknya — semakin ingin dilupakan, semakin susah dilupakan. Duh.


Tentang Kekayaan Bahasa Indonesia

Anda tahu terjemahan Inggris dari “ingatan”? Memory.

Anda tahu terjemahan Inggris dari “kenangan”? Memory.

Sama? Tidak juga. Sebenarnya itu hanya masalah pengetahuan kosakota bahasa Inggris yang dangkal. Kosakata mahasiswa tingkat akhir yang belum siap terjun ke dunia kerja. Tetapi, dari situ dapat kita pahami bahwa bahasa Indonesia begitu kaya sampai-sampai leluhur kita mengeluarkan usaha lebih untuk membedakan antara ingatan dan kenangan.

Kamus tidak mampu menjelaskan perbedaan antara keduanya, namun bagi saya, kenangan adalah ingatan yang diimbuhi dengan sentimen. Bayangkan seseorang yang kehilangan sahabatnya dalam sebuah kecelakaan pesawat. Kecelakaan pesawat adalah sebuah ingatan, kesedihan yang datang bersama ingatan tersebut adalah kenangan.

Terkadang, yang manusia lupakan hanya ingatan. Kenangan terus bertahan, ajeg dan lengang. Manusia bisa melupakan kata perpisahan, bercanda di pinggir jalan, pertengkaran kecil sepulang kuliah, kehilangan sahabat, omelan ibu; tapi perasaan di baliknya masih ada, kesedihan dan kebahagiaan itu tidak mau pergi. Akan ada malam-malam di mana kita hanya mampu merasakan getir yang tidak mampu kita cari tahu kenapa. Hanya meringkuk dan mengenang tanpa ingatan.


Tentang Seorang Manusia

Tuhan mengizinkan segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Ketika manusia lupa, pula ketika manusia mengingat. Selalu ada alasan.

Sekarang, saya mengerti kenapa getir ini tidak mau pergi, tapi saya belum paham satu hal.

Apakah Tuhan tidak mengizinkan saya untuk melupakan atau Tuhan mengizinkan saya untuk tidak melupakan?

“Masa lalu tidak pernah hilang. Ia ada tetapi tidak tahu jalan pulang. Untuk itu ia menitipkan surat — kadang kepada sesuatu yang tidak kita duga. Kita menyebutnya kenangan” — Aan Mansyur, Kukila (2012)

Rabu, 26 Juli 2017
Di kedai tempat menunggu

Nayaka Angger
Pengingat