Saligia

Bagimu Dosamu, Bagiku Dosaku

Setiap orang berhak untuk berdosa, pun ia berhak memilih dosanya sendiri. Silakan berdosa, tapi pilih satu saja. Satu jenis, bukan sekali.


Rokok Ke-18 dan Titik Balik

Sejak ibu mengusirku dari rahimnya, telah datang 22 orang kepadaku menyodorkan sebatang rokok beserta pemantik di tangan lainnya. Beberapa dari mereka adalah teman dekat yang membujukku untuk merokok karena merasa wajahku tidak pantas bila tidak mengepul asap, sedang beberapa lainnya adalah orang biasa yang menawarkan rokok sebagai formalitas sosial — juga karena wajahku begitu tidak pantas bila tidak merokok. Setiap kali pula aku menolak dengan halus sambil mengenyam wajah keheranan mereka ketika aku berkata, “Maaf, nggak ngerokok, Mas.” Begitu seterusnya, setidaknya sampai pada tawaran ke-18 dalam hidupku. Tidak ada yang berbeda dalam tawaran tersebut: rokok yang itu-itu saja, korek yang itu-itu saja, orang yang itu-itu saja. Namun entah kenapa, pada tawaran ke-18 ini aku diam sebelum menolak, berpikir entah tentang apa, lalu menjawab, “Nggak, ah. Gue punya dosa gue sendiri.”

“….”

Tidak ada yang berbeda terjadi setelah itu. Aku tetap tidak merokok, mereka tetap merokok. Seperti tidak ada yang aneh ketika aku menjawab hal tersebut dan tidak ada juga yang terlalu memikirkannya. Lalu pada malam yang sama, ketika akhirnya dingin merebah dan waktu melambat di tengah, neuron-neuron mulai berpacu. Setengah jam berlalu dengan kopi sanger dingin masih bersemayam utuh di gelas keramik putih jelek, mencoba menerawang alur pikir yang tadi membawaku ke pernyataan itu. Dan aku menemukannya, pengejawantahan dari sebagian besar prinsip hidupku yang secara tidak sadar menahkodai gerak-gerik nuraniku, yang tetiba menyeruak karena sebatang rokok.

Aku punya dosaku sendiri.

Pernyataan tersebut tidak bermaksud melabeli aktivitas merokok sebagai sebuah dosa. Namun, yang melatarbelakangi ucapan tersebut adalah persepsiku tentang mana yang baik dan buruk; lebih jauh lagi, seberapa besar kadar baik dan buruk yang bisa aku lakukan. Mungkin kalian tidak mengerti maksudnya apa. Ya, dulu aku juga tidak mengerti pikiranku sendiri sehingga malam itu aku memutuskan untuk tertidur saja di lantai.


Bersimpuh Berdosa

Siapa dari kita yang belum pernah berdosa? Terlepas dari definisi dosa, eksistensi Tuhan, kriteria baik dan buruk, atau dalih duniawi lainnya, setidaknya kita pernah melakukan kesalahan. Sejak manusia pertama dibuang ke bumi, dosa telah melekat menjadi sebuah hakikat. Lalu apa hubungannya dengan rokok tadi?

Aku selalu merasa bahwa merokok sangat menyusahkan — tanpa maksud menyinggung kawan-kawan perokok. Merokok mahal, bau, butuh korek dan tempat, beracun, membawa penyakit, juga belasan slogan lain di reklame pinggir jalan. Anggap saja hal-hal yang disebutkan barusan sebagai “keburukan” dari merokok, sehingga jika aku merokok, itu menjadi “keburukanku” — “dosaku”. Bukan dosa seperti larangan di kitab suci, tapi dosa seperti hal buruk yang kita lakukan.

Lalu kenapa aku berkata bahwa aku memiliki dosaku sendiri?

Mungkin secara tidak sadar nuraniku mengkalkulasikan dan menimbang dosaku sendiri yang sepertinya ketika itu sudah cukup menumpuk, baik dosa formal maupun informal. Ia melarangku untuk menambah lebih banyak “dosa”, yang dalam konteks ketika itu adalah untuk merokok. Sedangkan kata “dosaku sendiri” dalam pernyataan tersebut merujuk pada kebiasan-kebiasan buruk yang aku lakukan sebagai dosaku, yang kawan-kawanku lainnya tidak lakukan. Bukan bermaksud membanggakan, namun lebih seperti menjelaskan bahwa aku punya kebiasan burukku sendiri, kalian punya kebiasan buruk kalian sendiri, biarkan aku tetap dengan kebiasaan buruk ini, dengan dosa ini.

Kira-kira seperti itu proses pikir yang terjadi dalam dua detik keheningan sebelum aku mengucapkan penolakanku yang ke-18.

Sejak saat itu, pikiran-pikiran tersebut sering bermunculan, sampai kelamaan menjadi sebuah konsep. Konsep ini terinspirasi oleh insiden rokok ke-18, dilengkapi oleh sumber-sumber lainnya yang kurang terpuji. Entah penting atau tidak, aku percaya konsep ini menjadikanku manusia yang lebih baik dari ketika aku menolak rokok ke-17.


Saligia

Seven deadly sins.

Sebagian besar dari kalian pasti pernah mendengarnya (atau membacanya di manga, atau memainkannya di PS 2). Seven deadly sins atau tujuh dosa besar adalah sebuah konsep yang berkembang di barat pada sekitar abad ke-4 sebagai klasifikasi utama dosa dalam keagamaan Kristiani. Tujuh dosa besar ini dianggap sebagai akar dari seluruh jenis dosa-dosa lainnya, sehingga diklasifikasikan deadly. Sebab ketika seseorang berbuat dosa-dosa tersebut, keburukannya akan merembet kepada dosa-dosa turunannya. Sulit untuk menemukan referensi awal seven deadly sins, namun konsep ini berkembang seiring jaman sehingga sampai kepada tujuh dosa yang sekarang ada: kebanggaan (pride), keserakahan (greed), nafsu (lust), iri hati (envy), ketamakkan (gluttony), kemurkaan (wrath), dan kemalasan (sloth).

Terdapat mnemonic dari seven deadly sins yang digunakan pada abad pertengahan oleh gereja-gereja Katolik kala itu: Saligia. Saligia adalah akronim dari superbia (kebanggaan), avaritia (keserakahan), luxuria (nafsu), invidia (iri hati), gula (ketamakan), ira (kemurkaan), dan acedia (kemalasan). Untuk selanjutnya akan digunakan kata saligia menggantikan seven deadly sins, karena jauh lebih keren.

Secara religi, saligia dianggap sebagai suatu hal yang seyogianya dijauhi oleh setiap manusia. Sebab saligia akan merusak keseimbangan tatanan kehidupan manusia serta mengundang kemarahan Tuhan. Tetapi, menurutku saligia adalah sebuah pilihan dasar bagi manusia — bukan berarti aku adalah mahasiswa krisis identitas yang tidak beriman. Saligia terbentuk karena ketujuh dosa di dalamnya adalah dosa yang sangat mendasar, yang saking mendasarnya ia ikut membentuk karakteristik manusia secara umum, atau justru merupakan sebuah manifestasi tabiat dari evolusi manusia. Secara sederhana, setiap manusia terbukti memiliki kecenderungan yang sangat besar untuk melakukan dosa-dosa tersebut.

Jika dihubungkan dengan konsep “aku punya dosaku sendiri”, maka dosa-dosa yang kita “pilih” tersebut secara fundamental akan kembali pada satu dari tujuh dosa tersebut. Sehingga, kesimpulan konsep ini adalah:

“Setiap manusia memiliki kecenderungan besar untuk melakukan setidaknya satu dari tujuh dosa besar.”

Suka Tidak Suka, Pilih Satu

Kenapa harus memilih satu? Kalau memilih tujuh-tujuhnya, celakalah kita. Kalau pilih beberapa, masih cukup buruk. Kalau tidak memilih, tidak mungkin karena kita pasti berdosa. Sehingga memilih satu adalah pilihan terbaik yang menjembatani antara hakikat manusia untuk berdosa dan prinsip hidup manusia untuk menjauhi perbuatan buruk.

Aku tidak serta-merta memintamu untuk memilih sebuah dosa untuk dilakukan. Tetapi berdasarkan observasi penulis yang mungkin terkesan cocoklogi, setiap orang punya karakteristik uniknya masing-masing yang dapat dibedakan berdasarkan dari ketujuh dosa besar tersebut. Lihat saja, kalian pasti memiliki teman yang kelewat pemarah, teman yang selalu makan lebih banyak, teman yang tidak mau membagikan makanannya, teman yang membanggakan mantannya, teman yang mesum, teman yang sarkas ketika nilai kita lebih tinggi, atau teman yang tidak melakukan apa-apa. Kata “memilih” mungkin kurang tepat, lebih tepat “mengidentifikasi”.

Coba telaah lagi ke dalam diri, pasti ada satu jenis dosa yang sering kita lakukan. Kalau lebih dari satu, coba bertaubat dulu, lalu tentukan dosa mana yang cocok untukmu. Maaf jika seolah-olah penulis menyebarkan dogma sesat untuk berdosa sesuka hati. Namun, dengan pembatasan dosa ini, manusia akan mampu menghindari melakukan dosa-dosa lainnya dengan dalih psikologis “aku sudah punya dosaku sendiri”. Bukan berarti bahwa dosa yang dipilih bisa dilakukan sesukanya, tapi lebih sebagai penyadar bahwa kita telah berdosa dan pengingat untuk tidak menambahkannya lagi.

Jika dosamu adalah berbangga diri, maka sekiranya hindari enam dosa lainnya. Sombong saja, tapi jangan jadi orang yang pelit dan serakah, jangan iri terhadap orang lain, tahan amarah, kerja keras, dan jaga birahimu. Masuk akal? Tidak juga, tapi setidaknya itu membantumu mengendalikan diri dan mengenal jiwamu lebih jauh.

Terlepas dari seberapa tidak bernilainya tulisan ini, aku percaya bahwa setiap orang memiliki satu dari tujuh dosa besar itu. Namun satu dosa itu adalah kompensasi sementara dari semesta untuk membantumu menemukan kesejatian dalam hidupmu.

Berdosalah yang benar.


Sabtu, 6 Februari 2016
Ditemani hiruk pikuk janji senyap bulan
(S) dari 26 Maha Aksara

Nayaka Angger
Pendosa